Berita Kota Pekalongan Kab. Pekalongan Kab. Batang Ekonomi Bisnis Haji Hiburan Hukum dan Kriminal Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Pemerintahan Politik Pendidikan Sosial dan Budaya Teknologi Wisata

67 Ribu Hektare Lahan di Batang Kritis, 4 Kecamatan Ini Masuk Zona Merah Longsor

Riyan Fadli • Jumat, 9 Januari 2026 | 03:03 WIB
LONGSOR: Area longsor yang terjadi di kaki gunung Prau beberapa waktu lalu.
LONGSOR: Area longsor yang terjadi di kaki gunung Prau beberapa waktu lalu.

METROPEKALONGAN.COM, Batang – Alarm bahaya lingkungan di Kabupaten Batang jadi perhatian serius. Ancaman bencana tanah longsor mengintai warga, khususnya yang bermukim di wilayah dataran tinggi.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) tahun 2024, puluhan ribu hektare hamparan hijau di lereng perbukitan Batang kini menyimpan kerentanan yang mengkhawatirkan.

Degradasi lahan ini menuntut kewaspadaan ekstra, terutama di titik-titik krusial resapan air.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Batang, Rusmanto, membeberkan fakta mengejutkan mengenai luasan lahan yang mengalami penurunan kualitas tersebut.

"Data kita yang di tahun 2024 itu total lahannya ada 67.260 hektar, tetapi ini terbagi dari beberapa kondisi. Ada yang sangat kritis, kemudian kritis, berpotensi kritis, dan agak kritis," papar Rusmanto.

Angka puluhan ribu hektare tersebut bukan sekadar statistik di atas kertas, melainkan peringatan dini bagi keselamatan warga.

Secara rinci, potret kerusakan lahan di Batang terbagi dalam empat kategori tingkat kerawanan.

Yaitu, sangat Kritis 1.050 hektare, kritis 3.826 hektare, potensi kritis Sekitar 9.500 hektare, agak kritis 20.200 hektare.

Lokasi-lokasi yang masuk dalam kategori lahan kritis ini mayoritas berada di wilayah tangkapan air (catchment area).

Rusmanto menyebut, sejumlah kecamatan di dataran tinggi menjadi perhatian utama atau zona merah, yakni kawasan Gerlang (Kecamatan Blado), Kecamatan Bawang, Kecamatan Reban, dan Kecamatan Bandar.

Pemerintah Daerah tidak tinggal diam. Upaya mitigasi terus dikebut melalui reboisasi atau penghijauan kembali dengan menanam bibit pohon keras (tegakan).

"Kemarin kita lakukan penanaman di sumber resapan air yang di Desa Tombu Kecamatan Bandar, kemudian yang di daerah Bleder itu yang di Gerlang Kecamatan Blado," tambah Rusmanto.

Salah satu biang kerok tingginya angka lahan kritis ini adalah masifnya alih fungsi lahan menjadi pertanian semusim.

Di wilayah atas yang memiliki kemiringan curam, banyak lahan digarap untuk usaha hortikultura seperti sayur-mayur yang seringkali mengabaikan aspek konservasi.

Rusmanto memperingatkan, pertanian di lereng curam tanpa adanya pohon pengikat tanah sangat berisiko memicu bencana ekologis.

Tanpa akar pohon kuat, guyuran hujan deras bisa sewaktu-waktu mengubah lahan sayur menjadi aliran longsor mematikan.

"Rata-rata adalah yang digunakan untuk usaha hortikultura itu, ada sayur. Itu nanti berpotensi ya, karena itu di wilayah atas, lereng. Kalau tidak ada tegakan-tegakannya, maka di situ berpotensi untuk terjadi kerusakan lingkungan," pungkasnya. (yan/ida)

Editor : Ida Nor Layla
#longsor #dataran tinggi #batang #alih fungsi lahan #bencana