Berita Kota Pekalongan Kab. Pekalongan Kab. Batang Ekonomi Bisnis Haji Hiburan Hukum dan Kriminal Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Pemerintahan Politik Pendidikan Sosial dan Budaya Teknologi Wisata

Wali Murid di Batang Keluhkan Telur Berbau Busuk, Dinkes Langsung Cek MBG

Riyan Fadli • Senin, 3 November 2025 | 22:56 WIB
MBG: Pengecekan MBG di SDN 1 Watesalit oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Batang.
MBG: Pengecekan MBG di SDN 1 Watesalit oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Batang.

METROPEKALONGAN.COM, Batang – Sejumlah orang tua siswa mengeluhkan telur rebus yang berbau tidak sedap dalam Makan Bergizi Gratis (MBG) di SD Negeri 1 Watesalit. Makanan itu dibagikan pada Sabtu 1 November 2025 lalu.

Mereka menilai menu yang dibagikan kepada siswa tidak layak konsumsi dan dikemas menggunakan kantong plastik.

Seorang wali murid yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan, anaknya sering membawa pulang menu MBG dengan kantung kresek itu 

"Telurnya busuk, nasinya tidak ada, hanya berisi beberapa snack yang tidak layak,” ujarnya, Senin 3 November 2025.

Ia mengaku kerap memperingatkan anaknya agar tidak langsung memakan makanan dari program tersebut sebelum diperiksa. 

"Karena kita sebagai orangtua tentu khawatir. Seperti hari Sabtu kemarin juga ada menu busuk, hari ini juga sama. Jadi otomatis saya larang anak saya makan,” katanya.

Sementara untuk menu hari ini, dalam satu paket menu MBG, hanya terdapat satu buah pisang, satu bungkus kacang polong, satu butir telur, satu potong tempe, dan puding jagung.

Menu yang dikemas dengan kantong plastik putih transparan tanpa label ini pun dikeluhkan orang tua.

“Kemasan juga tidak menarik dan tidak seperti yang dijanjikan dalam program. Ini bukan hanya soal tampilan, tapi juga kualitas dan kebersihan makanan,” ujar salah satu guru yang enggan disebutkan namanya.

Kepala SDN 1 Watesalit, Sri Mundiasih, membenarkan bahwa selama seminggu terakhir pihaknya menerima menu MBG berupa makanan kering, bukan nasi seperti biasanya.

Ia menjelaskan, kondisi tersebut disebabkan oleh kendala teknis dari pihak penyedia atau SPPG (Satuan Pelaksana Program Gizi).

“Iya, sudah seminggu ini menunya bukan nasi, hanya kue-kue dan snack. Katanya karena ada perbaikan jembatan, jadi pengiriman menu nasi sementara ditiadakan,” ujar Sri saat ditemui di ruang kerjanya.

Menanggapi keluhan tersebut, Dinas Pendidikan Kabupaten Batang langsung melakukan pengecekan ke lokasi.

Kepala Dinas Pendidikan, Bambang Suryantoro Sudibyo, membenarkan bahwa pihaknya telah menerima laporan terkait dugaan menu MBG yang tidak layak konsumsi di SDN 1 Watesalit.

“Iya, kami sudah menerima laporan dan tim kami sedang ke lokasi untuk memastikan kondisi sebenarnya,” kata Bambang saat dikonfirmasi.

Ia menegaskan, program Makan Bergizi Gratis merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah meningkatkan gizi anak sekolah, sehingga tidak boleh disalahgunakan.

“Kami akan memanggil pihak penyedia untuk dimintai keterangan. Kalau terbukti lalai atau melanggar standar gizi dan kebersihan, tentu akan kami tindak,” tegasnya.

Dinas Kesehatan Batang pun mengecek langsung makanan program Kabupaten Batang pada Senin.

Kepala Seksi Surveilans, Imunisasi, dan KLB Dinkes Batang Khairunisa mengatakan, bahwa berdasarkan hasil pemeriksaan sampel makanan di sekolah hari ini, tidak ditemukan tanda-tanda kerusakan atau bau tidak sedap.

“Kalau dari sampel yang kami lihat di sekolah, keadaannya masih bagus. Dari teksturnya juga belum ada perubahan, tidak ada yang lengket, dan dari telurnya pun tidak berbau,” jelasnya.

Ia menjelaskan, pada hari pemeriksaan tersebut, menu MBG di beberapa sekolah diganti dengan makanan kering.

Hal itu dilakukan karena di sekitar dapur penyedia masih ada pekerjaan proyek gorong-gorong, sehingga dikhawatirkan debu dapat mencemari makanan basah.

“Kami konfirmasi ke penyedia MBG, bahwa dalam seminggu ini menu diganti dengan jajanan kering karena ada pengerjaan di sekitar dapur. Jadi bukan karena bahan makanannya rusak,” terangnya.

Menanggapi keluhan terkait bau amis pada telur, Khairunisa menegaskan bahwa bau tersebut masih tergolong normal dan bukan tanda telur yang busuk.

“Amisnya masih wajar, masih seperti bau amis segar dari telur. Untuk sampel yang kami lihat di sekolah tidak ada tanda-tanda telur rusak,” tegasnya.

Meski demikian, Dinkes Batang tetap meminta masyarakat untuk segera melapor jika menemukan makanan MBG yang dinilai tidak layak konsumsi, baik karena bau, tekstur, maupun tampilan yang mencurigakan.

“Kalau memang ada sekolah yang menerima MBG dengan kondisi kurang bagus, bisa langsung diinformasikan ke pihak sekolah atau ke Dinas Kesehatan Kabupaten Batang,” ungkapnya.

Polemik menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SDN 1 Watesalit, Batang, yang dikemas menggunakan kantong plastik juga mendapat tanggapan dari pihak penyedia, SPPG Karangasem Utara.

Raditya, bagian pengolahan di dapur SPPG Karangasem Utara, menegaskan bahwa penggunaan plastik bukan bentuk kelalaian, melainkan keputusan darurat akibat kondisi lingkungan dapur yang terdampak proyek infrastruktur.

“Harusnya kalau setelah didistribusikan ternyata makanan basi atau berlendir, tim kami langsung turun menarik dan mengganti dengan yang baru,” ujar Raditya.

Namun, ia mengakui laporan dari SDN 1 Watesalit baru diterima dua hari setelah makanan dibagikan sehingga sulit melakukan penelusuran ulang.

Begitu juga dari MI Al Islam Watesalit yang juga mengeluhkan telur berbau busuk pada hari Sabtu lalu. 

“Kalau pelaporannya sudah dua hari, agak susah ngerunutnya. Harusnya langsung lapor ke guru di sekolah biar makanan bisa kami tarik dan diganti,” jelasnya.

Baca Juga: Isu Pemotongan Honor Relawan SPPG, Pemkot Pekalongan Siap Sanksi Tegas

Raditya kemudian menjelaskan bahwa selama sepekan terakhir, dapur Karangasem Utara memang terpaksa menggunakan kemasan plastik.

Menurutnya, hal itu terjadi karena adanya perombakan trotoar di sekitar dapur utama yang menimbulkan debu pekat dan gangguan kebersihan di area pencucian ompreng (wadah makan).

“Di dapur kami sedang ada perombakan trotoar pakai ekskavator, dan lokasi pencucian kami di pinggir jalan utama. Debunya parah sekali, Mas,” katanya.

Melihat kondisi tersebut, pihak penyedia mengambil keputusan cepat untuk menghentikan penggunaan ompreng sementara demi menjaga higienitas makanan.

“Owner kami langsung inisiatif stop dulu pakai ompreng karena debunya tebal banget. Kalau diteruskan, pencucian jadi tidak steril,” ungkapnya. (yan/ida)

Editor : Ida Nor Layla
#makanan #telur #batang #Mbg