METROPEKALONGAN.COM, Batang - Berawal dari hobi menonton anime, Jihan Mahdiana, 22, warga Batang, kini sukses mengubah kegemarannya menjadi sumber penghasilan. Yakni lewat jasa make up cosplay.
Kesukaan Jihan Mahdiana terhadap budaya Jepang, khususnya dunia anime dan cosplay, ternyata menjadi ladang bisnis menjanjikan.
Bahkan, lulusan Teknik Komputer dan Jaringan ini, sekarang sudah dikenal sebagai MUA (Make Up Artist) cosplay yang cukup populer di kalangan komunitas Jejepangan lokal.
Awalnya, Jihan hanya seorang remaja yang gemar menonton anime seperti Chainsaw Man, Attack on Titan, hingga Hachi.
Dari kegemarannya itulah ia mulai tertarik mendalami dunia cosplay — seni memerankan karakter fiktif lengkap dengan kostum dan riasan.
Tahun 2017 menjadi titik awal perjalanannya, ketika ia bergabung dengan komunitas Majisuka di Batang. Yakni, komunitas yang fokus pada kebudayaan Jepang, terutama cosplay dan musik J-pop.
Dari sinilah segalanya bermula. “Awalnya cuma ikut-ikut event buat senang-senang, nyoba bikin kostum sendiri dari bahan-bahan yang ada di rumah,” ujar Jihan.
Salah satu karakter pertama yang ia mainkan adalah Reze dari anime Chainsaw Man. Ia merancang sendiri kostum dan riasannya, mulai dari menjahit hingga styling wig — semua dilakukan secara otodidak.
Keterlibatannya dalam komunitas tak hanya berhenti di Majisuka. Ia melebarkan sayap ke komunitas cosplay lain di Pekalongan dan sekitarnya.Dari sana, ia mengasah kemampuannya, khususnya dalam hal make up karakter dan menata wig.
Menurutnya, setiap karakter memiliki ciri khas masing-masing, sehingga dibutuhkan teknik make up yang berbeda pula. Beranjak dari sekadar hobi, Jihan mulai melirik potensi bisnis dari kegiatan ini.
“Dulu nggak kepikiran bakal jadi penghasilan. Tapi makin ke sini, banyak yang minta make up-in mereka buat event cosplay. Dari situ aku mulai buka jasa,” katanya.
Tahun 2024 menjadi momen penting ketika ia resmi membuka jasa make up khusus cosplay. Tak tanggung-tanggung, Jihan kini bisa menangani 4 hingga 8 klien dalam satu event.
Namun, harga bisa naik tergantung tingkat kesulitan make up atau permintaan khusus seperti prostetik, efek khusus, atau karakter dengan gaya riasan ekstrem.
Meski begitu, tantangan tentu tak sedikit. Jihan harus berinvestasi dalam berbagai produk make up yang cocok untuk kulit klien yang berbeda-beda, memperbarui koleksi wig dan kostum, hingga menjaga kepercayaan pelanggan terhadap hasil riasan dan pelayanannya.
“Aku banyak belajar dari pengalaman. Kadang ada klien yang request karakter yang belum pernah aku buat, jadi harus riset dulu, belajar tekniknya, sampai hasilnya sesuai ekspektasi,” jelasnya.
Dalam perjalanan bisnisnya, Jihan tak hanya menjual jasa, tapi juga memperkenalkan nilai kreativitas dan kerja keras kepada generasi muda yang memiliki hobi serupa.
Di tengah masih minimnya pelaku jasa make up cosplay di wilayah Batang dan Pekalongan, keberadaan Jihan menjadi warna baru bagi para cosplayer lokal.
Ia membuktikan bahwa industri kreatif berbasis hobi bukan sekadar angan, tapi bisa menjadi sumber penghasilan yang nyata jika ditekuni dengan konsisten dan inovatif.
Kini, Jihan punya harapan lebih besar. Ia ingin membuka studio kecil yang tidak hanya menyediakan jasa make up, tetapi juga pelatihan bagi pemula yang ingin belajar make up karakter dan wig styling.
“Biar makin banyak yang bisa menyalurkan hobinya secara positif dan mungkin suatu saat bisa punya penghasilan juga dari situ,” ungkapnya penuh semangat.
Kisah Jihan Mahdiana adalah bukti bahwa hobi, jika dirawat dan diarahkan, bisa tumbuh menjadi jalan hidup yang tak hanya membahagiakan, tapi juga menguntungkan. (chilyatulashfiya/ida)
Editor : Ida Nor Layla