Jalan Poncowati Alas Roban Batang Kembali Memakan Korban

Lutfi Hanafi • Dipublikasikan Senin, 14 September 2026 | 10:49 WIB
EVAKUASI : Colt L300 korban kecelakaan tunggal di Jalan Daendels Alas Roban saat dievakuasi, pada Minggu (13/9/2026) malam. (Lutfi Hanafi/Jawa Pos Metro Pekalongan)
EVAKUASI : Colt L300 korban kecelakaan tunggal di Jalan Daendels Alas Roban saat dievakuasi, pada Minggu (13/9/2026) malam. (Lutfi Hanafi/Jawa Pos Metro Pekalongan)

METROPEKALONGAN.COM, Batang – Jalan Daendels Alas Roban atau yang dikenal sebagai Jalan Poncowati kembali menjadi saksi kecelakaan maut. Setelah cukup lama tidak terdengar kecelakaan fatal di jalur lama yang sunyi dan berliku itu, seorang warga Madura tewas setelah mobil yang dikemudikannya terjun ke jurang, Minggu (13/9/2026) sekitar pukul 16.00 WIB.

Korban diketahui bernama Ismanto (36), warga Tlanakan, Kabupaten Pamekasan, Madura. Ia mengemudikan mobil bak terbuka Colt L300 bernomor polisi DB 8361 LF dari arah barat.

Mobil tersebut melaju tanpa membawa muatan ketika tiba-tiba keluar dari badan jalan dan masuk ke jurang curam dengan kedalaman sekitar 15 meter. Kendaraan kemudian terguling di dasar jurang.

Belum diketahui secara pasti apa yang membuat kendaraan itu sampai keluar jalur. Tidak adanya saksi mata membuat petugas masih harus mengandalkan kondisi kendaraan dan lokasi untuk mengungkap kronologi kecelakaan.

Baca Juga: Dua Bocah Tewas Terjebak Kebakaran di Surabaya, Pintu Dirantai Orang Tua Dari Luar

Baca Juga: Cegah Kekerasan Terulang, Sekolah di Pekalongan Diperkuat

Dugaan sementara, pengemudi mengalami kelelahan hingga mengantuk setelah menempuh perjalanan jauh. Informasi tersebut diperkuat temuan di dalam bak kendaraan yang masih terdapat sejumlah kotak styrofoam dengan bau amis, yang diduga sebelumnya digunakan untuk membawa ikan segar.

“Dilihat dari bekas muatannya yang berupa kotak sterofoam yang berbau amis, mobil sebelumnya memuat ikan segar. Diduga karena perjalanan jauh pengemudi lelah dan mengantuk sehingga menyebabkan kecelakaan,” ujar seorang relawan yang ikut dalam proses evakuasi.

Benturan keras membuat Ismanto mengalami luka berat di bagian kepala. Tubuhnya bahkan sempat terjepit dan tertindih badan kendaraan.

Petugas Satlantas Pos Luwes yang memperoleh laporan langsung menuju lokasi. Evakuasi dilakukan bersama anggota Polsek Gringsing dan Koramil 03 Gringsing.

Kondisi medan yang berada di dasar jurang membuat proses penyelamatan tidak mudah. Ismanto akhirnya ditemukan dalam kondisi meninggal dunia di lokasi kejadian. Sementara seorang kernet yang identitasnya belum diketahui mengalami luka-luka dan berhasil dievakuasi.

Baca Juga: Kangen Band Disebut Bubar, Ini Fakta di Balik Pengumuman Dodhy

Baca Juga: Sungai Bendan Kergon Kembali Penuh Plastik, Ini Sebabnya

Tak hanya mengevakuasi korban, petugas juga harus berjibaku mengeluarkan bangkai L300 dari dasar jurang. Pengangkatan kendaraan menggunakan mobil derek berlangsung cukup lama karena medan yang curam dan sulit dijangkau. Proses tersebut bahkan berlangsung hingga malam hari.

Bripka Wahyu Trisnanto dari Pos Satlantas Luwes mengatakan Jalan Poncowati kini bukan lagi jalur utama kendaraan antarkota. Keberadaan jalan lingkar dan jalur alternatif membuat kendaraan yang melintas di jalur lama tersebut semakin sedikit.

“Hanya beberapa mobil saja yang melintas dalam sehari meskipun Jalan Poncowati sudah dilebarkan dan mulus,” kata Wahyu.

Untuk dikethaui, jauh sebelum jalan lingkar dan berbagai jalur alternatif hadir, Jalan Daendels Poncowati memiliki peran penting sebagai penghubung antardaerah di jalur Pantura Jawa Tengah.

Baca Juga: Manajer Pupuk Songong Dicopot Menteri Amran di Banggai

Baca Juga: Cari Korban di Medsos, Bawa Kabur Motor dan HP, Dibui

Hingga pertengahan dekade 1990-an, jalur tersebut disebut menjadi salah satu akses utama penghubung antarprovinsi. Namun, karakter jalannya membuat Poncowati dikenal sebagai jalur yang harus dilalui dengan kewaspadaan tinggi.

Tanjakan, turunan, tikungan tajam, serta jurang di sejumlah sisi jalan menjadi bagian dari karakter jalur sepanjang kawasan hutan tersebut.

Saat malam tiba, suasananya semakin berbeda. Minimnya penerangan membuat sebagian ruas jalan gelap dan sepi. Kondisi itu kemudian melahirkan berbagai cerita mistis yang berkembang dari mulut ke mulut di tengah masyarakat.

Cerita tentang jalur yang disebut angker bahkan masih melekat hingga kini. Namun, di balik berbagai kisah tersebut, Poncowati sebenarnya juga menyimpan sisi lain yang jauh lebih teduh.

Pada siang hari, rimbunnya pepohonan jati membuat perjalanan melewati jalur lama itu terasa sejuk. Pengendara yang beruntung bahkan dapat menjumpai kawanan monyet di tepian jalan.

Baca Juga: Serunya Anak SD di Pekalongan Belajar Padamkan Api

Pemandangan tersebut menjadi salah satu daya tarik tersendiri. Sesekali, pengendara sengaja berhenti membawa buah untuk diberikan kepada kawanan monyet yang berada di sekitar jalur.

 

Kini, Jalan Poncowati kembali menjadi perhatian setelah kecelakaan maut merenggut nyawa seorang warga Madura. Jalur yang semakin jarang dilalui kendaraan itu kembali mengingatkan bahwa kondisi jalan yang sepi bukan berarti bebas dari risiko.

Kewaspadaan tetap menjadi kunci, terutama bagi pengemudi yang melintasi jalur lama dengan karakter medan berupa tanjakan, turunan, tikungan dan jurang.(han)

Editor : Adityo Dwi Riyantoto
Sumber : metropekalongan.com
alar roban jalan deandles pantura batang kecelakaan