Berita Kota Pekalongan Kab. Pekalongan Kab. Batang Jawa Tengah Nasional Ekonomi Bisnis Haji Hiburan Hukum dan Kriminal Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Pemerintahan Politik Pendidikan Sosial dan Budaya Teknologi Wisata

Kasus DBD Batang Turun Drastis, Dua Nyawa Melayang

Riyan Fadli • Jumat, 9 Januari 2026 | 22:45 WIB
Kepala Dinkes Batang, Ida Susilaksmi bersama jajarannya.
Kepala Dinkes Batang, Ida Susilaksmi bersama jajarannya.

METROPEKALONGAN.COM, Batang – Angka kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Batang sepanjang tahun 2025 menunjukkan tren penurunan yang signifikan.

Kendati demikian, Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat enggan melonggarkan pengawasan mengingat cuaca ekstrem yang sulit ditebak masih menjadi ancaman serius perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti.

Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Dinkes Batang, Suwandi, membeberkan data sepanjang Januari hingga Desember 2025.

Tercatat sebanyak 558 pasien harus menjalani perawatan intensif dengan gejala klinis dengue.

Dari jumlah tersebut, puluhan di antaranya terkonfirmasi positif dan dua kasus berujung fatal.

“Kalau yang positif Demam Berdarah ada 80 orang. Dari 80 itu, dua orang meninggal dunia,” ungkapnya, Jumat 9 Januari 2026.

Secara statistik, angka ini anjlok lebih dari separuh jika disandingkan dengan data tahun sebelumnya. Pada 2024, serangan nyamuk belang ini sempat menyentuh angka ratusan kasus.

“Dari 176 kasus di 2024, turun menjadi 80 kasus di 2025. Jadi secara angka memang menurun,” jelasnya.

Namun, penurunan angka ini bukan sinyal untuk lengah. Suwandi menyoroti adanya pergeseran pola sebaran vektor penyakit.

Jika sebelumnya kasus didominasi wilayah pesisir Pantura, kini nyamuk pembawa virus dengue mulai merambah ke wilayah dataran tinggi seperti Kecamatan Limpung dan Reban.

Selain DBD, ancaman penyakit tular vektor lainnya seperti Chikungunya juga mulai muncul. Laporan warga dari beberapa desa telah masuk ke meja Dinkes.

“Beberapa wilayah, seperti Babadan dan Krincing, dilaporkan terdapat kasus Chikungunya. Warga Babadan bahkan telah mengajukan permohonan fogging secara tertulis dan dijadwalkan akan dilaksanakan pada akhir pekan,” beber Suwandi.

Terkait permintaan pengasapan (fogging) dari masyarakat, pihaknya menegaskan ada standar operasional prosedur (SOP) ketat.

Fogging yang dilakukan sembarangan tanpa kajian epidemiologi justru berisiko memicu kekebalan (resistensi) pada nyamuk, yang akan menyulitkan penanganan jika terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB).

“Fogging itu untuk memutus penularan DBD. Kalau hanya laporan nyamuk banyak, kami tidak bisa langsung melakukan fogging. Harus ada indikasi kasus DBD di wilayah tersebut,” tegasnya.

Kepala Dinkes Batang, Ida Susilaksmi, mengingatkan bahwa kondisi iklim yang tidak menentu menjadi faktor utama lonjakan populasi nyamuk.

“Cuaca seperti sekarang ini sangat disukai nyamuk Aedes. Panas, hujan, terang, berganti-ganti. Nyamuk ini justru berkembang di genangan air bersih,” terangnya.

Ida meminta masyarakat lebih jeli memantau titik-titik yang sering luput dari perhatian, seperti nampan air di belakang lemari es, potongan bambu, hingga barang bekas yang menampung air hujan.

Kebiasaan menggantung pakaian di dalam kamar juga harus dikurangi.

“Karena itu kami mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kebersihan lingkungan dan rutin melakukan PSN 3M Plus,” ujarnya.

Tak hanya kebersihan lingkungan, Ida juga menekankan pentingnya menjaga kondisi fisik di tengah pancaroba.

“Selain menjaga lingkungan, daya tahan tubuh juga harus dijaga. Cuaca seperti ini mudah menurunkan imunitas,” tandasnya.

Hingga pekan kedua Januari 2026, belum ada laporan kasus baru yang masuk.

Namun, Dinkes berharap peran aktif warga melalui gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) tetap menjadi ujung tombak pencegahan. (yan)

Editor : Ida Nor Layla
#dbd #batang #nyamuk