Berita Kota Pekalongan Kab. Pekalongan Kab. Batang Ekonomi Bisnis Haji Hiburan Hukum dan Kriminal Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Pemerintahan Politik Pendidikan Sosial dan Budaya Teknologi Wisata

Belajar dari Banyumas, Pekalongan Siap Bangkit dari Krisis Sampah dengan Sistem Terintegrasi

Lutfi Hanafi • Minggu, 20 April 2025 | 22:39 WIB
KUNJUNGAN - Wakil Walikota Pekalongan H Balgis Diab saat kunjungan studi banding sampah di Kabupaten Banyumas Rabu (16/4/2025).
KUNJUNGAN - Wakil Walikota Pekalongan H Balgis Diab saat kunjungan studi banding sampah di Kabupaten Banyumas Rabu (16/4/2025).

METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan – Pemerintah Kota (Pemkot) Pekalongan semakin serius dalam menangani persoalan darurat sampah.

Sebagai bentuk kesungguhan, Wakil Wali Kota Pekalongan Hj. Balgis Diab memimpin langsung kunjungan studi banding ke Kabupaten Banyumas pada Rabu 16 April 2025.

Tujuannya jelas, menyerap ilmu dari daerah yang sudah terbukti sukses mengelola sampah secara terintegrasi.

Lokasi yang dikunjungi meliputi Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Kedungrandu dan Tempat Pembuangan Akhir Berbasis Lingkungan dan Edukasi (TPA BLE) Kalibagor.

Dua tempat ini bukan hanya simbol pengelolaan sampah modern, tapi juga menjadi contoh terbaik tingkat Asia Tenggara.

“Banyumas sudah terbukti mampu mengelola sampah dari sumber hingga akhir, bahkan mendapat pengakuan internasional. Kami belajar langsung ke sini agar bisa mengadopsi sistem yang sama untuk diterapkan di Pekalongan,” jelas Balgis.

Baca : Kota Pekalongan Perang Terbuka Terhadap Sampah Liar, Siapkan Sanksi Berat dan Angkut Sampah dari Rumah Warga 

Keberhasilan Banyumas terletak pada sistem yang menyentuh akar persoalan—yakni dari rumah tangga.

Masyarakat dilibatkan aktif dalam memilah sampah organik dan anorganik sejak dari sumbernya.

Inovasi unggulan seperti aplikasi Salinmas (Sampah Online) memfasilitasi warga untuk menjual sampah kepada Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM).

Aplikasi ini mempercepat proses pengumpulan dan pendaurulangan sampah. 

Pengangkutan sampah juga diatur dengan pola layanan berbeda, setiap 3 hari untuk rumah tangga, setiap hari untuk rumah makan, dan setiap 10 hari untuk instansi.

Sistem ini didukung oleh keberadaan TPS di lokasi-lokasi strategis.

TPST di Banyumas telah dilengkapi dengan teknologi pirolisis—mesin pembakar sampah di atas suhu 800 derajat Celcius yang ramah lingkungan.

Sementara TPA BLE tak hanya berfungsi sebagai tempat akhir, tapi juga menjadi pusat edukasi lingkungan, dengan fasilitas kolam renang, budidaya magot dan lele, hingga pabrik daur ulang plastik.

Menanggapi penutupan TPA Degayu oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Pekalongan kini dalam kondisi darurat sampah.

Namun, Wawalkot Balgis optimistis. Ia menyampaikan komitmen pemerintah untuk mereplikasi keberhasilan Banyumas, dengan adaptasi sesuai kebutuhan kota.

“Kunci keberhasilan ada pada pengelolaan dari hulu ke hilir. Kami ajak masyarakat Pekalongan untuk memilah sampah dari rumah, karena perubahan besar dimulai dari tindakan kecil,” ungkapnya. 

 

Ia juga meminta doa serta dukungan masyarakat agar transformasi pengelolaan sampah di Kota Pekalongan dapat berjalan lancar dan berdampak luas. (han/ida)

Editor : Ida Nor Layla
#kota pekalongan #tpst #TPA Degayu #Krisis Sampah #banyumas