Sekitar 600 buruh yang tergabung dalam Serikat Pekerja Nasional (SPN) mengikuti apel akbar di Jalan Pemuda. Kegiatan berlangsung tertib dan kondusif, diawali dengan apel yang dipimpin Wakil Wali Kota Pekalongan, Balgis Diab.
Wawalkot Balgis menekankan pentingnya menjaga hubungan industrial yang harmonis antara pekerja, pengusaha, dan pemerintah. “Buruh adalah pilar utama penggerak ekonomi daerah. Momentum ini harus memperkuat persatuan dan kebersamaan,” ujarnya.
Usai apel, ratusan buruh langsung mengikuti doa bersama yang dipimpin tokoh agama. Suasana hening sejenak, menjadi refleksi spiritual atas perjuangan panjang para pekerja dalam memperjuangkan hak dan kesejahteraan.
Namun, setelah itu suasana berubah drastis. Tawa ceria mulai pecah saat para buruh menikmati makan bersama yang telah dibagikan panitia. Mereka duduk lesehan, berbincang santai, bahkan di sela-sela acara diisi hiburan nyanyi bersama yang semakin mencairkan suasana.
Kemeriahan berlanjut dengan pembagian ratusan doorprize. Sorak sorai menggema saat satu per satu hadiah dibagikan. Puncaknya, seorang buruh jahit beruntung membawa pulang hadiah utama berupa sepeda motor listrik dari BPJS Ketenagakerjaan.
Kepala Kantor BPJS Ketenagakerjaan Pekalongan, Widhi Astri Aprillia Nia, menyampaikan bahwa kehadiran BPJS merupakan bentuk dukungan nyata terhadap sinergi antara pekerja, pemerintah, dan pengusaha.
Ia juga mengapresiasi jalannya kegiatan yang aman dan penuh semangat positif.
“Momentum Hari Buruh ini bukan hanya selebrasi, tetapi juga refleksi penting tentang perlindungan pekerja,” ujarnya.
Widhi menegaskan komitmen untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor.
“Ini sejalan dengan misi kami memperluas perlindungan jaminan sosial ketenagakerjaan, tidak hanya bagi pekerja formal tetapi juga informal,” tambahnya.
Di balik suasana penuh tawa, para buruh juga diberi ruang menyampaikan aspirasi. Melalui orasi dari perwakilan SPN se-Pantura Barat—mulai Brebes hingga Batang—berbagai uneg-uneg disampaikan secara terbuka.
Ketua SPN Kota Pekalongan, Alifan Santoso, menegaskan bahwa May Day bukan sekadar seremoni, tetapi momentum perjuangan nyata.
Ia menyebut ada tiga tuntutan utama buruh tahun ini. Pertama, mendesak regulasi ketenagakerjaan yang berpihak pada pekerja terkait Undang-Undang Cipta Kerja. Kedua, kepastian kerja di tengah maraknya sistem outsourcing dan kontrak jangka pendek. Ketiga, upah layak yang seimbang dengan kebutuhan hidup dan inflasi.
Menurutnya, kondisi buruh saat ini masih memprihatinkan. Banyak pekerja yang dirumahkan atau hanya bekerja beberapa hari dalam sepekan.
“Kami berharap pemerintah bisa menjaga stabilitas harga bahan pokok agar buruh dengan upah layak bisa hidup sejahtera,” tegasnya.
Selain itu, isu lain seperti pemenuhan hak cuti hamil dan haid bagi pekerja perempuan serta penolakan PHK sepihak juga menjadi sorotan.
Pemerintah Kota Pekalongan pun menyatakan komitmennya untuk terus membuka ruang dialog dengan serikat pekerja guna menciptakan iklim kerja yang kondusif dan berkeadilan.(han)