METROPEKALONGAN.COM, Batang - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Batang masih melakukan penyelidikan epidemiologi terkait kasus keracunan jajanan jelly-jelly yang dialami siswa SDN Denasri Kulon 2.
Peristiwa itu menimpa 8 siswa yang mengalami gejala mual, pusing, muntah, hingga sakit perut setelah mengonsumsi jajanan di sekitar sekolah, Selasa 14 Januari 2025 pukul 09.30 WIB.
Kepala Dinkes Kabupaten Batang, Didiet Wisnuhardanto menjelaskan, penyelidikan dilakukan untuk memastikan penyebab pasti kejadian ini.
Sampel itu diambil dari jajanan bermerek Ikky Jelly yang dibeli dari lapak Mak Seh di depan sekolah.
"Produk itu jangan dijual ke masyarakat sebelum hasil lab keluar," tegasnya, Kamis 16 Januari 2025.
Sampel tersebut saat ini telah dikirimkan ke laboratorium rujukan untuk dianalisis lebih lanjut.
Berdasarkan keterangan yang dihimpun, tujuh siswa kelas tiga membeli jajanan Ikky Jelly dari lapak Mak Seh.
Lima di antaranya juga mengonsumsi sosis yang dibeli dari lapak Mbak Winda.
Sekitar 30 menit setelahnya, beberapa siswa mulai mengeluhkan gejala mual dan pusing.
Dari delapan siswa yang terdampak, dua di antaranya, yakni Sandi Anggoro dan Nurhidayat Ramandhan, mengalami gejala lebih parah berupa muntah, lemas, dan sakit perut.
Para siswa melaporkan bahwa jelly yang mereka konsumsi memiliki rasa pahit dan asam dengan bau menyengat. Menyadari hal ini, pihak sekolah segera mengambil tindakan darurat dengan memberikan air degan.
Pada Rabu 15 Januari 2025, sebagian besar siswa yang sebelumnya mengalami gejala telah kembali masuk sekolah dalam kondisi sehat. Namun, satu siswa masih mengeluhkan pusing ringan.
Selain mengirimkan sampel makanan ke laboratorium, Dinas Kesehatan juga melakukan penyelidikan epidemiologi di lokasi kejadian.
"Kami berharap hasil analisis laboratorium dapat segera keluar agar penyebab pasti kasus ini dapat diketahui," tambah Didiet.
Kasus ini menjadi peringatan bagi para orang tua dan pihak sekolah untuk lebih waspada terhadap keamanan jajanan yang dikonsumsi anak-anak.
Dinkes Batang juga mengimbau masyarakat untuk memastikan kebersihan dan kelayakan pangan yang dijual di sekitar lingkungan sekolah.
"Keamanan pangan harus menjadi prioritas, terutama untuk anak-anak yang rentan terhadap keracunan," tandasnya. (yan/ida)
Editor : Ida Nor Layla