METROPEKALONGAN.COM, Batang - Menjelang musim hujan, warga Desa Kebondalem, Kecamatan Gringsing, Kabupaten Batang, bersiaga menghadapi ancaman banjir dan longsor.
Erosi tebing Kali Kuto yang semakin mendekati permukiman, menjadikan warga semakin khawatir, terutama di Dukuh Gebanganom.
Di daerah ini, sebuah cekungan menganga sepanjang 200 meter dan lebar sekitar 35 meter. Dengan tebing tegak lurus setinggi 20 meter. Bahkan sewaktu-waktu bisa longsor, karena kondisi tanahnya yang labil dan berpasir.
Posisi cekungan tersebut hanya beberapa meter dari tanggul penahan air yang sudah mulai rapuh.
Jika tanggul jebol akibat banjir besar, Desa Kebondalem, yang berada di bawahnya, akan terkena banjir bandang.
Kadus Gebanganom, Mahroji, menjelaskan, ambrolnya tebing Kali Kuto ini sudah terjadi sejak tahun 2010.
“Di bagian selatan cekungan, kondisinya aman. Karena ada tiang pancang beton yang kokoh. Namun, di titik-titik yang tidak dipasang tiang pancang, selalu terjadi longsor saat banjir besar,” ujarnya.
Tiang pancang beton yang dibangun pada 2001 hanya dipasang di beberapa titik, sementara lainnya hanya menggunakan bronjong yang tidak cukup kuat menahan arus besar.
Mahroji menambahkan, sejak banjir besar pada tahun 2010 yang mengubah aliran sungai menjadi serong ke barat, arus deras terus menggerus tebing dan menyebabkan longsor.
“Setiap kali banjir datang, longsoran semakin parah. Warga selalu cemas saat hujan lebat turun, takut jika tebing penahan ambrol dan luapan air Kali Kuto menerjang permukiman mereka,” ungkapnya.
Kepala Desa Kebondalem, Ali Ma’ruf menyatakan, titik rawan longsor bukan hanya di Gebanganom. Di Dukuh Kutorjo, tebing sepanjang 200 meter sudah mengancam permukiman, sementara di Dukuh Kebonsari, tebing longsor sepanjang 100 meter juga menimbulkan kekhawatiran.
Longsor di titik-titik ini sebagian besar disebabkan hanya oleh bronjong yang tidak mampu menahan erosi. Ini berbeda dengan area yang dipasang tiang pancang yang masih aman.
Ali Ma’ruf mengaku sudah sering melaporkan kondisi ini ke PSDA Jratun Seluna, namun hingga kini belum ada tindak lanjut.
"Pemasangan tiang pancang dan pengurukan cekungan butuh dana besar agar Desa Kebondalem aman dari ancaman banjir," tegasnya.
Selain itu, solusi lainnya adalah membuat sudetan pada aliran Kali Kuto untuk mengurangi risiko, tetapi ini memerlukan koordinasi yang panjang karena aliran sungai tersebut melibatkan dua kabupaten, yaitu Batang dan Kendal.
“Aliran Kali Kuto sering berubah-ubah. Dulu sungai berada jauh di timur, namun kini berbelok ke barat, sehingga sebagian tanah warga Batang berpindah ke wilayah Kendal,” jelas Ali Ma’ruf.
Dengan potensi ancaman banjir dan longsor yang tinggi, warga Desa Kebondalem berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk memperkuat tanggul Kali Kuto sebelum musim hujan semakin parah. (han/ida)
Editor : Ida Nor Layla