Berita Kota Pekalongan Kab. Pekalongan Kab. Batang Ekonomi Bisnis Haji Hiburan Hukum dan Kriminal Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Pemerintahan Politik Pendidikan Sosial dan Budaya Teknologi Wisata

Haul Ki Ageng Gringsing, Ulama Penyebar Islam di Batang Timur Abad 1.600 Masehi

Riyan Fadli • Senin, 29 Juli 2024 | 10:56 WIB
ULAMA: Suasana Haul Ki Ageng Gringsing di Desa Gringsing ramai dihadiri warga dari berbagai daerah, Minggu 28 Juli 2024. (Istimewa)
ULAMA: Suasana Haul Ki Ageng Gringsing di Desa Gringsing ramai dihadiri warga dari berbagai daerah, Minggu 28 Juli 2024. (Istimewa)

METROPEKALONGAN.COM, Batang - Ribuan orang dari berbagai daerah ramai memadati Kecamatan Gringsing, Minggu 28 Juli 2024. Mereka sedang mengikuti haul Ki Ageng Gringsing dan Kiai Mabrur. Kegiatan itu dipusatkan di area pemakaman umum Desa Gringsing.

Habib Muhammad Firdaus Al Munawar dari Kendal menjadi pembicara kegiatan Haul ke 34 Ki Ageng Gringsing dan Haul Kiai Mabrur ke 28. Perwakilan penyelenggara, Muchamad Aghus ZN menjelaskan bahwa Ki Ageng Gringsing merupakan seorang ulama besar dari Cirebon. Beliau hidup sekitar tahun 1600 Masehi dan makamnya ditemukan tahun 1991.

Nama asli Ki Ageng Gringsing adalah Syah Maulana Raden Abdullah Saleh Sungging. Dari Cirebon ia menyebarkan ajaran tauhid ke arah timur. Dalam pengembaraannya tersebut Syah Maulana bertemu dengan seorang perempuan cantik bernama Nyi Rantansari putri dari Syech Agung Tholib. Setelah menikah mereka menggunakan nama Ki Ageng Gringsing dan Nyi Ageng Gringsing. Sesuai nama daerah di tempat mereka. 

Makam ulama besar ini sempat terlupakan selama seratus beberapa tahun. Baru pada pertengahan 1980-an dilakukan upaya pencarian.

“Proses pencarian dilakukan oleh lima orang ulama besar ahli muhotob atau mampu berkomunikasi dengan alam gaib,” terang Aghus.

Setelah beberapa tahun pencarian, akhirnya lokasi makam berhasil ditemukan. Cerita ini menjadi sejarah, penemuannya dibantu Kiai Muhaimin dari Temanggung. Akhirnya, pada tanggal 31 Juli 1991 ditetapkan bahwa lokasi makam Ki Ageng Gringsing ada di tempat tersebut.

 “Dari penemuan makam itu, silsilah keturunan Ki Ageng Gringsingpun terlacak,” imbuhnya..

Lokasi Makam Ki Ageng Gringsing berada di kompleks pemakaman umum selatan Desa Gringsing. Peziarah dari berbagai daerah selalu datangan tiap momen tersebut. Hal ini karena Ki Ageng Gringsing mempunyai nama dan pengaruh yang besar.

Salah satu kisah Ki Ageng Gringsing yang tersohor adalah dari Kasultanan Cirebon ia diberi tugas untuk mengabdi di Kerajaan Mataram. Oleh raja Mataram, ia diminta menyebarkan agama Islam di daerah Batang. Pada waktu itu Batang dikenal sebagai daerah hitam. Bandit dan garong sering bertengkar sehingga masyarakat resah. 

Selain itu, wilayah Batang terkenal dengan Alas Roban yang dihuni oleh makhluk halus. Suatu waktu, saat dalam perjalanan ia ingin melakukan shalat. Ki Ageng Gringsing menancapkan tongkat yang dibawanya. Tingkatnya bersemi dan tumbuh menjadi pohon. Beliau kemudian menyampaikan pesan kepada para pengikutnya bahwa di tempat tongkat miliknya yang ditancapkan itu, kelak akan menjadi lokasi orang-orang yang dapat dikendalikan oleh agama, atau kawasan keagamaan. Pohon itu bernama Pohon Kendal.

“Pohon itu masih ada sampai sekarang, lokasinya ada di Dukuh Kendalsari, Desa Sembung, Kecamatan Banyuputih,” ujarnya.

Ketua penyelenggara Aghus Jamaludin Kharis menjelaskan bahwa haul ini juga untuk memperingati bulan Muharam. “Alhamdulillah setiap tahun kami memperingati Haul Ki Ageng Gringsing dengan khusyuk dan meriah. Insyaallah ini menjadi acara rutin,” tandasnya. (yan/ida)

 

 

 

Editor : Ida Nor Layla
#Gringsing #haul #batang