Pelajar SLTA Jateng Adu Membatik, Jaga Warisan Batik

Lutfi Hanafi • Dipublikasikan Kamis, 8 Oktober 2026 | 16:59 WIB
SEMANGAT : Wakil Walikota Pekalongan Hj Balgis Diab saat berikan motivasi kepada peserta lomba Membatik tingkat Jateng, di Halaman Museum Batik Pekalongan, Kamis (8/10/2026).(Lutfi Hanafi / Jawa Pos Metro Pekalongan)
SEMANGAT : Wakil Walikota Pekalongan Hj Balgis Diab saat berikan motivasi kepada peserta lomba Membatik tingkat Jateng, di Halaman Museum Batik Pekalongan, Kamis (8/10/2026).(Lutfi Hanafi / Jawa Pos Metro Pekalongan)

METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan – Puluhan pelajar SLTA dari berbagai daerah di Jawa Tengah menunjukkan keterampilan membatik dalam sebuah kompetisi yang digelar Pemerintah Kota Pekalongan.

Sebanyak 50 siswa SMA, SMK, MA dan sederajat beradu kreativitas di Halaman Museum Batik Pekalongan, Kamis (8/10/2026).

Lomba membatik tingkat Jawa Tengah tersebut bukan sekadar mencari peserta terbaik. Di balik kompetisi, tersimpan misi yang lebih panjang, yakni menyiapkan generasi muda agar batik tetap hidup dan memiliki penerus di masa mendatang.

Kepala Dinparbudpora Kota Pekalongan, Sabaryo Pramono mengatakan, regenerasi menjadi salah satu alasan utama lomba tersebut digelar.

Sebab, sebagian pembatik saat ini telah memasuki usia lanjut sehingga keberadaan pembatik muda perlu terus didorong.

“Tujuan penyelenggaraan lomba ini yang jelas adalah pelestarian. Kita tahu semakin ke depan pembatik-pembatik kita usianya semakin sepuh, sehingga perlu adanya generasi penerus,” ujarnya.

Baca Juga: Bukan Kebakaran, Damkar Dipanggil Untuk Cari HP Jatuh ke Selokan

Baca Juga: Rumah Dinas TNI di Cijantung Diduga Jadi Markas Judol

Antusiasme pelajar terlihat dari jumlah pendaftar yang mencapai sekitar 60 orang. Setelah melalui seleksi motif dan gambar, sebanyak 50 peserta dinyatakan lolos dan berkesempatan mengikuti kompetisi yang mempertemukan pelajar dari sejumlah kabupaten dan kota di Jawa Tengah.

Sabaryo menuturkan, proses tersebut diharapkan menjadi pintu masuk bagi pelajar untuk mengenal batik lebih dekat.

Dari sekadar mengetahui, mereka diharapkan berani mempraktikkan, kemudian tumbuh rasa cinta terhadap batik sebagai warisan budaya takbenda yang telah diakui UNESCO.

“Mulai dari siswa-siswi inilah kita upayakan untuk mulai mengenal, mulai mempraktikkan, bahkan akhirnya bisa mencintai batik. Sehingga regenerasi pembatik ini sendiri bisa berjalan, batik masih bisa eksis di Kota Pekalongan,” katanya.

Lebih dari sekadar keterampilan, membatik juga menjadi media pembelajaran karakter. Setiap goresan canting membutuhkan ketelitian dan kesabaran.

Kesalahan kecil dalam menorehkan malam bahkan dapat memengaruhi hasil akhir selembar kain.

Baca Juga: Nekat Terobos Jalan Cor, ASN Kota Pekalongan Turun Pangkat

Baca Juga: Saka Pustaka Kota Pekalongan Didorong Jadi Penggerak Literasi Kreatif

“Dalam satu lembar kain kita bisa belajar banyak hal. Pertama belajar sabar, kemudian teliti, karena satu tetes malam apabila salah menempatkan bisa merusak,” sambungnya.

Kemampuan membatik juga memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi keterampilan ekonomi kreatif. Kain batik tulis dengan proses pengerjaan yang rumit memiliki nilai jual tinggi, bahkan dapat mencapai jutaan rupiah.

Kondisi tersebut membuka peluang bagi generasi muda untuk menjadikan keterampilan membatik sebagai bekal berwirausaha.

Wakil Wali Kota Pekalongan, Balgis Diab turut mengapresiasi pelaksanaan lomba yang mempertemukan pelajar dari berbagai daerah tersebut.

Menurutnya, banyaknya peserta menjadi sinyal positif bahwa batik masih memiliki tempat di kalangan generasi muda.

“Dengan lomba membatik ini kita tidak hanya mencari juara saja, tetapi ada hal lain yang lebih penting, yaitu terus melestarikan batik sebagai warisan budaya takbenda dan menghasilkan karya-karya terbaik anak bangsa,” ungkapnya.

Balgis melihat kehadiran para peserta tidak semata-mata didorong keinginan meraih piala. Ketertarikan terhadap proses membatik menjadi modal penting untuk menjaga keberlangsungan budaya tersebut.

 

“Mereka hadir di sini tidak hanya ingin mencari kejuaraan, tetapi memang sudah cinta dan senang dengan proses membatik ini,” imbuhnya.

Ia pun mengingatkan peserta agar tidak menjadikan kemenangan sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan. Pengalaman selama mengikuti lomba, belajar membuat motif, mengolah kain, hingga menyelesaikan karya dinilai menjadi bekal yang jauh lebih berharga.

“Namanya juga lomba, ada yang menang dan ada yang kalah. Tentu harus ada yang menjadi juara, tetapi bagi peserta juara bukan satu-satunya target. Ada pengalaman dan sesuatu yang tidak didapat di tempat lain,” tukasnya.

Melalui kompetisi membatik tingkat SMA, SMK, MA dan sederajat se-Jawa Tengah ini, Pemkot Pekalongan berharap lahir semakin banyak generasi muda yang tidak hanya mengenakan batik, tetapi juga memahami proses pembuatannya.

Regenerasi tersebut diharapkan menjadi jalan agar batik tetap berkembang di Pekalongan dan Jawa Tengah, sekaligus mempertahankan batik sebagai warisan budaya, karya kreatif, serta peluang ekonomi bagi generasi masa depan. (han)

Editor : Adityo Dwi Riyantoto
Sumber : metropekalongan.com
budaya membatik jawa tengah batik pekalongan budaya