METROPEKALONGAN.COM, Batang – Ratusan hektare lahan persawahan di Kecamatan Batang tak pernah kering lagi karena terendam rob.
Mayoritas lahan sawah yang hilang itu berstatus milik petani, sebagian lainnya lahan milik pemerintah daerah.
Bencana rob ini semakin parah semenjak tanggal penahan rob Kota Pekalongan dibangun.
Lurah Kasepuhan, Kecamatan Batang, Umar Winanto, menyebut bencana ini sudah berlangsung lebih dari satu dekade.
“Total ada 120 hektare lahan yang sudah tidak bisa ditanam, dan 30 hektare lagi terdampak rob musiman,” ungkap Umar.
Kerusakan bukan hanya menyasar sawah. Dari 25 hektare kebun melati yang dulu disebut warga sebagai “emas putih”, kini tidak tersisa sedikit pun.
Tahun lalu, dari 201 hektare lahan produktif, masih ada 115 hektare yang bisa diselamatkan. Namun kini, setiap tahun lahan yang hilang mencapai 5–10 hektare.
Para petani menduga rob yang merendam lahan mereka bukan hanya datang dari arah utara. Tetapi juga dari barat, tepatnya Desa Denasri.
Tanggul laut di Kota Pekalongan menjadi salah satu penyebab pergeseran aliran rob hingga ke Kelurahan Kasepuhan.
“Itu kan pemikiran dan analisa sederhana dari laporan petani ke kelurahan, yang dimungkinkan akibat dari tanggul laut Kota Pekalongan,” terang Umar.
Menghadapi situasi genting ini, pihak kelurahan sudah melayangkan nota dinas kepada Bupati Batang dengan tembusan ke dinas terkait, termasuk DLH, Dinas Perikanan, serta Dinas Pangan dan Pertanian.
Upaya sementara seperti penanaman mangrove sudah dijalankan. Namun Umar menilai, solusi jangka panjang tetaplah pembangunan tanggul laut atau giant sea wall. “Kami masih menunggu,” ucapnya.
Para petani juga menginginkan lahan mereka bisa kering lagi seperti di Pekalongan, di mana area bekas rob berhasil direvitalisasi menjadi sawah produktif lagi.
“Harapan para petani mengembalikan pada pertanian produktif, artinya ada tanggul,” imbuhnya.
Sawah di Kasepuhan dulunya mampu panen dua kali setahun, menghasilkan 6–9 ton per hektare, bahkan hingga 11 ton jika kondisi optimal.
Namun kini potensi pangan itu terancam hilang. Yang lebih mengkhawatirkan, rob diperkirakan akan terus merembet ke arah selatan dan mengancam permukiman warga.
“Pembangunan tanggul laut sangatlah mendesak karena terkait produksi pangan,” tandasnya.
Sementara itu, Dinas Pangan dan Pertanian Kabupaten Batang mencatat Ratusan hektare sawah di empat desa dan kelurahan hilang karena rob.
Total lahan sawah terdampak rob mencapai 370,19 hektare yang tersebar di Kecamatan Batang.
Rinciannya, Desa Denasri Wetan 109,69 hektare, Denasri Kulon 128,29 hektare, Kasepuhan 114,16 hektare, dan Karangasem Utara 18,05 hektare.
Kabid Tanaman Pangan Dispaperta Batang, Rini Diana Anggriani, menegaskan pemerintah daerah berupaya mencari solusi jangka panjang dengan menggandeng lembaga riset nasional.
“Penanganannya, kami ingin mereplika kesuksesan Kota Pekalongan dengan bekerjasama dengan BRIN dan balai di Bogor sebagai narasumber. Harapannya, melalui benih salinitas yang kami kembangkan, lahan terdampak rob masih bisa ditanami padi,” ujarnya. (yan/ida)
Editor : Ida Nor Layla