METROPEKALONGAN.COM, Batang - Pj Bupati Batang, Lani Dwi Rejeki menyempatkan diri menyambangi warga terdampak banjir di Desa Surjo, Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang, pada Senin 30 Januari 2024.
Dalam kunjungannya, ia meninjau langsung kondisi warga yang terdampak bencana dan memberikan dukungan serta layanan kesehatan gratis.
"Kami meninjau ke Desa Surjo, melihat warga yang kemarin terkena bencana dan mengungsi. Ini kebetulan dari organisasi lintas tenaga kesehatan di wilayah Kabupaten Batang yang berinisiatif memberikan layanan kesehatan gratis bagi warga terdampak banjir," ujar Lani.
Warga yang ada di Surjo mendapatkan layanan kesehatan gratis, termasuk trauma healing dari tim terkait.
Salah satu momen yang menyentuh adalah ketika ia mengunjungi seorang ibu dan anak hanyut terbawa arus banjir bandang bersama rumahnya.
Mereka hanyut sejauh 1 kilometer dan ditemukan dalam kondisi sedang berpelukan di tepian sungai oleh warga.
Keduanya sempat dirawat tiga hari di RSUD Limpung. Namun karena luka yang mengalami pembusukan dan jahitan lepas, mereka akan dirujuk ke RSUD Batang agar mendapatkan perawatan medis yang lebih optimal.
"Lukanya sudah dijahit dan hari ini dilihat oleh dokter, dibersihkan, diganti perban, dikasih obat, dan sebagainya. Namun, mereka perlu dirujuk lagi ke RSUD Kalisari Batang untuk mendapatkan perawatan yang lebih intensif biar cepat sembuh," jelas Lani.
Sang ibu bernama Tusripah, 48, dan anaknya Robyong Nurhalimah, 18. Tusripah bersama anaknya kini tinggal di rumah saudaranya yang tak jauh dari lokasi.
Rumahnya sudah lenyap disapu banjir bandang Sungai Gede yang sekarang bernama Sungai Gede Mulyo.
Ia pun menceritakan detik-detik menegangkan yang nyaris merenggut nyawanya itu.
Sebelumnya diberitakan, dua orang warga Surjo hanyut bersama rumahnya saat banjir bandang, Senin 20 Januari 2025.
Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 18.45 WIB dan mereka ditemukan berpelukan di tengah timbunan lumpur dan kayu.
"Habis salat Magrib, saya mendengar ada suara seperti angin dan suara mobil. Terus saya dengar ada suara kayu terbentur, saya keluar tapi air sudah masuk. Saya buka pintu membawa anak saya, air sudah masuk semua. Mau cari tempat aman sudah tidak bisa, air sudah penuh," ujar Tusripah sembari duduk di kasur bersama anaknya yang sekarang hanya bisa duduk dan berbaring.
Sang anak, Nurhalimah mendapatkan luka lebar di kaki hingga mendapatkan 21 jahitan. Jahitan tersebut banyak yang terlepas dan ada pembusukan luka hingga membuatnya belum bisa berjalan. Keduanya terlihat masih trauma atas kejadian mengerikan itu.
Tusripah melanjutkan ceritanya. Kebetulan, saat kejadian di rumahnya yang berdekatan dengan sungai itu hanya ada dua orang.
Mereka tinggal bertiga, satu anaknya yang lain, Bagas Nugroho, 14, sedang tidak di rumah. Hujan lebat mengguyur sejak siang hari, ia tidak tahu bahwa Sungai Gede yang hanya selebar 2 meter akan meluap.
Niatnya untuk keluar mencari tempat aman bersama anaknya. Namun tak sempat keluar rumah, air limpasan sungai sudah memenuhi rumahnya. Ia langsung memeluk anaknya hingga hanyut tergulung banjir bandang bersama rumah.
"Anak saya bilang takut buk, maka saya peluk. Sampai hanyut di sana masih saya peluk. Dari rumah, saya pelukan sama anak saya, sampai hanyut itu masih pelukan. Saya sudah tidak merasakan apa-apa, walaupun kebentur-bentur, kebalik-balik, saya pasrah sama anak saya," ucapnya.
Beberapa waktu berselang, mereka sudah terdampar di tepian sungai dan tersangkut di tumpukan kayu dan lumpur. Hingga ditemukan warga, keduanya masih berpelukan.
"Air itu sudah tidak ada, saya sudah duduk sama anak saya. Saya minta tolong, ada warga di situ," tuturnya.
Lantas dievakuasi warga ke Puskesmas Reban dan dirujuk ke RSUD Limpung. Trauma berat tentu dirasakan, mereka mengalami luka-luka di hampir sekujur tubuh.
Tusripah masih merasakan nyeri dan sakit di bagian tangan, lengan, dada, dan luka bekas operasi di kaki.
Sementara itu, Lani juga menambahkan, beberapa rumah rusak atau roboh akan ditangani secara bertahap.
Ratusan orang sekarang mengungsi, terutama saat hujan lebat melanda. Dua posko pengungsian dibuka pemerintah desa setempat.
"Ada sekitar 500 orang yang mengungsi. Mereka ditampung, tapi kalau sudah dalam kondisi tidak hujan, mereka kembali ke rumah masing-masing," ujarnya.
Logistik bagi para pengungsi juga sudah aman dan mencukupi. Tidak ada kekurangan bahan makanan.
Ketua Tim Lintas Organisasi Nakes (Tenaga Kesehatan), dokter Muryanto, spesialis bedah, menyampaikan, dari tim organisasi lintas nakes, menurunkan 100 tim tenaga kesehatan untuk membantu memeriksa kesehatan warga terdampak banjir bandang.
"Kami sekarang berada di lokasi di mana ibu dan anak yang terbawa arus banjir bandang harus mendapatkan perawatan khusus. Lukanya kotor, sehingga perlu dilakukan pembersihan ulang dan penjahitan ulang. Saya lihat lukanya sudah membusuk dan terbuka. Akan ditangani di RSUD Kalisari Batang. Lukanya ada di kaki, di belakang telapak, kemudian di tulang tumit di bagian kiri, beberapa luka yang cukup kotor," tandasnya.(yan/ida)
Editor : Ida Nor Layla