Berita Kota Pekalongan Kab. Pekalongan Kab. Batang Ekonomi Bisnis Haji Hiburan Hukum dan Kriminal Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Pemerintahan Politik Pendidikan Sosial dan Budaya Teknologi Wisata

Ratusan MBG dari Tiga Sekolah di Batang Ditarik, Menu Berbau Tidak Sedap

Riyan Fadli • Jumat, 7 November 2025 | 00:45 WIB
BERMASALAH: Petugas dari Dinkes Batang saat mengecek sampel menu MBG yang bermasalah.
BERMASALAH: Petugas dari Dinkes Batang saat mengecek sampel menu MBG yang bermasalah.

METROPEKALONGAN.COM, Batang – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Batang kembali menuai sorotan.

Kali ini, keluhan menu bermasalah ini terjadi di MTs NU 02 Batang, MI Karanganyar dan SD Negeri Kalipucang Wetan pada Kamis 6 November 2025 siang.

Lauk telur dadar iris yang dihidangkan dilaporkan beraroma tak sedap atau basi. Akibatnya, ratusan siswa dari tiga sekolah tersebut memilih untuk tidak memakannya demi menghindari keracunan.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Batang, Bambang Suryantoro Sudibyo, membenarkan adanya laporan tersebut.

Namun pihaknya hanya menangani kasus di SDN Kalipucang Wetan. Ia menyatakan ada pengembalian 80 porsi makanan di SD Negeri Kalipucang Wetan.

"Iya benar di SDN Kalipucang Wetan, ada 80 ompreng yang dikembalikan ke SPPG," ujarnya saat dihubungi.

Menanggapi insiden berulang ini, Bambang menekankan pentingnya kehati-hatian. Ia meminta guru dan siswa proaktif mengecek menu MBG sebelum dikonsumsi.

"Cek dulu sebelum dimakan. Kalau dirasa ada hal kurang, laporkan ke guru, kemudian guru lapor ke dinas terkait. Sehingga tidak terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan," tegasnya.

Disdikbud juga mendukung penuh instruksi Bupati Batang M Faiz Kurniawan untuk membentuk forum atau grup komunikasi dengan orang tua siswa guna meningkatkan pengawasan program MBG.

"Itu bagus, nanti kami segera sosialisasikan ke sekolah-sekolah. Agar orang tua juga ikut memantau minimal untuk menu dan lain-lain," pungkasnya.

Sebelumnya, Bupati Batang M Faiz Kurniawan memberi peringatan keras. Pihaknya tidak akan menoleransi oknum yang abai terhadap standar program.

“Kami ingin pastikan program baik ini tidak dirusak oleh oknum. Kalau ada satu saja kasus keracunan terbukti bersumber dari makanan SPPG, izinnya langsung kami cabut,” tegasnya.

Untuk memperkuat pengawasan, Faiz juga menekankan pentingnya keterlibatan orang tua dalam proses evaluasi menu MBG.

Ia menginstruksikan Dinas Pendidikan untuk membuat SOP baru yang mengatur komunikasi antara pihak sekolah, penyedia SPPG, dan orang tua murid.

“Nanti akan dibuat grup komunikasi, supaya orang tua bisa kasih masukan soal menu makanan yang diterima anak-anak mereka,” jelasnya.

Menurutnya, masukan ini penting agar SPPG bisa menyesuaikan menu berdasarkan selera dan kebutuhan gizi anak.

“Kita ingin anak-anak makan dengan senang, bukan sekadar kenyang. Kalau mereka tidak suka menunya, ya percuma juga,” katanya.

Faiz memastikan Pemkab Batang akan segera memanggil seluruh penyelenggara SPPG untuk evaluasi menyeluruh demi mencegah terulangnya kasus serupa.

“Program MBG ini niatnya baik, tapi pelaksanaannya harus konsisten. Kami akan review satu per satu penyedia agar tidak ada lagi kejadian anak keracunan di Batang,” tandasnya. 

Kepala Seksi Surveilans, Imunisasi, dan KLB Dinkes Batang Khairunisa menjelaskan bahwa pihaknya telah mengambil sampel makanan MBG tersebut.

Ia menjelaskan bahwa menu makanan yang disediakan terdiri dari nasi putih, sayur sawi putih bercampur telur dan kuah, telur dadar iris, serta tahu bacem. Dari hasil pemeriksaan awal, ditemukan masalah pada dua item menu.

"Ada perubahan bau, itu yang di sayur sawi sama yang telur dadar. Kalau baunya ini bau khas telur lama, atau telur yang sudah tidak layak. Intinya makanannya sudah berubah bau," tegasnya.

Khairunisa menyatakan, tim Dinkes telah meninjau seluruh lokasi sekolah yang menerima pasokan tersebut, namun hanya mengambil satu sampel untuk dibawa ke dinas.

Ia juga memastikan hingga saat ini tidak ada laporan korban jiwa atau siswa yang jatuh sakit akibat kejadian ini. Respons cepat dari pihak sekolah menjadi kunci pencegahan keracunan masal.

"Alhamdulillah sampai sore ini tidak ada laporan korban. Karena tadi info dari sekolah, ketika membau makanannya itu sudah tidak enak, jadi mereka tarik untuk tidak dibagikan ke murid-murid," ucapnya. 

Dinkes mengidentifikasi penyedia makanan tersebut adalah SPPG Dinasri. SPPG tersebut diketahui belum melengkapi perizinan yang diperlukan untuk beroperasi. Salah satu syarat krusial yang belum dipenuhi adalah Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS).

"SPPG Dinasri itu izinnya belum. Mereka belum melengkapi izinnya. Untuk SLHS-nya kan masih belum memenuhi syarat," tuturnya.

Dinkes sebenarnya telah melakukan pembinaan dan meminta SPPG tersebut melengkapi kekurangan persyaratan, namun belum ada tindak lanjut dari pihak penyedia.

"Kita sudah tindak lanjut ke sana, tapi sampai sekarang itu SPPG belum menindaklanjuti kekurangan dari syarat-syarat itu," tambahnya.

Sebagai langkah selanjutnya, Dinkes akan melakukan peninjauan kembali ke SPPG Dinasri. Sementara itu, sampel makanan yang berbau tersebut tetap diamankan oleh Dinkes untuk antisipasi jika ada laporan korban susulan.

"Sampelnya tidak dikirim ke Semarang (karena tidak ada korban, Red.). Tapi ini sampel sudah kami amankan. Semisal nanti ada laporan korban, jadi kan sudah ada sampelnya," pungkasnya.(yan/ida)

Editor : Ida Nor Layla
#menu #batang #Mbg