METROPEKALONGAN.COM, Batang - Batang kayu sisa banjir bandang pada Senin 20 Januari 2025 menyumbat muara Sungai Sambong di Kecamatan Batang.
Jumlah material yang sangat banyak itu tersangkut di kapal-kapal nelayan di muara sungai.
Kapal-kapal tidak bisa bergerak, sedangkan tumpukan tidak hanya mengambang namun sampai ke dasar sungai.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Batang pun mulai bergerak untuk membersihkan material sisa-sisa banjir bandang tersebut.
Kepala Dinas Kelautan Perikanan dan Peternakan (Dislutkanak) Batang Windu Suriadji mengatakan, dua alat berat dikerahkan.
Yaitu ekskavator yang bisa bekerja di sungai milik Dislutkanak dan buldoser. Lalu dump truk milik DLH untuk mengangkut kayu.
"Penanganan akibat banjir, yang mana ada sampah-sampah kayu di muara Sungai Sambong itu mulai hari ini sudah di sudah dilakukan pembersihan," ujarnya, Jumat 24 Januari 2025 kepada Jawa Pos Metro Pekalongan.
Windu menjelaskan pembersihan itu melibatkan unsur stakeholder. Antara lain TNI AL, Polairud, Polres Batang, HNSI, dan OPD terkait seperti DLH dan DPUPR.
Karena material sangat banyak, dan cakupannya sangat luas estimasi pembersihan material itu mencapai 20 hari ke depan.
"Kami bareng-bareng membersihkan menggunakan alat ekskavator. Material diangkut menggunakan dump truk, sementara dilokalisir di lahan depan gedung nelayan," imbuhnya.
Sungai sambong di daerah muara diperkirakan memiliki kedalaman hingga 5 meter dengan lebar sekitar 70 meter.
Material kayu, sampah dan lumpur itu berhenti dan menyumbat muara sungai. Sehingga air tidak bisa maksimal mengalir ke laut.
Sementara kapal-kapal dan perahu nelayan pun tidak bisa beraktivitas karena hal tersebut.
Ketua Dewan Pimpinan Cabang Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Batang, Teguh Tarmujo menjelaskan, lokasi tumpukan kayu sisa banjir bandang itu ada di utara Jembatan Seturi.
Sudah empat hari para nelayan tidak bisa mencari ikan, karena tidak ada jalan menuju laut. Tiga kapal besar melintang di tumpukan kayu-kayu dan sampah tersebut.
"Otomatis mematikan total aktivitas nelayan. Terutama nelayan-nelayan kecil yang sandarnya di selatan jembatan. Target pertama pembersihan ini untuk membuka jalur, supaya bisa dilewati nelayan untuk bisa melaut," ucapnya.
Kapal-kapal besar yang melintang itu juga akan digeser, agar para nelayan bisa kembali melaut. Selain itu pihaknya mendata ada 4 kapal besar hanyut.
Kondisinya kandas di bawah Jembatan Seturi. Lalu terdampar di Safari Beach Jateng, pelabuhan niaga, dan muara sungai di Klidang Lor.
"Ada beberapa kapal juga yang tenggelam, tapi lokasinya bisa ditandai," tandasnya. (yan/ida)
Editor : Ida Nor Layla