Berita Kota Pekalongan Kab. Pekalongan Kab. Batang Ekonomi Bisnis Haji Hiburan Hukum dan Kriminal Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Pemerintahan Politik Pendidikan Sosial dan Budaya Teknologi Wisata

Banjir yang Melanda Kabupaten Demak dan Memutus Jalur Transportasi Demak-Kudus, Mengingatkan Demak Dulunya Adalah Selat Muria

Ida Nor Layla • Selasa, 13 Februari 2024 | 17:41 WIB
EVAKUASI KORBAN BANJIR : Petugas gabungan mengevakuasi warga korban banjir dengan getek pohon pisang dan kendaraan taktis di jalan Pantura Karanganyar yang masih terendam air.
EVAKUASI KORBAN BANJIR : Petugas gabungan mengevakuasi warga korban banjir dengan getek pohon pisang dan kendaraan taktis di jalan Pantura Karanganyar yang masih terendam air.

METROPEKALONGAN.COM-Banjir telah menenggelamkan 38 desa di 7 kecamatan di Kabupaten Demak mulai Senin 2 Februari 2024 ini. Bahkan jalur transportasi Demak-Kudus pun lumpuh total. Bagi yang ingin ke Pati hingga Surabaya harus memutar melalui jalur Demak Welahan Jepara hingga Pati. Itupun harus dilalui dengan arus transportasi yang padat merayap. Banyak korban banjir butuh uluran tangan kepedulian.

Di tengah rasa pilu bencana alam ini, banyak warganet yang mengingatkan asal muasal Selat Muria. Bahkan sempat muncul kekhawatiran yang bertebaran di media sosial terkait kembalinya Selat Muria seperti masa silam.

Perlu diketahui, Selat Muria memang sebuah selat yang dahulu pernah ada. Bahkan selat tersebut menghubungkan antara Pulau Jawa dan Pulau Muria. Di tengah-tengah Pulau Muria berdiri kokoh Gunung Muria yang dikeliling kota-kota perdagangan. Di antaranya Kota Jepara, Kudus, Pati, dan Juwana. 

Dulunya Kota Demak adalah wilayah lautan. Sedangkan Kota Semarang, Purwodadi dan Rembang merupakan wilayah pesisir. Selat ini pernah menjadi kawasan perdagangan yang ramai.

Pada sekitar tahun 1657, endapan-endapan sungai dari Kali Jragung, Tuntang, Serang, Lusi, dan Juwana, terbawa hingga ke laut. Akibatnya Selat Muria ini semakin lama mengalami pendangkalan dan menghilang. Pulau Muria pun bergabung dengan Pulau Jawa.

SISIR KORBAN BANJIR : Petugas gabungan mengevakuasi warga korban banjir di Jalan Pantura Karanganyar yang masih terendam air.
SISIR KORBAN BANJIR : Petugas gabungan mengevakuasi warga korban banjir di Jalan Pantura Karanganyar yang masih terendam air.

Berdasarkan situs Wikipedia Indonesia, Selat Muria ini termasuk dalam dataran non-struktur utama. Artinya diperkirakan dalam sebuah periode pada masa lalu kawasan tersebut merupakan lautan.

1) Pada saat Selat Muria masih ada, terdepat sebuah pulau yang disebut Pulau Muria. Bentang alam Pulau Muria sendiri atas Gunung Muria yang terletak di tengah-tengahnya.

2) Sedangkan di bagian selatan terdapat perbukitan Patiayam yang terbentuk dari aktivitas vulkanik Gunung Muria pada masa lalu (beberapa contohnya adalah Maar Bambang, Maar Gunungrowo, dan Maar Gembong).

3) Catatan paleontologi menyebutkan, wilayah perbukitan Patiayam memiliki beragam fosil kerbau purba (Bos Bubalis Paleokarbau), banteng (Bos Bibos Paleosondaicus), famili rusa/Cervidae (Cervus Zwaani), famili babi hutan, gajah, gajah stegodon, famili kuda nil, famili harimau, famili penyu, dan fosil moluska.

4) Di pulau ini pula terletak kota-kota (tepatnya kecamatan) atau ibu kota kabupaten di kawasan Pantai Utara Jawa saat ini seperti Jepara, Kudus, dan Pati.

5) Pada masanya, di tepi Selat Muria terdapat pelabuhan perdagangan dengan berbagai komoditas seperti kain tradisional dari Jepara, garam dan terasi dari Juwana, serta beras dari wilayah pedalaman Pulau Jawa dan Pulau Muria.

6) Selain itu, karena adanya selat, menjadikan kawasan Selat Muria menjadi lokasi dari galangan-galangan kapal yang memproduksi kapal Jung Jawa berbahan kayu jati yang banyak ditemukan di Pegunungan Kendeng yang terletak di selatan selat. Adanya industri galangan kapal membuat posisi kawasan ini lebih kaya dibanding pusat Kerajaan Majapahit. Karena itu, kawasan ini dijuluki oleh Tomé Pires (seorang penulis Portugis) sebagai "penguasa jung".

7) Awalnya, kawasan ini terdiri atas pelabuhan-pelabuhan kecil di sekitar selat dengan Demak sebagai pelabuhan utama. Namun karena adanya konflik politik, maka komoditas yang berasal dari daerah sekitar Selat Muria (Pulau Muria dan Pegunungan Kendeng) beralih menuju ke Pelabuhan Sunda Kelapa.

8) Selain itu, pada laporan pada tahun 1657 menyebutkan, endapan fluvial dari sungai-sungai yang bermuara ke Selat Muria seperti Kali Serang, Sungai Tuntang, dan Sungai Lusi mengakibatkan pendangkalan. Akibatnya selat sudah tidak bisa dilintasi kapal-kapal besar. Pusat perdagangan sempat dipindahkan ke Jepara.

9) Karena pendangkalan ini, Tumenggung Natairnawa dari Pati sempat memerintahkan untuk menggali endapan di selat tersebut. Namun endapan semakin cepat menghilangkan Selat Muria. Pada masa-masa akhir keberadaan Selat Muria terdapat saluran air yang dapat dilewati perahu-perahu kecil yang kini disebut Kalilondo.

10) Sisa dari Selat Muria dapat dilihat dengan sebuah sungai yang disebut Kalilondo yang membentang dari Juwana di sebelah timur hingga ke Ketanjung di sebelah barat. Beberapa sungai juga terbentuk dari bekas Selat Muria seperti Sungai Silugunggo yang melintasi wilayah Kabupaten Pati.

11) Di kawasan ini pula sering terjadi penemuan reruntuhan perahu, kapal, dan meriam yang menjadi bukti adanya selat di kawasan ini. Selain itu kawasan yang dulunya adalah Selat Muria ini sering dilanda banjir saat musim penghujan. (*/ida)

Editor : Ida Nor Layla
#banjir bandang #bencana alam #banjir demak #Selat Muria