METROPEKALONGAN.COM, Batang - Pj Bupati Batang Lani Dwi Rejeki meninjau proses eskavasi candi di Desa Sidorejo, Kecamatan Gringsing, Kabupaten Batang, Kamis 27 Juni 2024.
Candi ini diperkirakan menjadi yang tertua di Jawa Tengah, berasal dari tahun 630 Masehi atau Abad ke-7. Pemda Batang sendiri menyatakan keseriusannya terhadap temuan candi itu.
"Ini ditemukan sudah sejak tahu 2019, namun ini baru ditindaklanjuti sekarang. Ternyata di lokasi ini ditemukan adanya bekas candi. Temuan arangnya itu diteliti di Selandia Baru dan Amerika, diketahui itu peninggalan tahun 630-an, Abad ke-7. Ini sudah benar -benar fakta ada buktinya,” ujar Lani saat melakukan observasi di lokasi candi yang berada di Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB).
Hasil pemantauan dari delineasi seluas 2 kilometer kali 2 kilometer diketahui bahwa candi itu tidak berdiri sendiri. Melainkan kawasan kompleks candi, sehingga kemungkinan besar terdapat candi-candi lainnya. Seperti dalam titik candi lain yang ditemukan sekitar 200 meter di arah tenggara dari candi pertama.
Baca Juga: Candi di KITB Bakal Diekskavasi Bulan Juni, BRIN Datang 14 Hari
Ia memastikan, ke depannya candi itu menjadi cagar budaya. Sehingga dapat mengedukasi anak-anak bahwa di Batang ada sebuah peradaban yang ditandai dengan adanya candi.
"Ke depannya ini menjadi cagar budaya yang harus dilestarikan, diamankan. Setelah ini bertahap, ini masuk dalam proses dari BRIN dan dari tim untuk mengamankan terlebih dahulu, barangkali sekitar sini juga masih ada," terangnya.
Usai melakukan ekskavasi, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Batang sudah menyiapkan anggaran untuk pembuatan cungkup. Sebagai penanda bahwa di situ terdapat candi bersejarah yang menjadi cagar budaya.
Total anggaran yang dikeluarkan tahun ini sebanyak Rp 230 juta, dengan rincian Rp 170 juta untuk eksplorasi dan Rp 60 juta untuk cungkup.
Baca Juga: Candi Balekambang di Batang Mulai Diekskavasi, Arkeolog Malah Menemukan Titik Candi Lain
Karena adanya cagar budaya, maka juga akan mempersiapkan fasilitas penunjang lainnya. Termasuk akses jalan, transportasi, penerangan, dan sebagainya.
“Karena kebetulan ini berdekatan dengan sumber air Balekambang. Jadi mungkin dijadikan satu menjadi tempat wisata. Sehingga fasilitas umum lainnya bisa mengikuti, jalan, penerangan dan lainnya,” ucapnya.
Sementara itu, Arkeolog BRIN, Agustrijanto Indrajaja menjelaskan, luasan candi ini ternyata lebih besar dari yang diperkirakan, yaitu 8x8 meter. Selain itu ditemukan juga selasar halaman candi di kedalaman sekitar 190 sentimeter.
"Ini yang tersisa hanya bagian kakinya, jadi bagian badan atau atasnya sudah hancur. Karena ini candi bata, akan sangat sulit untuk merekonstruksinya. Kita mencoba merekonstruksi, sejauh mana pada saat terakhir kita melihatnya," ujarnya.
Candi bata merah ini memiliki pintu masuk di sebelah timur atau barat. Ada satu ruang di tengahnya yang biasanya digunakan untuk menempatkan busur.
Tetapi pihaknya belum menemukan indikasi bahwa candi itu peninggalan Hindu atau Budha.
"Kita perlu pengawasan, karena candi biasanya tidak bisa berdiri sendiri. Biasanya ada komponen pendukung lainnya. Biasanya kalau satu candi utama di Jawa kuno itu dia ada tiga candi perwara di depannya. Itu model Mataram kuno, tapi ini bukan Mataram kuno. Kita harus lebih banyak eksplorasi lagi untuk memastikan apakah ini candi utama atau pendukung," tandasnya. (yan/ida)
Editor : Ida Nor Layla