METROPEKALONGAN.COM, Batang - Sebanyak 61 konten kreator dari berbagai daerah mengangkat batik Rifaiyah untuk jadi bahan konten.
Agenda tersebut dilakukan untuk memeriahkan hari Kemerdekaan Indonesia ke-80 tahun.
Peserta diwajibkan membuat konten foto atau video disertai narasi untuk mengenali batik yang terancam punah ini ke publik.
"Ini karena batik Rifaiyah sudah hampir punah, pembatiknya tinggal 30 orang saja," ujarnya.
Sementara itu, Miftakhutin selaku tokoh pembatik Rifaiyah menjelaskan bahwa saat ini batik tersebut sedang digandrungi banyak orang dari berbagai daerah. Bahkan luar negeri.
Namun demikian, kendala jumlah pembatik yang semakin sedikit menjadi persoalan. Sehingga para pembatik kuwalahan dalam menerima pesanan.
"Semakin banyak yang kenal, semakin banyak yang jatuh cinta, tapi produksi yang halus itu butuh waktu lama. Pembeli harus mengantri, kalau pengen yang halus," ucapnya.
Pembeli normal satu batik ini berasal dari Jakarta, kemudian disusul Negara Singapura. Guna menghadapi tantangan zaman, Utin mulai merancang strategi agar pembatik Rifaiyah segera teregenerasi.
"Saya sudah memulai mengajarkan batik di sekolahan saya Mi Al Islam Watesalit Batang, dari kelas 3 sampai kelas 6 mereka harus sudah bisa menghasilkan produk sendiri," tuturnya. (yan/ida)
Editor : Ida Nor Layla