METROPEKALONGAN.COM, Semarang - Komitmen kuat dalam memastikan setiap anak memperoleh hak pendidikan mengantarkan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kabupaten Pekalongan Kholid, S.IP., M.M. meraih Anugerah Pendidikan Indonesia 2026 dari Jawa Pos Radar Semarang.
Penghargaan tersebut diberikan kepadanya untuk kategori "Inovasi Penurunan Angka Anak Tidak Sekolah Melalui Program Gerakan Kudu Sekolah".
Di bawah kepemimpinannya, penanganan Anak Tidak Sekolah (ATS) di Kabupaten Pekalongan menunjukkan hasil yang signifikan.
Melalui Gerakan Kudu Sekolah, Kholid mendorong lahirnya pendekatan yang tidak hanya mendata anak putus sekolah, tetapi juga memastikan mereka kembali memperoleh akses pendidikan sesuai kondisi masing-masing.
Program tersebut dijalankan melalui berbagai intervensi. Mulai dari mengaitkan data ATS dengan bantuan pendidikan seperti Program Indonesia Pintar (PIP), melibatkan pemerintah desa untuk menyisir anak-anak yang putus sekolah, hingga mengoptimalkan peran Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) sebagai jalur pendidikan alternatif melalui program Paket A, Paket B, dan Paket C.
Hasilnya tidak kecil. Sepanjang 2019 hingga 2025, sebanyak 3.823 anak berhasil dikembalikan ke dunia pendidikan.
Jumlah itu terdiri atas 389 anak pada 2019, 340 anak pada 2020, 670 anak pada 2021, 550 anak pada 2022, 374 anak pada 2023, 650 anak pada 2024, dan 850 anak pada 2025.
Capaian tersebut turut mengantarkan Kabupaten Pekalongan meraih peringkat terbaik pertama tingkat Jawa Tengah dalam penanganan anak tidak sekolah.
Keberhasilan Gerakan Kudu Sekolah bahkan menarik perhatian berbagai daerah di Indonesia.
Sejumlah pemerintah daerah dari dalam maupun luar Pulau Jawa datang ke Kabupaten Pekalongan untuk melakukan studi tiru guna mempelajari strategi penanganan ATS yang diterapkan.
Kholid mengaku bersyukur atas penghargaan yang diterimanya. Menurut dia, apresiasi tersebut bukan semata untuk dirinya, melainkan hasil kerja bersama seluruh insan pendidikan, pemerintah desa, serta masyarakat yang selama ini ikut berperan dalam mengembalikan anak-anak ke bangku pendidikan.
“Dengan penghargaan ini kami semakin termotivasi untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Kabupaten Pekalongan. Kalau bisa jangan sampai ada anak yang tidak sekolah lagi,” ujarnya.
Penghargaan tersebut menambah deretan prestasi yang sebelumnya diraih Kabupaten Pekalongan dalam penanganan ATS.
Pada Maret 2026 lalu, Kabupaten Pekalongan juga meraih peringkat terbaik I tingkat Jawa Tengah dari Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Jawa Tengah dalam penanganan anak tidak sekolah.
Keberhasilan itu turut menarik perhatian sejumlah daerah lain. Beberapa pemerintah daerah dari berbagai wilayah di Indonesia bahkan datang ke Kabupaten Pekalongan untuk melakukan studi tiru mengenai implementasi Gerakan Kudu Sekolah.
“Iya, mereka ingin belajar bagaimana kami mengentaskan anak tidak sekolah. Program ini akan terus kami kembangkan agar semakin banyak anak memperoleh kembali hak pendidikannya,” tutup Kholid.
Bagi Kholid, keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari prestasi akademik, tetapi juga dari kemampuan menghadirkan akses pendidikan yang merata bagi seluruh anak.
Karena itu, Gerakan Kudu Sekolah akan terus diperkuat agar semakin banyak anak memperoleh kembali kesempatan belajar dan meraih masa depan yang lebih baik. (nra/ida)
Editor : Ida Nor Layla