Berita Kota Pekalongan Kab. Pekalongan Kab. Batang Ekonomi Bisnis Haji Hiburan Hukum dan Kriminal Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Pemerintahan Politik Pendidikan Sosial dan Budaya Teknologi Wisata

Destinasi Wisata Guci Tetap Aman, Namun Kunjungan Wisatawan Turun, Sumber Perekonomian Warga Terganggu

Ida Nor Layla • Sabtu, 14 Februari 2026 | 16:11 WIB
SEPI : Sejumlah kios pedagang di Taman Wisata Pemandian Air Panas Guci memilih tutup semenjak lokasi wisata diterjang banjir bandang.
SEPI : Sejumlah kios pedagang di Taman Wisata Pemandian Air Panas Guci memilih tutup semenjak lokasi wisata diterjang banjir bandang.

METROPEKALONGAN.COM, Tegal - Taman Wisata Pemandian Air Panas Guci Kabupaten Tegal tampak ramai pada Minggu 14 Februari 2026.

Meski jumlah pengunjung tak sebanyak kunjungan wisatawan sebelum Guci diterjang banjir bandang dua kali. Pagi itu membuktikan bahwa Wisata Guci tetap aman untuk dikunjungi.

Banjir bandang memang telah memporak-porandakan destinasi wisata populer Guci di lereng Gunung Slamet, tepatnya di bantaran Sungai Gung yang menjadi batas wilayah Desa Rembul (Bojong) dan Desa Guci (Bumijawa) Kabupaten Tegal. 

Dengan sumber air panas alami tanpa belerang ini memiliki ikon utama, yakni Pancuran 13 dan Pancuran 5. Kolam pemandian umum ini paling terkenal dengan air panas yang mengalir terus menerus dari sumber alaminya.

Sumber air panas tersebut sangat jernih, tidak berbau, dan tidak berasa. Diyakini berkhasiat menyembuhkan penyakit kulit dan pegal-pegal. Kawasan ini berudara dingin, sehingga cocok untuk relaksasi.

Sebelum diterjang banjir bandang, tersedia kolam renang dewasa dan anak, taman, spot foto, hingga penginapan (vila) di sekitar lokasi.

Kala itu, harga tiket masuk Pancuran 13 sekitar Rp 25.000 - Rp 27.000 per orang. Tersedia juga opsi pemandian pribadi/Vila dengan harga bervariasi, seperti Villa Guci Garden atau Rindu Alam.

Namun semenjak diterjang banjir bandang, kedua ikon pancuran tersebut memang berubah bentuk karena infrastruktur tempat pemandian hancur, langsung sepi wisatawan.

AIR PANAS : Kondisi Pancuran 5 yang menjadi salah satu ikon Destinasi Wisata Pemandian Air Panas Guci Kabupaten Tegal pasca bencana banjir bandang beberapa waktu lalu.
AIR PANAS : Kondisi Pancuran 5 yang menjadi salah satu ikon Destinasi Wisata Pemandian Air Panas Guci Kabupaten Tegal pasca bencana banjir bandang beberapa waktu lalu.

Apalagi dengan gencarnya pemberitaan dan postingan di media sosial yang menggambarkan kengerian pascabencana, membuat banyak orang takut ke Guci.

Bahkan beberapa jadwal acara di sekitar Guci banyak yang di-cancel. Jumlah wisatawan menurun drastis, karena banyak pengunjung yang mengurungkan niatnya.

Karena itulah Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tegal menggratiskan tiket masuk Guci. Minimal dua bulan pascabencana. Ini dinikmati beberapa wisatawan lokal yang tak memiliki kekhawatiran menikmati wisata di Guci pascabencana banjir bandang.

Para wisatawan bisa mandi sepuasnya karena gratis. Termasuk para anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) di seluruh wilayah Jawa Tengah (Jateng) yang merayakan Hari Pers Nasional (HPN) tahun 2026 ini di destinasi Wisata Guci Tegal pasca banjir bandang. 

Bersama wisatawan domestik lainnya, para wartawan menikmati pemandian air panas di Pancuran 13 yang menawarkan kejernihan air hangat dan nuansa alam yang rimbun. Suasana terasa alami, banyak bebatuan bekas terbawa arus air banjir bandang yang memenuhi alur sungai. Tapi hal itu masih aman untuk wisatawan.

JEMBATAN DARURAT : Warga dan petugas dari UPTD Pariwisata Disporapar Kabupaten Tegal bahu membahu membangun jembatan darurat sebelum dibangun jembatan permanen.
JEMBATAN DARURAT : Warga dan petugas dari UPTD Pariwisata Disporapar Kabupaten Tegal bahu membahu membangun jembatan darurat sebelum dibangun jembatan permanen.

Sedangkan di sisi lainnya, warga setempat bersama Pegawai UPTD Pariwisata Guci Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kabupaten Tegal, bahu membahu membuat jembatan darurat dari bambu untuk menghubungkan dua desa, yakni Rembul dan Guci.

Jembatan penghubung yang permanen sebelumnya telah musnah diterjang banjir bandang pada 24 Desember 2025, namun tak sampai merusak infrastruktur setempat, baru pada kejadian 28 Januari 2026 yang menerjang hebat hingga infrastruktur rusak parah.

Sedangkan di Pancuran 5 hanya ada beberapa pengunjung yang mandi dan memandikan anak balitanya. “Banjir bandang memang telah memporak-porandakan Pancuran 13 dan Pancuran 5. Namun Guci tetap ramah untuk dikunjungi wisatawan,” kata staf UPTD Pariwisata Disporapar Kabupaten Tegal Agung Riyadi kepada wartawan. 

Di sisi lain, di dekat Pancuran 13 dan Pancuran 5 ini ada 159 kios pedagang yang 11 rusak parah karena persis di bantaran Sungai Gong. Termasuk ada puluhan orang pedagang asongan yang di antaranya menjual kopi panas keliling, menjual rokok, tisu, mi seduh, dan lainnya. Mereka semua terdampak.

PANCURAN 13 : Beberapa pengunjung memanfaatkan kesempatan mandi air panas di Pancuran 13 Guci pascabencana banjir bandang beberapa waktu lalu.
PANCURAN 13 : Beberapa pengunjung memanfaatkan kesempatan mandi air panas di Pancuran 13 Guci pascabencana banjir bandang beberapa waktu lalu.

Sebagain besar kios di lokasi tersebut tutup. Meski masih ada beberapa kios yang buka, tapi hanya Sabtu dan Minggu. Afip, pemilik Anam Jaya Oleh Oleh Khas Guci ini hanya maemnuka kiosnya pada Sabtu dan Minggu. Selebihnya memilih kerja serabutan, yang penting ada pemasukan.

“Sepi pengunjung menyebabkan jualan saya juga sep. Kalau buka gini, memang ada satu dua orang yang beli. Tapi tak seramai sebelumnya,” tuturnya prihatin.

Demikian halnya dengan Lukman, pramuniaga di Kios Batik Anak merasakan, kini ada yang beli satu dua, Alhamdulillah. Dulu pendapat perhari bisa jutaan. “Tapi yang tahu pendapatan pastinya bos saya,” katanya.

Berbeda dengan Kadir, warga Desa Rembul yang menjadi pedagang keliling menjual kopi panas dan mi seduh ini tampak sibuk melayani pembeli. Meski sedang sepi wisatawan, namun dirinya terus bersyukur, jualannya tetap laku. Meski hanya meraup Rp 100 ribu per hari, itu sudah Alhamdulillah. “Sebelum ada banjir bandang, pendapatan bisa lebih banyak dari ini,” tuturnya.

Karena kondisi tersebut, mendorong Bupati Tegal H Ischak Maulana Rohman terus mencari terobosan. Pihaknya menyadari destinasi wisata pemandian air panas Guci Tegal ini tak hanya destinasi wisata unggal Pemkab Tegal, tapi juga destinasi wisata unggulan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah (Jateng).

Namun yang membuatnya prihatin saat bencana mengguncang Guci, tak ada tagar “Pray for Guci”, tapi banyak yang memandang negatif. Termasuk adanya bencana susulan tanah bergerak. 

Karena itulah, pihaknya berusaha mengangkat Wisata Guci secara positif dengan menggratiskan tiket masuk hampir satu bulan ini. “Ini dalam rangka meningkatkan perekonomian Guci. Tak hanya mengandalkan pesona alam, tapi destinasi wisata ini menjadi i ladang rezekinya ribuan orang di Guci “ tandasnya.

Kendati begitu, pihaknya merasa bersyukur telah mendapatkan perhatian dari Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, Menteri Pekerjaan Umum, Gubernur Jateng Ahmad Luthfi, dan beberapa anggota dewan. 

“Guci tetap aman untuk dikunjungi. Kami akan segera melakukan recoveri Pancuran 13 dan Pancuran 5, termasuk membangun jembatan. Tak hanya jembatang penghubung, tapi jembatan yang Instagramable, yang menawarkan sport foto yang bagus,” janjianya.

Orang nomor satu di Pemkab Tegal dan masih sangat muda ini, mengingatkan kepala desa setempat untuk mengatur pipa air panas yang rapi dan terintegrasi. “BUMDES BUMDES jangan asal ngeblok aliran pipa, harus diatur yang rapi,” ingatnya saat acara HPN di Penginapan Guci Asyafana Kabupaten Tegal.

Ditambahkan Kapolres Kabupaten Tegal AKBP Bayu Prasetyo memastikan tak ada warga terdampak banjir bandang. Dan Guci hingga kini tetap aman. “Meski begitu perlu perbaikan pipa air, (pipa air Pancuran 13 dan Pancuran 5, red),” tandasnya.

Sementara itu, Kepala Disporapar Kabupaten Tegal Akhmad Uwes Qoroni menambahkan, pihaknya butuh dukungan dalam meningkatkan sektor wisata, terutama setelah terdampak bencana banjir bandang dan tanah bergerak.

Pasalnya destinasi wisata Guci sejak tahun 2020 selalu konsisten membukukan pendapatan retribusi rata rata Rp 1,2 miliar tiap tahun. Namun sejak ada bencana banjir bandang,  namun sejak terjadi bencana hanya membukukan Rp 700 .

“Untuk mengembalikan kejayaan wisata Guci, kami akan segera memperbaiki Pancuran 13 dan Pancuran 5, serta memperbaiki jembatan dan plang Wisata Guci,” tegasnya. (ida)

Editor : Ida Nor Layla
#wisata guci tegal #banjir bandang #kabupaten tegal #pemandian air panas alami