METROPEKALONGAN.COM, Sukoharjo – Fenomena ajang lari yang sedang melanda Jawa Tengah hampir setiap pekan, berkembang menjadi penggerak ekonomi daerah melalui sport tourism dan pemberdayaan UMKM.
Dalam beberapa bulan terakhir, telah digelar Rupiah Borobudur Playon di Magelang, Dieng Caldera Race di Wonosobo, hingga Kebumen Geopark Trail Run.
Masing-masing menawarkan karakter lintasan berbeda, namun membawa misi yang sama, yakni membudayakan olahraga sekaligus memperkenalkan potensi daerah.
Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi menilai, maraknya event lari merupakan sinyal positif meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya hidup sehat.
Menurutnya, olahraga lari kini telah bertransformasi menjadi gaya hidup baru yang berkembang hampir di seluruh kabupaten dan kota di Jawa Tengah.
“Lari untuk sehat, yang kedua UMKM mikro di wilayah kita akan berkembang,” ujar Ahmad Luthfi.
Baca Juga: Sukoharjo Spektakuler Run Membuat Pelaku UMKM Bergairah, Sport Tourism Bangkit
Selain membangun budaya hidup sehat, kehadiran ribuan peserta juga memberikan dampak ekonomi yang nyata.
Peserta dari berbagai daerah membelanjakan kebutuhan akomodasi, kuliner, hingga produk UMKM sehingga menciptakan perputaran uang selama penyelenggaraan event.
Race Director Sukoharjo Spektakuler Run 2026, Dina Kharisma Hari Wibowo, mengatakan, kuota 2.000 peserta langsung terpenuhi bahkan panitia terpaksa menolak banyak calon peserta demi menjaga kualitas penyelenggaraan.
Peserta datang tidak hanya dari wilayah Soloraya, tetapi juga dari Yogyakarta, Semarang, hingga Jawa Timur. Menurut Dina, keberadaan kategori kompetisi 10K menjadi salah satu daya tarik yang mengundang pelari dari luar daerah.
“Target kami 2.000 peserta dan alhamdulillah target kami sudah terpenuhi. Kita banyak menolak peserta,” katanya.
Ia menambahkan dampak ekonomi selama penyelenggaraan event sangat terasa. Tingkat hunian hotel di sekitar Solobaru meningkat, sementara pelaku kuliner dan UMKM menikmati lonjakan penjualan sepanjang akhir pekan.
“Banyak warga dari luar Sukoharjo, ada yang menginap di hotel-hotel sekitar venue dan ada juga kuliner-kuliner yang dalam dua hari ini mengalami pelonjakan ekonomi,” ujarnya.
Baca Juga: Melalui PKK dan Posyandu, Kumpulkan Jelantah per Liter Dibeli Rp 7000ah
Di balik kemeriahan ribuan peserta, event ini juga menghadirkan cerita tentang tumbuhnya budaya hidup sehat di kalangan generasi muda.
Salah satu peserta Lingga Aditya,14, siswa kelas VIII SMP asal Solo, mengaku sengaja mengajak adiknya yang masih duduk di bangku SD mengikuti ajang tersebut.
Baginya, lari bukan sekadar olahraga, melainkan investasi kesehatan untuk masa depan.
“Olahraga itu bukan sekadar dicari capeknya saja, ada banyak manfaat lain buat masa depan dan diri kita sendiri,” ujarnya.
Semangat serupa ditunjukkan Bian Stefanu, 14, dan Asthar Faiz Zaki,14, dua siswa SMP Mojosongo 8 Surakarta. Bian yang bercita-cita menjadi Polisi Militer dan Asthar yang ingin menjadi masinis menilai kebugaran fisik harus dipersiapkan sejak usia dini.
Asthar mengaku suasana perlombaan menjadi pengalaman yang berkesan karena dukungan masyarakat di sepanjang lintasan membuat peserta semakin bersemangat.
“Senang, beda dari yang lain. Sepanjang rute banyak yang menyemangati,” katanya.
Maraknya event lari di berbagai daerah menunjukkan bahwa olahraga tidak lagi sekadar aktivitas rekreasi akhir pekan.
Di Jawa Tengah, lari telah berkembang menjadi gerakan sosial yang mendorong masyarakat hidup lebih sehat, menghidupkan sektor pariwisata olahraga, sekaligus menggerakkan ekonomi lokal.
Ketika ribuan orang berlari bersama, yang bergerak bukan hanya langkah para peserta, tetapi juga roda perekonomian daerah. (dit)
Editor : Adityo Dwi Riyantoto