METROPEKALONGAN.COM, Batang - Bupati Batang M Faiz Kurniawan bakal menyulap rumah dinasnya menjadi museum benda-benda peninggalan bersejarah.
Ide itu muncul setelah melihat film dokumenter sejarah di Aula Kantor Bupati Batang, Kamis 27 November 2025.
Museum ini dianggap penting, mengingat kondisi terkini tempat penyimpanan benda-benda purbakala di Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Batang dianggap kurang memadai.
Faiz akan mengkaji kelayakan Rumah Dinas Bupati sebagai lokasi ideal untuk Museum Sejarah Batang.
"Tadi saya bisik-bisik, lagi saya kaji. Rumah Dinas Bupati kayaknya paling cocok (dijadikan museum, Red.)," ucapnya, Kamis 27 November 2025.
Benda-benda purbakala yang diletakkan di tempat terbuka saat ini cukup rawan. Lokasinya berada di halaman kantor dinas yang berbatasan langsung dengan Jalur Pantura.
Bahkan rawan terkena debu. Kalau hujan, walaupun ada atapnya, lokasi tersebut kerap kebanjiran.
Di kantor Disdikbud sendiri tersimpan ratusan benda purbakala. Mulai dari Kala, Yoni, Lingga, patung, batuan candi, hingga benda pusaka. Seperti keris dan tombak.
Ada tiga tempat penyimpanan yang dianggap kurang representatif untuk benda-benda bersejarah tersebut, sehingga rawan kerusakan. Sementara di sana ada ratusan benda peninggalan bersejarah.
“Selain itu, masih ada ratusan benda-benda peninggalan bersejarah yang tercecer di berbagai daerah. Benda tersebut tidak diambil karena belum adanya tempat yang representatif,” katanya.
Ia menjelaskan, rumah dinas bupati saat ini dinilai terlalu besar untuk kebutuhan hunian dinas.
Lokasinya yang strategis, berada di depan alun-alun dan berada di pusat kota juga dianggap cocok. Terutama sebagai sarana edukasi dan penyimpanan benda-benda bersejarah yang lebih layak.
“Area rumah dinas bisa disulap menjadi museum. Lokasinya strategis, tepat di depan alun-alun, di lokasi sentral. Sedangkan bagi saya, rumah dinas itu kegedean," tuturnya.
Faiz menyatakan, anak muda membutuhkan lokasi yang ringkas dan mudah diakses. Harapannya, museum yang terletak di lokasi sentral dan strategis ini dapat menjadi pusat literasi sejarah yang efektif bagi masyarakat dan generasi muda Batang.
Adanya museum juga bisa menampung kembali benda-benda peninggalan bersejarah yang selama ini disimpan di Museum Ronggowarsito dan museum di Klaten.
Bahkan bisa memberikan literasi sejarah, menumbuhkan kecintaan terhadap daerah, dan meningkatkan kepercayaan diri bahwa Batang adalah bagian penting dalam tonggak sejarah peradaban di Pulau Jawa. (yan/ida)
Editor : Ida Nor Layla