METROPEKALONGAN.COM, Batang – Warga Desa Kalipucang Wetan, Kecamatan Batang, berhasil menunjukkan aksi nyata dalam mengelola sampah melalui pendirian Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS3R).
Sejak didirikan pada tahun 2014, TPS3R Kalipucang Wetan terus berkembang menjadi solusi konkret pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang mandiri dan berkelanjutan.
Menurut M Fasoli, perwakilan TPS3R Kecamatan Batang, keberadaan TPS3R ini adalah hasil kolaborasi antara masyarakat, pemerintah desa, dan pegiat lingkungan Kabupaten Batang.
“Perkembangan dari tahun ke tahun Alhamdulillah, terutama tahun 2025 ini luar biasa. Omzet ada, edukasi kepada masyarakat ada, dan hasil pengolahan komposnya pun sudah bisa dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar,” katanya saat ditemui di lokasi.
Produk utama yang dihasilkan dari TPS3R Kalipucang Wetan terdiri atas dua jenis.
Pertama, sampah organik diolah menjadi kompos yang tidak hanya dimanfaatkan oleh warga sekitar, tetapi juga dijual untuk mendukung operasional TPS3R.
Kedua, sampah anorganik seperti plastik dan logam dipilah dan dijual ke mitra yang berada di wilayah sekitar desa.
TPS3R ini dikelola secara langsung oleh lima orang warga Kalipucang Wetan.
Mereka bertugas melakukan pengambilan sampah dari dua RW setiap hari, dimulai sejak pukul 07.00 WIB hingga sore hari.
Proses pengolahan dilakukan secara langsung dan tuntas pada hari yang sama.
Prinsip yang diterapkan adalah “zero waste”, yang berarti tidak ada sampah yang tertinggal atau menumpuk di lokasi pengolahan.
“Pengelolaan sampah kita sudah zero. Setiap hari selesai hari itu juga. Tidak ada tumpukan,” tambah Fasoli.
Ia juga menjelaskan, meski sebagian besar proses masih dilakukan secara manual, semangat petugas TPS3R tetap tinggi.
Mereka berharap adanya penambahan alat bantu seperti mesin pencacah atau van belt untuk mempermudah pemilahan sampah.
Dalam kegiatan Sambang Desa yang digelar pada 10 Juli 2025 lalu, TPS3R Kalipucang Wetan turut ambil bagian sebagai lokasi edukasi.
Mereka memperkenalkan sistem kerja TPS3R kepada para pengunjung, masyarakat umum, serta instansi yang hadir.
Ajang tersebut menjadi momentum penting untuk menyebarkan semangat pengelolaan sampah mandiri ke desa-desa lain di Kabupaten Batang.
“Harapan kami, virus kebaikan ini bisa menyebar ke seluruh wilayah Batang. TPS3R bukan hanya mengelola sampah, tapi juga mendidik masyarakat agar lebih bijak dalam memperlakukan sampah yang ternyata bisa bernilai,” tutur Fasoli.
Meski demikian, TPS3R juga menghadapi sejumlah kendala di lapangan.
Menurut Umar, salah satu petugas, masih banyak masyarakat yang membuang sampah di luar jam operasional.
“Kendala yang sering kami temui seperti sampah popok bayi, kaca, dan paku, yang tidak dipisahkan dari sampah lainnya. Padahal, ini sangat berisiko saat pemilahan,” ujarnya.
Melalui TPS3R patut diapresiasi. Langkah kolektif ini menunjukkan bahwa perubahan besar bisa dimulai dari langkah kecil di desa, asalkan ada kesadaran dan komitmen bersama. (chilyatulashfiya/ida)
Editor : Ida Nor Layla