Piala Batik Pekalongan, Kicau Mania Dongkrak Ekonomi

Lutfi Hanafi • Dipublikasikan Senin, 5 Oktober 2026 | 08:54 WIB
PANTAU : Walikota Aaf saat memantau langsung Lomba Burung Berkicau Piala Batik Pekalongan yang digelar di Taman Lapangan Peturen, Tirto, Minggu (4/10/2026).(IST)
PANTAU : Walikota Aaf saat memantau langsung Lomba Burung Berkicau Piala Batik Pekalongan yang digelar di Taman Lapangan Peturen, Tirto, Minggu (4/10/2026).(IST)

METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan – Gema kicauan burung menambah semarak peringatan Hari Batik Nasional di Kota Pekalongan. Lomba Burung Berkicau Piala Batik Pekalongan yang digelar di Taman Lapangan Peturen, Tirto, Minggu (4/10/2026), menjadi ajang adu prestasi sekaligus mempererat silaturahmi kicau mania dari berbagai daerah.

Wali Kota Pekalongan, H. Afzan Arslan Djunaid atau Aaf, membuka langsung perlombaan tersebut. Ia mengapresiasi keterlibatan komunitas pecinta burung yang turut memeriahkan peringatan Hari Batik Nasional melalui kegiatan positif, kompetitif, dan berpotensi menggerakkan perekonomian masyarakat.

Menurut Aaf, Piala Batik Pekalongan memiliki peluang untuk berkembang menjadi agenda tahunan dengan jangkauan peserta yang semakin luas. Selain menjadi wadah unjuk kemampuan burung peliharaan, kegiatan ini juga memperkuat ruang interaksi antarkomunitas serta menambah daya tarik Kota Pekalongan melalui kreativitas masyarakat.

“Alhamdulillah, Lomba Burung Kicauan Piala Batik Pekalongan ini menjadi bagian dari rangkaian Hari Batik Nasional. Insyaallah, kegiatan seperti ini bisa terus rutin digelar setiap tahun, bahkan dengan skala yang semakin besar,” ujar Aaf.

Baca Juga: PBNC 2026, Panggung Kreatif Anak Muda Pekalongan

Baca Juga: Kota Batik Dunia Terancam Limbah, Ini Langkah Aaf

Ia menilai, konsistensi penyelenggaraan dan kualitas kompetisi menjadi faktor penting agar ajang tersebut dapat terus berkembang. Karena itu, Aaf menekankan pentingnya menjunjung tinggi sportivitas, kejujuran, serta transparansi dalam setiap proses penilaian.

Menurutnya, juri harus bekerja secara profesional dan objektif agar seluruh peserta memperoleh kesempatan yang adil. Pemanfaatan kamera dalam proses penjurian juga menjadi salah satu upaya untuk memperkuat transparansi sekaligus menjaga kepercayaan kicau mania terhadap hasil perlombaan.

“Yang terpenting adalah fair play. Panitia dan juri harus bisa menunjukkan bahwa penilaian dilakukan secara objektif dan transparan. Kalau komitmen ini terus dijaga, tentu Pemerintah Kota Pekalongan siap memberikan dukungan,” tegasnya.

Lebih dari sekadar kompetisi, Piala Batik Pekalongan diharapkan menjadi ruang bagi para penghobi burung untuk meningkatkan prestasi, memperluas jaringan, dan membangun solidaritas komunitas. Kehadiran peserta dari luar daerah juga membuka peluang bagi tumbuhnya aktivitas ekonomi di sekitar penyelenggaraan acara.

Baca Juga: Jagoan Balap Liar Rambut Merah Menangis, Motor Disita Polisi

Baca Juga: HBN 2026 di Kota Pekalongan, Ada Gunungan Nasi Hingga Senam Bersama

Pergerakan peserta dan komunitas dalam kegiatan semacam ini berpotensi memberikan manfaat bagi pelaku usaha, mulai dari pedagang makanan hingga sektor pendukung hobi burung berkicau. Dengan pengelolaan yang baik, lomba tersebut dapat menjadi kegiatan komunitas yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memberi nilai tambah bagi masyarakat.

Aaf pun menyampaikan terima kasih kepada seluruh peserta dan pihak yang terlibat dalam menyukseskan perlombaan. Ia berharap Piala Batik Pekalongan dapat terus tumbuh sebagai agenda yang menggabungkan semangat pelestarian tradisi perayaan Hari Batik Nasional, prestasi kicau mania, serta penguatan ekonomi masyarakat Kota Pekalongan.(han)

Editor : Adityo Dwi Riyantoto
Sumber : metropekalongan.com
Hari Batik Nasional kota pekalongan komunitas kicau mania ekonomi