METROPEKALONGAN.COM, Batang – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Batang secara resmi mengajukan Kesenian Babalu sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTb) Indonesia.
Kesenian unik yang lahir di era kolonial ini dinilai memiliki nilai sejarah tinggi, bahkan gerakannya pernah digunakan sebagai kode rahasia bagi para pejuang kemerdekaan.
Jika usulan ini diterima, Kesenian Babalu akan menyusul tiga budaya khas Batang lainnya yang telah lebih dulu meraih predikat WBTb, yakni Serabi Kalibeluk, Nyadran Gunung, dan Batik Rifaiyah.
Kepala Disdikbud, Bambang Suryantoro Sudibyo melalui Kabid Kebudayaan, Camelia Dewi, menjelaskan bahwa proses pengajuan sudah dilakukan melalui Data Pokok Kebudayaan (Dapobud) milik kementerian.
Usulan yang diajukan pada tahun 2025 ini diharapkan dapat disidangkan dan ditetapkan pada tahun 2026.
"Prosesnya sudah maju. Kami sudah mengisi semua isian yang diperlukan, termasuk mengirim naskah akademik, sejarah, foto, hingga video pementasan Kesenian Babalu," ujar Camelia saat diwawancara.
Kesenian Babalu, yang memadukan unsur teater dan tarian, memiliki ciri khas yang sangat mencolok dan mudah dikenali.
Para penampilnya selalu mengenakan kostum unik berupa kacamata hitam, kaus kaki putih selutut, dan membawa peluit.
Menurut Camelia, keunikan ini bukan sekadar atribut, melainkan bagian dari sejarah panjang kesenian yang muncul sekitar tahun 1940-an itu.
"Dulu, gerakan-gerakan tarian Babalu itu semacam kode untuk pejuang-pejuang di Batang zaman dulu. Peluit yang mereka gunakan juga menjadi bagian dari sandi tersebut," ungkapnya.
Kini, Kesenian Babalu yang berkembang di Kecamatan Batang tersebut sering ditampilkan dalam berbagai acara seremonial pemerintahan dan kegiatan masyarakat, menjaga eksistensinya di tengah perkembangan zaman.
Pemilihan Kesenian Babalu untuk diajukan sebagai WBTb didasari oleh beberapa pertimbangan kuat.
Salah satu syarat utama adalah usia objek kebudayaan yang harus lebih dari 50 tahun.
"Babalu sudah sangat memenuhi persyaratan itu karena eksis sejak 1940-an. Alasan kedua, kesenian ini menjadi identitas Kabupaten Batang. Setahu saya, tidak ada kesenian Babalu di tempat lain," tegas Camelia. (yan/ida)
Editor : Ida Nor Layla