METROPEKALONGAN.COM, Batang - Para siswa SMKN 1 Warungasem menggelar fashion show hasil karya mereka sendiri, Selasa 7 Januari 2025.
Kegiatan kali ini fokus pada produk karya batik khas Kabupaten Batang. Siswi-siswi berlenggak lenggok layaknya model profesional di atas catwalk yang dibangun permanen di sekolah tersebut.
Kepala SMKN 1 Warungasem, Suyanta menjelaskan, batik Batang saat ini sudah masuk dalam kurikulum di sekolah yang dipimpinnya. Para siswa diajari cara membatik hingga membuat motif.
"SMK itu kan kejuruan, di sekolah ini juga ada jurusan tata busana. Makanya, agar batik ini tidak punah, mestinya harus disosialisasikan dengan kuat. Ini diajarkan di sekolah," ucapnya.
Karenanya, di sekolah tersebut ada mata pelajaran yang bisa dipilih para siswa. Sarana dan prasarana penunjang pembatik juga disiapkan oleh sekolah. Seperti malam, canting, hingga kainnya.
Para siswa belajar membuat batiknya sendiri, terutama batik motif-motif tradisional di Kabupaten Batang.
Apalagi tradisi batik tradisi di Kabupaten Batang saat ini sudah terancam punah. Yaitu Batik Rifaiyah.
Para perajin batik itu hanya tersisa sekitar 30 orang saja. Dengan hanya menyisakan dua pembatik muda.
Batik tulis Batang memiliki ciri khas. Di antaranya, warna yang cenderung lebih gelap atau disebut sogan ireng-irengan, dengan warna cokelat kehitam-hitaman yang khas.
Ada teknik pewarnaan tiga negeri, dengan memadukan tiga warna sekaligus. Yaitu warna dasar cokelat di atas kain putih, kemudian warna biru, kemudian warna merah atau sebaliknya.
Dari prosesnya, ada kebiasaan yang disebut remukan. Yaitu, malam atau lilin batik akan diremukkan sehingga menciptakan motif garis yang tidak tegas alias seperti luber yang malah menjadikan ciri khas unik tersendiri.
Salah satu siswa yang semangat belajar membatik adalah Suci Ekawati, 17, siswa kelas 12 di SMKN 1 Warungasem. Ia sedang membuat motif asem, batik khas Warungasem. Tangannya terlihat sudah luwes menggoreskan malam yang ada di canting ke kain putih.
"Saya diajari membuat pola, motif, nyanting, hingga pewarnaan. Paling sulit pewarnaan. Seminggu belajarnya satu kali," ucapnya.
Kasi SMK Cabang Dinas Pendidikan Wilayah 13, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah, Nuniek Mustikaningtyas Runtuweni menjelaskan, perlu peran pemerintah daerah untuk membuat kebijakan.
Batik bisa dijadikan sebagai kurikulum tersendiri di sekolah-sekolah. Dengan demikian, generasi muda bisa belajar dan ikut melestarikan batik di sekolah.
Apalagi SMK saat ini sudah memakai kurikulum merdeka. Tentu bisa memasukkan pelajaran batik di mata pelajaran pilihan ataupun ekstra kurikuler.
"Harapan kami bisa mendorong pelatihan membatik lebih masif di dalam pembelajaran di sekolah," ucapnya. (yan/ida)
Editor : Ida Nor Layla