METROPEKALONGAN.COM, Batang – Permasalahan sampah di Kabupaten Batang kembali mencuat dengan kondisi yang semakin memprihatinkan.
Sejumlah titik di daerah ini dipenuhi tumpukan sampah yang tidak hanya menciptakan kesan kumuh, tetapi juga menimbulkan bau menyengat dan berpotensi menjadi sumber penyakit.
Salah satu lokasi yang paling mencolok adalah sisi barat jembatan Pantura Kali Kuto serta di Pasar Plelen dan Pasar Limpung.
Di jembatan Kali Kuto, kondisi tumpukan sampah dinilai sudah keterlaluan.
Padahal, lokasi tersebut berada di perbatasan dengan Kabupaten Kendal yang seharusnya menjadi wajah depan Kabupaten Batang.
Di Pasar Plelen, pemandangan serupa terjadi, dengan sampah yang meluber hingga ke Jalan Raya Pantura, mengganggu arus lalu lintas yang padat.
Plt. Kepala Pasar Plelen, Indi Harto mengungkapkan, keberadaan sampah di daerah tersebut sudah sangat mengganggu dan berisiko menimbulkan penyakit.
Parahnya lagi, lokasi pembuangan sampah tersebut berdekatan dengan warung makan, yang semakin meningkatkan kekhawatiran masyarakat.
Menurut Indi, sampah yang menumpuk bukan hanya berasal dari pedagang pasar, tetapi juga dari masyarakat desa sekitar.
Sayangnya, kesadaran warga terhadap kebersihan lingkungan masih rendah. Banyak di antara mereka yang membuang sampah sembarangan, bahkan tanpa turun dari kendaraan.
“Mereka enggan berjalan beberapa langkah ke bak penampungan dan lebih memilih membuang dari atas sepeda motor,” keluh Indi.
Pihak Dinas Lingkungan Hidup (DLH) yang bertugas mengangkut sampah pun mengaku mengalami kendala akibat kurangnya armada.
Akibatnya, sampah di Pasar Plelen dan Jembatan Kali Kuto hanya bisa diangkut seminggu, dua atau tiga kali, sehingga menumpuk dalam jumlah besar.
Kondisi yang lebih mengkhawatirkan terjadi di Pasar Limpung.
Indi Harto mengajak tim media untuk melihat langsung lokasi penampungan sampah di sebelah utara pasar.
Di sebidang tanah seluas 22x80 meter, terlihat tumpukan sampah yang menyerupai gunung.
Yang lebih mengejutkan, sampah tersebut telah menumpuk selama 25 tahun tanpa pernah diangkut, sehingga kini telah melebihi kapasitas dan semakin hari semakin tinggi.
Indi bahkan sampai mendatangkan buldoser untuk meratakan tumpukan sampah agar tidak semakin menggunung.
“Jika cuaca panas, terkadang saya bakar sendiri. Tapi tidak jarang mendapat komplain dari warga sekitar karena asap menyebar ke mana-mana,” ungkapnya.
Menurut Indi, permasalahan ini muncul karena tidak adanya bak penampungan sampah di setiap desa atau kompleks perumahan.
Akibatnya, lokasi yang seharusnya hanya diperuntukkan bagi pedagang pasar, kini berubah menjadi tempat pembuangan sampah umum.
Baca Juga: Sampah Penuhi Jalanan di Sekitar Pasar Plelen Gringsing, Kabupaten Batang Melihat kondisi yang semakin parah, anggota Komisi C DPRD II Batang, Mu’afi, mendesak pemerintah daerah untuk segera membangun Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang lebih layak.
“TPA di Randukuning Kandeman sudah mulai penuh. Pemkab bisa menggunakan lahan aset Perumda untuk lokasi baru yang jauh dari pemukiman serta memiliki kapasitas lebih besar,” tegas Mu’afi.
Selain itu, Mu’afi juga menyoroti kurangnya armada pengangkut sampah.
Ia meminta agar jumlah armada ditambah agar sampah dari berbagai lokasi dapat terangkut secara maksimal, sehingga tidak terus menumpuk dan menimbulkan ancaman bencana serta penyakit bagi warga sekitar.
Permasalahan sampah di Kabupaten Batang sudah berlangsung bertahun-tahun tanpa solusi yang efektif.
Jika tidak segera ditangani, tumpukan sampah ini bisa menjadi bom waktu yang dapat berdampak buruk bagi kesehatan dan lingkungan.
Masyarakat dan pemerintah daerah harus segera mengambil langkah konkret sebelum dampak yang lebih besar terjadi. (han/ida)
Editor : Ida Nor Layla