METROPEKALONGAN.COM, Batang - Surini, 60, tetap menjaga tradisi membuat Serabi Kalibeluk masih tetap bertahan hingga kini. Kendati diterjang gempuran modernisasi.
ADALAH Ibu Surini, perempuan berusia 60 tahun ini menjadi penjaga rasa sekaligus pelestari budaya pembuatan Serabi Kalibeluk di Desa Kalibeluk, Kecamatan Warungasem, Kabupaten Batang.
Yakni, kue tradisional berbahan dasar tepung beras yang tak hanya menggoda lidah, tetapi juga mengandung cerita leluhur yang diwariskan hingga lintas generasi.
Ia merupakan generasi ketiga dalam keluarganya yang mewarisi keahlian membuat serabi khas Kalibeluk.
“Saya belajar dari ibu saya, ibu saya belajar dari nenek saya. Serabi ini bukan sekadar makanan, tapi amanah dari leluhur,” ujarnya.
Serabi Kalibeluk buatan Bu Surini punya keistimewaan yang sulit ditiru. Meski banyak orang sudah mencoba menyalin resepnya, belum ada satu pun yang berhasil menghasilkan rasa yang serupa.
“Saya tidak pernah menyembunyikan resep. Siapa pun boleh belajar, tapi tidak semua bisa membuatnya seperti saya. Mungkin karena ini memang sudah mengalir di darah keturunan,” jelasnya.
Setiap hari, Bu Surini bisa membuat hingga 40 rangkap serabi mulai dari pukul 5 pagi hingga 4 sore.
Prosesnya panjang dan melelahkan. Semua dikerjakan sendiri, mulai dari menumbuk kelapa dan beras, membuat adonan, hingga memanggangnya satu per satu di atas tungku kayu. Cetakan dan tutup serabi pun masih menggunakan tembikar tanah liat.
Uniknya, kelapa untuk adonan tidak diparut seperti kebanyakan, melainkan ditumbuk bersama beras untuk menghasilkan tepung.
Teknik ini menjadi salah satu rahasia tekstur dan aroma serabi Kalibeluk yang khas.
Untuk meringankan proses menumbuk, Bu Surini kini menggunakan alat khusus hasil pesanan pribadi.
Serabi Kalibeluk hanya memiliki satu rasa yakni manis gula jawa. Sederhana, namun melekat dalam ingatan.
Serabi dijual sepasang dengan harga Rp1 5 ribu. Tanpa bahan pengawet, kue ini hanya tahan satu setengah hari.
Maka tak heran, pembelinya kebanyakan memesan untuk acara khusus seperti hantaran pernikahan atau hajatan besar.
Namun bukan hanya rasanya yang melegenda. Di balik serabi ini, tersimpan kisah rakyat yang dipercayai masyarakat setempat, tentang Bahurekso dan Dewi Rantansari.
Konon, ketika Dewi Rantansari menolak perjodohan dan melarikan diri, pengawalnya mengganti dirinya dengan seorang perempuan mirip yang ternyata adalah penjual serabi.
Ibu Surini menyebutkan, dirinya adalah keturunan dari perempuan pengganti itu. Serabi Kalibeluk kini tidak hanya dikenal di lingkungan desa.
Lewat berbagai event pemerintah daerah, seperti pameran kuliner dan produk lokal, serabi Bu Surini mulai dikenal luas dan menjadi ikon kuliner tradisional Batang.
Meski masih mengandalkan satu tungku dan mengerjakannya sendiri, Bu Surini tidak khawatir soal masa depan serabi Kalibeluk.
Anak-anaknya sudah mulai belajar dan siap meneruskan usaha ini.
“Tinggal tungkunya saja yang satu, jadi saya kerjakan sendiri. Tapi anak-anak saya bisa dan siap melanjutkan usaha ini,” ucapnya.
Serabi Kalibeluk bukan sekadar panganan biasa, melainkan warisan budaya yang layak dijaga.
Dan selama tungku itu masih menyala, aroma manis dari dapur Bu Surini kulinerakan terus menguatkan ingatan masyarakat Batang akan identitas kulinernya. (chilyatulashfiya/ida)
Editor : Ida Nor Layla