METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan - Suasana pagi di Kelurahan Krapyak, Kota Pekalongan, berbeda dari biasanya.
Di dua gang sempit, yakni Gang 1 dan Gang 8, ribuan warga rela berdesak-desakkan sejak subuh.
Jalanan yang biasanya lengang seketika berubah jadi lautan manusia.
Mereka datang bukan untuk unjuk rasa atau belanja murah, melainkan untuk merayakan tradisi yang sudah hidup lebih dari setengah abad.
Yakni Syawalan Lopis Raksasa.
Tradisi ini bukan hanya tentang makanan, tapi tentang rasa syukur, gotong royong, dan kebanggaan akan warisan budaya.
Acara ini selalu digelar seminggu setelah Hari Raya Idul Fitri.
Warga Krapyak dan sekitarnya berkumpul menyaksikan momen sakral pemotongan kue lopis.
Yakni, panganan khas berbahan ketan dan kelapa yang dibuat dalam ukuran luar biasa besar.
Baca Juga: Festival Balon Pekalongan 2025, Langit Penuh Warna, Satukan Tradisi dan Inovasi
Tahun ini, Krapyak kembali mencatat sejarah.
Di Gang 8, warga berhasil membuat lopis dengan berat 2.041 kilogram, lingkar 250 sentimeter, dan tinggi 235 sentimeter.
Sedangkan di Gang 1, lopis raksasa tak kalah mengesankan dengan berat 2,1 ton, tinggi 255 sentimeter, dan diameter 75 sentimeter.
Kedua karya kuliner ini menyita perhatian publik dan mencetak prestasi.
Salah satunya kembali meraih penghargaan dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI).
Wali Kota Pekalongan HA Afzan Arslan Djunaid, hadir bersama istri, jajaran Forkopimda, dan pejabat daerah.
Dalam kesempatan tersebut, walj kota didaulat untuk melakukan pemotongan pertama.
Dalam sambutannya, ia menyatakan kekagumannya atas kekompakan dan semangat masyarakat.
Baca Juga: Cegah Bahaya di Langit dan Permukiman, Polres Pekalongan Kota Razia Balon Liar dan Petasan
“Hari ini sangat luar biasa. Antusiasme warga, sambutan warga, dan kerja sama lintas generasi untuk menjaga tradisi ini, sangat membanggakan. Lopis ini bukan sekadar makanan, tapi simbol kebersamaan,” ujar Aaf panggilan akrab wali kota dengan bangga.
Wakil Wali Kota Hj Balgis Diab juga mengungkapkan rasa syukur atas kelangsungan tradisi yang semakin dikenal luas ini.
“Ini bukan hanya tentang berbagi makanan, tapi berbagi nilai. Nilai persaudaraan, kebersamaan, dan rasa syukur setelah bulan Ramadan,” ungkapnya.
Baca Juga: Arus Mudik dan Balik Lebaran 2025 Lancar, Pemerintah Apresiasi Petugas di Pos Tol Pekalongan
Kue lopis raksasa ini tidak datang dari dapur pabrik.
Ia lahir dari dapur tradisional warga yang dibangun di tengah gang.
Proses pembuatannya pun tidak main-main.
Dibutuhkan lebih dari setengah ton beras ketan, satu mobil pickup kelapa parut, serta satu truk kayu bakar untuk memasaknya.
Total waktu yang dihabiskan mencapai lima hari penuh, dengan sistem jaga bergilir antarwarga.
Ketua Pelaksana Tradisi Lopis Krapyak, Muhammad Zuhdi Assyauqi mengatakan, tantangan terbesar tahun ini adalah ukuran lopis yang lebih besar dari tahun-tahun sebelumnya.
Baca Juga: Serunya Lomba Langenan Ban di Desa Kecepak, Tradisi Lebaran Menyatukan Warga
“Kami bahkan harus memodifikasi kembali dandang besar untuk memasak adonan. Ini bukan hanya kerja fisik, tapi juga kerja hati,” katanya.
Bagi warga Krapyak, Syawalan bukan hanya momen meriah.
Ini adalah waktu sakral, ketika rasa syukur atas keberkahan Ramadan dan kemenangan Idul Fitri dirayakan secara komunal.
Baca Juga: Menghasilkan Pendapatan dari Facebook Pro, Ini Panduan Lengkap Kerjasama dengan Brand
Dalam kepercayaan lokal, siapa yang mendapatkan potongan lopis, meskipun hanya secuil, akan mendapatkan berkah dan kelancaran rezeki.
Tak heran, ribuan orang rela berdesak-desakkan untuk bisa ikut serta dalam ritual pembagian lopis.
Banyak yang datang dari luar kota seperti Batang, Kendal, Tegal, bahkan Semarang.
Mereka datang membawa harapan—dan pulang membawa cerita.
“Saya setiap tahun ikut Syawalan di Krapyak. Walaupun berdesak-desakan, tetap seru dan penuh makna. Rasanya kalau belum dapat lopis, Lebaran belum lengkap,” ujar Hajar, warga Batang.
Tradisi ini kini telah menjelma menjadi daya tarik budaya dan wisata, bukan hanya bagi warga lokal tapi juga nasional.
Pemerintah Kota Pekalongan terus mendorong pelestarian tradisi ini sebagai bagian dari identitas kota batik.
Wali Kota Aaf menyebutkan tradisi ini sebagai potensi budaya yang bisa dikembangkan lebih luas.
“Kami ingin ini tidak hanya menjadi tontonan tahunan, tapi juga ikon budaya yang mendunia. Ini adalah ekspresi keindonesiaan, khas Pekalongan,” tuturnya.
Baca Juga: Libur Lebaran 2025, Wisatawan di Pemalang Membeludak! Polisi Patroli Jalan Kaki Jaga Keamanan Pantai
Dalam setiap potongan lopis, tersimpan nilai-nilai luhur: dari kebersamaan warga, keterlibatan lintas generasi, hingga pelestarian tradisi yang tak lekang waktu.
Festival ini tidak hanya membuat kenyang, tapi juga mengenyangkan jiwa—mengajarkan tentang pentingnya menjaga budaya, merawat warisan, dan hidup dalam harmoni.
Kota Pekalongan kembali membuktikan, bahwa di tengah zaman modern, tradisi tidak perlu ditinggalkan.
Justru, ketika ia dipeluk erat dan dirayakan bersama, tradisi bisa menjadi wajah masa depan yang penuh warna. Dan lopis raksasa, sekali lagi, menjadi simbolnya. (han/ida)
Editor : Ida Nor Layla