METROPEKALONGAN.COM, Batang – Ancaman penyakit genetika talasemia di Kabupaten Batang tak bisa dipandang sebelah mata.
Hampir 90 persen masyarakat di wilayah ini belum memahami penyakit yang mengharuskan penderitanya bergantung pada transfusi darah seumur hidup tersebut.
Fakta memprihatinkan ini memicu Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Batang untuk bergerak cepat. Mereka bertekad menjadi promotor edukasi demi memutus mata rantai penyebaran penyakit ini.
Bersama Perhimpunan Orangtua Penyandang Talasemia Indonesia (POPTI) Cabang Batang akan melakukan skrening masal.
Hal tersebut terungkap setelah Kepala Dinkes Kabupaten Batang dr. Ida Susilaksmi menerima audiensi dari POPTI Cabang Batang beberapa waktu lalu.
Melihat tren jumlah penyandang yang terus bertambah, dr. Ida menginstruksikan seluruh Puskesmas untuk gencar melakukan sosialisasi. Tak hanya itu, Dinkes berencana menyasar sekolah-sekolah untuk melakukan skrining masal.
"Hal ini kita lakukan untuk mendeteksi sejak dini apakah seseorang membawa gen talasemia, sehingga mengetahui agar mencari pasangan hidup yang bukan gen pembawa talasemia," ujar dr. Ida.
Upaya preventif ini memiliki satu tujuan besar, yakni meminimalisir risiko genetik pada generasi mendatang.
"Ini untuk mencegah kelahiran anak dengan talasemia mayor yang membutuhkan transfusi seumur hidup," tegasnya.
Di sisi lain, Ketua POPTI Batang, Nety Widjayanti, tak menampik adanya kekhawatiran mendalam. Baginya, nasib penyandang penyakit tidak menular (PTM) dan penyakit kronis seperti talasemia memerlukan jaminan keberlanjutan layanan yang prima.
"Kami tidak bisa bekerja sendiri, perlu kolaborasi dan sinergi dengan Dinas Kesehatan. Kami berharap ada solusi jangka panjang jika ditemukan kasus baru atau pasien yang belum ter-cover," ungkap Nety.
Saat ini, tercatat ada 42 penyandang talasemia di Kabupaten Batang, yang terdiri dari 15 dewasa dan 27 anak-anak. Angka ini merupakan bagian dari 13.939 kasus secara nasional.
Sayangnya, tembok tebal masih menghadang penanganan, lantaran biaya skrining belum ditanggung oleh BPJS Kesehatan. Padahal, frekuensi kebutuhan darah bagi para penyandang sangatlah tinggi.
"Mereka itu harus transfusi darah, ada yang setiap sebulan sekali, tiga minggu sekali, dua minggu sekali dan bahkan ada yang seminggu sekali," ungkapnya.
Nety juga sempat menceritakan kisah pilu warga yang hendak menikah dan sadar untuk melakukan skrining, namun terpaksa mundur karena terkendala biaya. (yan/ida)
Editor : Ida Nor Layla