METROPEKALONGAN.COM- Pengalaman pahit kerap menjadi titik balik hidup seseorang. Bagi Andre, pengalaman itu datang saat ia berusia 25 tahun.
Tanah keluarga yang telah ditempati puluhan tahun tiba-tiba diklaim pihak lain dan nyaris dieksekusi. Ironisnya, persoalan itu datang dari lingkar kerabat sendiri.
“Dari situ saya terpacu ingin belajar hukum. Saya merasakan langsung bagaimana rasanya berada di posisi orang yang tidak berdaya dan tidak mengerti hukum,” ujar Andre.
Baca Juga: Dari Ruang Sidang ke Parlemen, Jahirin Tetap Menjaga Nurani Hukum
Lahir di Depok pada 1989 dan besar di Jakarta, Andre sejatinya tidak pernah membayangkan menjadi advokat.
Ia justru menempuh pendidikan Jurusan Pariwisata di sebuah kampus di Bali. Ia bahkan sempat bercita-cita menjadi DJ (Disc Jockey).
Lingkar pergaulan dan dunianya kala itu jauh dari ruang sidang. Namun, dorongan seorang sahabat, yang lebih dulu menempuh pendidikan hukum, perlahan mengubah arah hidupnya.
Baca Juga: Profil Gus Anas Hidayatulloh: Sosok Suami Ning Umi Laila yang Viral Karena Kesederhanaannya
"Jadi dia sudah lulus Sarjana Hukum. Saya disarankan mengikuti jejaknya biar bisa bantu keluarga saya dalam sengketa itu tadi. Saya ikuti sarannya, dan ternyata itu jalan hidup saya,” ungkapnya.
Keputusan itu berbuah nyata. Setelah resmi menjadi advokat pada 2020, sengketa tanah keluarga tak lagi berlanjut.
Sejak itu pula Andre menekuni profesi advokat secara serius. Ia sempat bergabung dengan sebuah firma hukum di Jakarta.
Baca Juga: BI Tegal Gembleng Gen Z Batang Jadi Sosok yang 3 Smart
Ia masih ingat perkara pertama yang ia tangani, yakni kasus narkotika. Itu menjadi debutnya sebagai seorang advokat.
Dari Jakarta, angin meniupnya ke Pekalongan. Mula-mula Andre aktif di organisasi Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) Ranting Pakumbulan, Kabupaten Pekalongan.
Sampai kemudian dia pindah rumah ke Kabupaten Batang dan aktif di GP Ansor Ranting Terban.
Baca Juga: Sosok Gandi Dwi Bachtiar, Anak Penjual Sarapan, Kini Jadi Pengusaha Sablon Mandiri
Saat ini malah posisinya sebagai sekretaris di organisasi tersebut dan kerap memberikan konsultasi hukum gratis bagi warga desa yang menghadapi persoalan hukum.
“Ansor punya peran besar dalam hidup saya. Karena dari sana saya bisa berjejaring dengan banyak kalangan, kenal advokat-advokat lain, sampai dapat klien. Jadi saya harus mengabdi juga di Ansor," ucapnya.
Kini, Andre dikenal sebagai salah satu advokat muda yang aktif berpraktik di wilayah Pekalongan dan Batang.
Baca Juga: Sosok Zulfan Arinata, Temukan Passion Lewat Genre dan Layar Kaca
Sejauh ini, pengalaman paling monumental baginya adalah ketika Pilkada Kabupaten Pekalongan 2024.
Ia menjadi kuasa hukum salah satu pasangan calon (paslon) dalam perkara yang menyita perhatian publik, yakni kasus pelemparan batu dan bambu yang mengenai paslon (kliennya) saat kerusuhan massa di depan KPU.
Selain itu, Andre juga menangani kasus perampasan uang yang mencuat di tengah dinamika pilkada kala itu.
“Itu catatan sejarah penting dalam perjalanan karier saya. Karena dari situ, saya mulai dikenal luas di Pekalongan,” ungkapnya.
Dalam menjalani profesi advokat, Andre memahami betul dinamika klien dan risiko pekerjaan. Ia mengakui pernah tidak menerima success fee meski perkara berhasil diselesaikan. Namun, ia memilih tidak memperpanjang persoalan.
“Prinsip saya sederhana. Jangan sampai saya jelek di mata klien. Soal hak saya yang tidak diberikan, saya yakin pasti akan kembali, entah kapan dan dalam bentuk apa,” katanya.
Baca Juga: Pencari Belut Temukan Mayat Perempuan di Sungai Sipin, Ternyata Sosok Ini
Bagi Andre, menjadi advokat bukan soal kenyamanan, melainkan tanggung jawab moral.
Dari pengalaman pribadi hingga pengabdian di akar rumput, ia belajar bahwa hukum bukan sekadar pasal dan prosedur, melainkan alat untuk menjaga martabat dan rasa keadilan masyarakat.
Dari sanalah, Andre memilih tetap berdiri sebagai penjaga keadilan di jalannya sendiri. (nra/ida)
Editor : Ida Nor Layla