METROPEKALONGAN.COM, Batang - Candi di kompleks situs cagar budaya Balekambang, Desa Sidorejo, Kecamatan Gringsing mulai digali sejak Jumat 21 Juni 2024.
Proses ekskavasi ini dilakukan langsung oleh Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN). Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Batang, Bambang Suryantoro Sudibyo menjelaskan bahwa penggalian itu diawali dengan doa bersama.
"Doa bersama untuk memulai ekskavasi candi, pelaksanaannya kurang lebih 10 hari. Ini kan awal, intinya dipetakan sejauh mana luasan, hingga keutuhan," ujarnya.
Candi yang terbuat dari terakota atau tanah liat bakar, atau batu bata merah ini berukuran 6x6 meter. Di atasnya dipasang cungkup untuk melindungi dari panas dan hujan.
Tim ekskavasi terdiri dari dua orang dari Disdikbud Batang, 2 ahli dari cagar budaya Batang, 3 dari BRIN Pusat, 1 dari UII Yogyakarta, 1 dari Sangiran dan 1 orang lagi dari Ikatan Arkeologi Indonesia.
Ketua tim ekskavasi Ilham Akbar Samudra dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Batang menjelaskan, candi terakota ini berasal dari abad ke VII Masehi atau sebelum era Mataram Kuno tapi belum diketahui bercorak Hindu atau Buddha.
"Yang tersisa ini sebenarnya hanya bagian kaki candi. Sedangkan badan candi sudah tidak ada. Jika selesai ini akan menjadi satu-satunya candi yang ada di Kabupaten Batang," terangnya.
Lebih lanjut Ilham mengungkapkan dahulu pengaruh India masuk ke tanah Jawa melalui pantai utara dan menggunakan sungai besar untuk menjelajah.
Karenanya di sekitar sungai besar seperti Kali Kuto banyak ditemukan peninggalan bersejarah termasuk candi terakota yang sedang diekskavasi tersebut.
"Jika demikian berarti candi terakota ini dibangun pada era Kerajaan Haling atau Kalingga dan usianya lebih tua dari Borobudur," imbuhnya.
Penemuan candi ini dahulu bermula berkat aktivitas arkeolog saat sedang meneliti situs Petirtaan Balekambang. Pada sebelah selatan, sekitar 30 meter dari petirtaan, arkeolog mencurigai gundukan tanah yang ditumbuhi semak belukar.
Di atas gundukan banyak berserakan bata merah berukuran besar yang oleh penduduk sekitar dimanfaatkan untuk perapian atau pondasi rumah karena tidak tahu itu peninggalan bersejarah.
Tahun 2019 dilakukan penggalian. Di kedalaman 2 meter terlihatlah struktur bangunan candi yang sudah tidak lengkap. Veronique Degroot, seorang arkeolog wanita asal Perancis ikut serta dan mencatat detail candi.
Struktur candi kemudian ditimbun lagi supaya aman sambil menunggu dana dan baru sekarang ditangani serius.
Minimnya literasi membuat tim belum menemukan nama candi. Prasasti di Petirtaan Balekambang juga tidak menyebut adanya candi ini sehingga belum diketahui ada tidaknya hubungan antara Petirtaan dan candi.
Juru Pelihara situs Petirtaan Balekambang Agus Santoso yang ikut ekskavasi menambahkan lokasi candi sekarang masuk wilayah Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB).
"Kami sudah membuat kesepakatan dengan pihak KITB untuk tetap mempertahankan keberadaan candi ini. Bahkan KITB akan membuatkan akses masuk sehingga mudah dijangkau," kata Agus.
Sementara itu, saat tim ekskavasi sedang melakukan observasi lingkungan di sekitar candi, mereka mendapat kejutan.
Sekitar 200 meter ke arah tenggara di perbukitan dari titik ekskavasi, tim menemukan sebuah jejak yang diduga juga merupakan sebuah candi.
Hal ini karena didapati banyak batu bata merah berserakan. Ketua tim ekskavasi candi itu pun membenarkan penemuan baru ini. Temuan itu akan segera dilaporkan supaya mendapatkan tindak lanjut.
"Dengan menggunakan bor khusus kami mendapati ada terakota di bawah tanah dan diduga itu adalah candi," ucap Ilham. (yan/ida)
Editor : Ida Nor Layla