METROPEKALONGAN.COM, Batang - Kabupaten Batang punya segudang budaya daerah.
Salah satu yang paling menonjol adalah batik Rifaiyah, warisan leluhur yang memiliki sejarah panjang dan keunikan tersendiri.
Pasangan calon bupati dan wakil bupati, Fauzi Fallas dan Ahmad Ridwan pun berkomitmen penuh untuk membawa batik Rifaiyah ke kancah nasional jika mereka dipercaya memimpin daerah ini.
"Batik Rifaiyah adalah identitas Batang yang perlu dijaga dan diperkenalkan lebih luas. Kami ingin memastikan warisan budaya ini dapat berkembang, tidak hanya di Batang, tapi juga dikenal secara nasional," ujar Fallas.
Menurutnya, batik Rifaiyah memiliki akar sejarah yang kuat. Batik ini diperkirakan sudah ada sejak zaman Pangeran Diponegoro, tahun 1700-an Masehi.
"Batik Rifaiyah sudah diakui sebagai warisan budaya tak benda oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada 2013, yang membuktikan kekayaan nilai budaya yang terkandung di dalamnya," tegasnya.
Salah satu keunggulan batik Rifaiyah kata Fallas adalah coraknya yang khas.
Batik ini menggunakan warna sogan ireng-irengan, yaitu coklat kehitam-hitaman, dengan aksen remukan yang membuat motifnya tampak hidup dan unik.
Proses remukan atau serat-serat dalam motif batik ini tidak ditemukan di tempat lain, menjadikannya ciri khas yang hanya dimiliki batik Batang.
"Warna sogan yang digunakan pada batik Rifaiyah berbeda dengan batik dari Solo atau Yogyakarta. Batik Batang cenderung lebih gelap, memberi kesan yang mendalam dan berkarakter," jelas Fallas.
Menurutnya, keunikan ini harus dikemas dan dipromosikan secara modern agar bisa menarik perhatian masyarakat di luar daerah.
Fallas pun menegaskan bahwa visi mereka bukan sekadar janji kampanye.
“Ini adalah bagian dari misi besar kami untuk melestarikan warisan budaya dan memajukan ekonomi daerah. Batik Rifaiyah adalah salah satu permata yang harus dipoles agar bisa bersinar di tingkat nasional,” katanya.
Sementara itu, Calon Wakil Bupati pendamping Fallas, Ahmad Ridwan menambahkan bahwa proses pembuatan batik Rifaiyah memiliki keunikan tersendiri.
"Para pengrajin batik Rifaiyah memiliki tradisi khusus. Sebelum memulai proses membatik, mereka melaksanakan sholat Dhuha dan melantunkan syair-syair berbahasa Arab dan Jawa. Ini bukan hanya soal kain, tapi juga bentuk syiar Islam," kata Ridwan.
Ia menyadari bahwa tantangan utama batik Rifaiyah adalah popularitasnya yang masih kalah dibandingkan dengan batik Pekalongan yang sudah mendunia.
"Meski demikian, batik Batang, terutama batik Rifaiyah, punya kualitas dan potensi yang tidak kalah bersaing," imbuhnya.
Untuk itu, pasangan ini berencana menggandeng pemerintah pusat dan berbagai pihak untuk menggenjot pemasaran batik Rifaiyah.
Strategi mereka termasuk penyelenggaraan pameran budaya, kolaborasi dengan perancang busana ternama, serta promosi melalui platform digital dan media sosial.
"Kami ingin batik Rifaiyah hadir di pekan-pekan mode nasional dan acara pameran seni budaya, sehingga masyarakat luas bisa mengenal dan mengapresiasi keindahannya," ujar Ridwan.
Salah satu langkah konkret yang diusung oleh pasangan ini adalah menghidupkan kembali sentra-sentra produksi batik di desa-desa.
Menurut Ridwan, hal ini tidak hanya akan mempromosikan batik Rifaiyah, tetapi juga menciptakan lapangan kerja baru bagi masyarakat.
“Kami ingin menggerakkan ekonomi rakyat melalui pelestarian budaya. Sentra-sentra batik akan diaktifkan kembali dengan pelatihan dan pendampingan, baik dari segi teknik produksi hingga pemasaran,” kata Ridwan.
Ia menambahkan, keberadaan sentra-sentra ini juga akan menjadi daya tarik pariwisata yang potensial.
Bagi generasi muda, upaya ini juga diharapkan menjadi ajakan untuk tetap mencintai dan melestarikan budaya lokal.
Fallas menyatakan bahwa penting untuk menanamkan rasa bangga akan warisan budaya sejak dini.
"Bukan hanya untuk keuntungan ekonomi, tetapi juga untuk memperkuat jati diri sebagai warga Batang yang kaya akan budaya," tandasnya.(yan/ida)
Editor : Ida Nor Layla