Berita Kota Pekalongan Kab. Pekalongan Kab. Batang Ekonomi Bisnis Haji Hiburan Hukum dan Kriminal Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Pemerintahan Politik Pendidikan Sosial dan Budaya Teknologi Wisata

30 Persen Kendaraan Dinas Rusak Berat Akibat Korosi dan Medan Pesisir

Riyan Fadli • Senin, 5 Januari 2026 | 00:05 WIB

A

RUSAK: Proses pengecekan kendaraan bermotor di halaman kantor dinas kelautan dan perikanan Kabupaten Batang.
RUSAK: Proses pengecekan kendaraan bermotor di halaman kantor dinas kelautan dan perikanan Kabupaten Batang.

METROPEKALONGAN.COM, Batang – Mengawali kinerja tahun 2026, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Batang menggelar apel pengecekan kendaraan dinas.

Hasil inventarisasi kondisi armada operasional tersebut cukup memprihatinkan, di mana tercatat 30 persen kendaraan mengalami rusak berat.

Plt Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Batang, Agung Wisnu Barata, menjelaskan bahwa apel kendaraan ini merupakan langkah krusial untuk memastikan kesiapan armada dalam menghadapi tugas lapangan sepanjang tahun.

Menurut Agung, pengecekan ini ibarat pemeriksaan kesehatan (medical check-up) untuk memastikan armada siap tempur melayani masyarakat pesisir tanpa kendala teknis.

“Kita awali di tahun 2026 ini untuk persiapan untuk kegiatan berikutnya, bulan-bulan berikutnya,” ujarnya.

Dari hasil apel tersebut, terungkap fakta bahwa mayoritas armada DKP Batang tidak dalam kondisi prima.

Agung membeberkan, DKP Batang saat ini memiliki total armada yang terdiri dari lima unit mobil operasional dan 44 unit kendaraan roda dua. Sayangnya, hanya sebagian kecil yang benar-benar sehat.

Hanya 40 persen dari total kendaraan yang dinilai dalam kondisi baik. “Sisanya 30 persen rusak ringan dan 30 persen rusak berat,” ungkap Agung blak-blakan.

Faktor usia kendaraan dan intensitas pemakaian di lapangan menjadi penyebab utama kerusakan berat tersebut.

Kendaraan penyuluh perikanan menjadi unit yang paling rentan mengalami penurunan performa.

“Untuk yang rusak berat ini karena memang kendaraannya waktunya produknya sudah lama dan pemakaiannya di lapangan. Contohnya untuk para penyuluh,” jelasnya.

Kendati demikian, Agung optimis kondisi ini masih bisa ditangani melalui perbaikan bertahap agar layanan tidak lumpuh.

“Harapan kami nanti kalau yang rusak-rusak berat maupun ringan segera kita perbaiki, jadi kita siap di 2026,” katanya.

Ia juga mengapresiasi upaya para pegawai yang tetap merawat kendaraan semaksimal mungkin meski anggaran terbatas akibat kebijakan efisiensi.

“Kami juga terima kasih ini kepada teman-teman, perawatan kendaraan termasuk bagus sih sebenarnya. Karena kita adanya efisiensi akhirnya sangat terbatas sekali,” pungkasnya.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Batang, Hermanto, menyoroti faktor geografis sebagai musuh utama keawetan kendaraan dinas DKP.

Wilayah kerja yang didominasi area pesisir mempercepat proses kerusakan mesin dan bodi kendaraan.

“Tantangannya lokasi kegiatan kita banyak di wilayah pesisir,” kata Hermanto.

Kondisi alam seperti air pasang (rob) dan uap air laut yang korosif membuat kendaraan lebih cepat keropos dibandingkan kendaraan dinas di instansi lain.

“Yaitu pasti ada rob, ada arus, ini mengakibatkan kendaraan itu cepat keropos, cepat rusak,” jelasnya.

Tak hanya pesisir, medan sulit menuju lokasi budidaya di pelosok Batang juga menjadi ujian berat bagi ketahanan armada roda dua para penyuluh.

“Teman-teman penyuluh di budidaya, pelosok-pelosok, itu juga merupakan tantangan tersendiri,” ujarnya. (yan/ida)

Editor : Ida Nor Layla
#rusak #Kelautan dan Perikanan #kendaraan dinas #perikanan #batang