METROPEKALONGAN.COM, Batang - Sudah hampir dua bulan, pasokan air bersih dari Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Air Minum Sendangkamulyan tersendat.
Hal ini akibat banjir bandang yang terjadi beberapa waktu lalu. Sumber mata air pun terus dicari untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat Kabupaten Batang.
“Airnya kalau pun mengalir, hanya tengah malam sekitar pukul 01.00, subuh sudah mati lagi. Itu pun cuma kricik-kricik, sangat kecil alirannya,” keluh Ushul Harmanto, 69, warga Desa Tegalsari, Kecamatan Kandeman.
Ia mengaku sudah menggunakan tandon air untuk menampung jika sewaktu-waktu udara mengalir.
Namun, tempat penampungan itu tetap kosong, tak pernah terisi penuh. Hal yang senada dirasakan Yanti, warga Kelurahan Kauman, Batang Kota. Ia juga kesulitan mendapatkan air bersih.
“Udara yang mengalir sangat kecil, untuk menampung saja butuh waktu lama. Sangat tidak cukup untuk kebutuhan sehari-hari,” katanya.
Bahkan, penjaga sumber mata air pun sempat hanyut terbawa arus deras saat sedang bersiap salat Asar.
"Alhamdulillah beliau selamat karena sarungnya nyangkut di pohon mengomel. Tapi motornya tak bisa diselamatkan, tertimpa batu dan pohon besar. Kami sudah menggantinya dan memberikan inventaris motor sebagai penggantinya," jelasnya.
Kondisi ini tidak hanya berdampak pada masyarakat, namun juga merugikan perusahaan. Siswandi menyebut, kerugian akibat bencana tersebut diperkirakan mencapai Rp1 miliar.
"Kemarin, Rabu 14 Mei, Komisi II DPRD Batang bersama DLH dan DPU PR meninjau langsung lokasi. Mereka melihat betapa fatalnya dampak banjir ini. Sungai yang sebelumnya hanya selebar 3 meter kini melebar hingga 12-15 meter," jelasnya.
Dari tujuh titik sumber mata air, lima rusak parah. Batu-batu besar tak bisa digeser, bahkan dengan alat berat sekalipun.
Karena akses ke lokasi hanya bisa melewati sepeda motor atau jalan kaki di lereng. Meski mengalami kerusakan parah, gagal terus berupaya mencari solusi.
"Kami sudah mencari sumber mata air baru seperti Tuk Pagerukir dan Majapahit. Kami juga mendapat bantuan curah udara dari PDAB atau SPAM Regional Petanglong. Ini khusus untuk mengisi kekurangan pasokan di wilayah Batang Kota," tutur Siswandi.
Biasanya dari Tuk Bismo, Perumda bisa mendapatkan pasokan 200 liter per detik. Kini, hanya tersisa 160 liter per detik.
"Artinya ada 40 liter per detik yang harus dicari penggantinya. Dan itu kami lakukan semaksimal mungkin," katanya.
Baca Juga: Naik 140 Persen, Laba PAM Sendang Kamulyan Batang Rp 14 Miliar
Pembangunan instalasi baru dan perbaikan terus dilakukan secara bertahap. Sehingga seluruh masalah bisa teratasi.
“Kami minta maaf atas gangguan ini. Kami paham betapa sulitnya masyarakat tanpa air bersih, tapi kami pastikan perbaikan terus berjalan,” tandasnya. (yan/ida)
Editor : Ida Nor Layla