METROPEKALONGAN.COM, Batang - Dua tahun setelah longsor besar di kaki Gunung Prau yang masuk wilayah Desa Pranten, Kecamatan Bawang, masih ada potensi longsoran. Bahkan masih sangat banyak material longsor membuat mahkota longsor belum habis.
"Potensi longsor tetap masih ada. Mahkota longsornya masih ada. Potensi materialnya 1 juta meter kubik di satu titik itu di Bukit Siglagah, Desa Pranten," kata Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Batang Ulul Azmi Kamis 15 Februari 2024.
Karenanya, potensi longsor akan terus menerus terjadi sampai material itu benar-benar habis. Longsor susulan di area itu pun sudah terus menerus terjadi selama dua tahun ini. Yaitu sejak pergantian tahun 2021 ke 2022.
"Longsor terjadi tergantung curah hujan di sana. Antisipasi bencananya tidak ada. Hanya bisa menunggu mahkota longsor habis. Material longsor hanyut ke sungai yang mengalir di bawahnya," imbuhnya.
Seperti diketahui, longsor besar terjadi di Pranten pada malam pergantian tahun 2021 ke 2022. Luasan longsoran mencapai 1 kilometer. Sedangkan material longsor diperkirakan mencapai 1,7 juta meter kubik.
Perbukitan di kaki Gunung Prau ini memiliki banyak material batuan kapur. Hal itu membuat potensi longsor tinggi. Material itu terbawa bersama arus Kali Belo, yang membuat air sungai berwarna coklat.
Longsor itu memutus akses Jalan Dukuh Pranten-Rejosari. Satu-satunya jembatan penghubung hilang tersapu longsor. Selama dua tahun terakhir, pemerintah tidak mengambil opsi membangun jembatan yang terputus itu. Mengingat potensi longsor susulan.
Namun, jembatan darurat sedang dibangun di sana. Lokasi bencana itu berjarak sekitar 700 meter dari pemukiman warga. Tepatnya di area perkebunan kentang. (yan/ida)
Editor : Ida Nor Layla