Berkat JKN, Eka Selamat dari Bayang-Bayang Biaya Terapi Sang Anak

Puput Puspitasari • Dipublikasikan Kamis, 2 April 2026 | 15:04 WIB
Dua kali dalam sepekan, Eka Yulianda Sari, mengantar anaknya menjalani terapi okupasi di RSUD Tidar Kota Magelang. (ISTIMEWA)
Dua kali dalam sepekan, Eka Yulianda Sari, mengantar anaknya menjalani terapi okupasi di RSUD Tidar Kota Magelang. (ISTIMEWA)

 

METROPEKALONGAN.COM, Magelang – Dua kali dalam sepekan, Eka Yulianda Sari, mengantar anaknya menjalani terapi okupasi di RSUD Tidar Kota Magelang. Rutinitas itu menjadi bagian penting dalam upaya mendukung tumbuh kembang anaknya yang kini berusia tiga tahun.

Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) menjadi penopang dalam proses tersebut. Terdaftar sebagai peserta segmen Pekerja Penerima Upah (PPU) melalui tempat kerja suaminya, Eka merasakan kemudahan akses layanan kesehatan tanpa terbebani biaya tambahan. Baginya, kepastian layanan menjadi hal yang penting di tengah kebutuhan terapi yang harus dijalani secara berkelanjutan.

“Anak saya menjalani terapi okupasi dua kali dalam seminggu, setiap Selasa dan Jumat. Saya sangat bersyukur karena bisa mendapatkan layanan terapi tanpa harus memikirkan biaya tambahan,” ujar perempuan 30 tahun itu.

Sebelum menjalani terapi di RSUD Tidar, Eka terlebih dahulu membawa anaknya ke Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP). Dari hasil pemeriksaan awal, ia memeroleh rujukan ke poli tumbuh kembang anak di rumah sakit tersebut. Proses rujukan yang berjenjang ini, menurutnya, tidak menyulitkan dan justru membantu memastikan anaknya mendapatkan penanganan yang sesuai.

“Pelayanan di puskesmas sangat membantu. Anak saya diperiksa, lalu diberikan rujukan ke poli tumbuh kembang anak. Setelah itu, kami mendapatkan jadwal terapi secara rutin,” tuturnya.

Terapi okupasi berperan dalam membantu anak mengembangkan kemampuan dasar dalam aktivitas sehari-hari, seperti makan, berpakaian, hingga berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Bagi anak dengan kebutuhan tertentu, terapi ini menjadi bagian penting dalam proses tumbuh kembang.

Eka menyadari bahwa perkembangan anak tidak selalu berlangsung cepat. Namun, setiap kemajuan kecil menjadi penanda bahwa terapi yang dijalani memberikan hasil. Dalam beberapa waktu terakhir, ia mulai melihat perubahan, meski sederhana, pada kemampuan anaknya dalam merespons lingkungan sekitar.

Dari apa yang telah menimpa buah hatinya, Eka kini semakin memahami pentingnya deteksi dini. Ia pun mendorong orang tua lain untuk tidak menunda pemeriksaan ketika menemukan tanda-tanda keterlambatan perkembangan pada anak. Menurutnya, kekhawatiran terhadap biaya kerap menjadi penghalang utama, padahal akses layanan kesehatan telah tersedia. Namun biaya itu tak lagi menjadi bayang-bayang gelap yang menyelimuti pikirannya. Semua rangkaian yang dijalani anaknya gratis dengan JKN. 

“Saya ingin orang tua lain tidak takut. Dengan JKN, anak-anak bisa mendapatkan pelayanan pengobatan dan terapi sesuai kebutuhan tanpa harus khawatir soal biaya,” katanya.

Eka berharap Program JKN tetap hadir seperti sekarang, memudahkan orang tua mengakses layanan kesehatan, terutama bagi anak-anak yang membutuhkan terapi tumbuh kembang. Baginya, yang terpenting adalah bisa terus mendampingi proses anaknya tanpa dibayangi kekhawatiran soal biaya. Meski pelan, setiap perkembangan yang terlihat menjadi penyemangat baginya. (*/put)

 

Editor : H. Arif Riyanto
magelang jaminan kesehatan nasional bpjs kesehatan Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)