METROPEKALONGAN.COM, Batang - Ketua Dekranasda Batang Faelasufa Faiz ikut mengantisipasi hilangnya motif-motif batik Rifaiyah dengan dokumentasi di tengah perkembangan zaman.
Menyusul adanya beberapa motif yang dinyatakan punah dari total 24 motif yang terdata.
“Di era digital, Batik kurang menarik perhatian generasi sekarang sehingga dikhawatirkan akan punah. Batik Rifaiyah, dulunya punya 24 motif batik, sekarang tinggal 16 saja,” ungkapnya.
Faelasufa Faiz menyebutkan, Kabupaten Batang memiliki beberapa batik khas, di antaranya Batik Rifaiyah, Batik Pardi, Batik Gringsing, dan sebagainya.
Untuk mengatasi fenomena ini, Dekranasda Batang beserta dinas terkait berkomitmen menyusun beberapa strategi.
Pertama, menggandeng Disperpuska untuk mendokumentasikan motif Batik Rifaiyah.
Dokumentasi yang dimaksud bukan sekadar foto, akan tetapi menyalin motif batik ke kain minyak dengan resolusi 1:1.
“Kedua, Dekranasda bersama Disperindagkop akan mematenkan tinta warna alam milik Batik Pak Pardi. Selain itu, kemasan (packaging) batik juga akan digodok sedemikian rupa oleh tim ekonomi kreatif agar Batik Batang semakin menjual,” tegasnya.
Tahun ini, Dekranasda juga akan mengikutsertakan Batik Batang dalam pameran Inacraft, serta mengadakan lomba mewarnai dan membuat desain motif batik.
“Kami berencana mengajak tim Dekranasda Provinsi Jawa Tengah (Jateng) atau beberapa Dekranasda Kabupaten/Kota se-Jawa Tengah untuk berkonsolidasi, memamerkan potensi wilayahnya dalam ajang bergengsi Jakarta Fashion Week pada Oktober 2026 nanti,” terangnya.
Faelasufa Faiz berharap, batik Khas Batang bisa tetap eksis dan bisa menjadikan Kabupaten Batang sebagai Kota Tourism.
Sementara itu, salah satu pengurus Dekranasda Sapto menyampaikan, batik khas Batang dengan harga yang tergolong mahal, perlu dibuatkan versi printing, agar banyak yang membeli dan banyak yang memakai. (yan/ida)
Editor : Ida Nor Layla