Berita Kota Pekalongan Kab. Pekalongan Kab. Batang Ekonomi Bisnis Haji Hiburan Hukum dan Kriminal Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Pemerintahan Politik Pendidikan Sosial dan Budaya Teknologi Wisata

Perumahan Griya Nagita Warungasem Sepekan 3 Kali Kebanjiran, Air Hampir Sampai Atap

Riyan Fadli • Rabu, 21 Januari 2026 | 22:55 WIB
BANJIR: Warga saat membersihkan material lumpur yang terbawa saat banjir datang.
BANJIR: Warga saat membersihkan material lumpur yang terbawa saat banjir datang.

METROPEKALONGAN.COM, Batang – Teror banjir kembali menghantui warga Kabupaten Batang. Kali ini, Perumahan Griya Nagita di Desa Cepagan, Kecamatan Warungasem, lumpuh total usai diterjang luapan Kali Kupang di dekatnya, Selasa malam 20 Januari 2026. 

Tak main-main, ketinggian air dilaporkan mencapai sekitar 2,5 meter atau nyaris menyentuh atap rumah warga.

Sebanyak 15 keluarga terpaksa mengungsi ke Aula Kelurahan Cepagan. Air mulai surut pada Rabu 21 Januari 2026 subuh.

Banjir kali ini disebut sebagai yang terparah dalam setahun terakhir. Kholik, 37, salah satu warga terdampak menceritakan detik-detik mencekam saat air bah menerjang rumahnya. Ia mengaku tidak sempat menyelamatkan harta benda karena air naik dengan cepat. 

"Posisi saya lagi santai nonton TV sama anak. Tiba-tiba air masuk deras sekali. Saya kaget, langsung lari menyelamatkan anak-anak dulu," ungkap Kholik saat ditemui di lokasi pasca banjir surut, Rabu 21 Januari 2026.

Kholik bersama warga lain sedang membersihkan material lumpur yang muncul pasca banjir di rumahnya masing-masing. Terlihat beberapa kerabat dari warga ikut berdatangan untuk ikut membantu bersih-bersih.

Pakaian-pakaian masih tergantung di teras-teras rumah warga dengan noda kotor setangah bagian penanda tingginya banjir. Noda lumpur juga membekas di dinding-dinding rumah tepat berada di bawah atap. 

Perabotan seperti kasur pun berserakan di tepi jalan bersama perabot-perabot lain yang hanyut saat banjir datang.

Menurut Kholik, air mulai masuk sekitar pukul 20.30 WIB dan mencapai puncaknya pada pukul 24.00 WIB tengah malam. Ketinggian air di dalam rumah bervariasi, pada rumah yang berada di dataran paling rendah ketinggian mencapai 2,5 meter.

Akibat kejadian ini, Kholik menaksir kerugian materiil mencapai Rp 35 juta. Seluruh perabotan elektronik, pakaian, hingga satu unit sepeda motor miliknya terendam lumpur dan tidak bisa digunakan lagi.

"Elektronik habis semua, rusak terendam air. Motor juga kerendam. Yang penting nyelamatin nyawa anak istri dulu," tambahnya dengan nada pasrah.

Ia bercerita, kasur-kasur yang berserakan di teras rumah tetangganya adalah miliknya. Kasur itu sedang dijemur pasca banjir sebelumnya. Namun, belum sempat kering sudah hanyut disapu banjir lagi.

Kholik bersama istri dan empat anaknya baru tinggal 1 tahun di tempat tersebut. Ia pun hanya bisa pasrah karena harus mencicil rumah tersebut hingga 15 tahun. 

Bagi warga perumahan tersebut, ini adalah banjir ketiga kalinya dalam sepekan terakhir. Namun, insiden Selasa malam adalah yang paling ekstrem hingga memaksa warga lari ke tempat lebih tinggi. Banjir pertama setinggi 20 sentimeter, ke dua sekitar 1 meter dan terakhir 2,5 meter.

Korban lain, Feri, 32, saat kejadian sedang tidak berada di rumah. Mendapat kabar ancaman banjir dari tetangga sekitar pukul 20.00 WIB, ia bergegas pulang. Namun, sesampainya di rumah setengah jam kemudian, air sudah mengepung kediamannya.

"Sampai rumah niatnya mau beres-beres, mau naikin kulkas tapi sudah tidak keburu. Air naiknya cepat sekali, akhirnya cuma bisa menyelamatkan diri," tutur Feri yang belum setahun tinggal di sana.

Feri dan Kholik kompak meminta agar tanggul sungai yang berada persis di belakang perumahan segera ditinggikan.

Pasalnya, setahun lalu, banjir besar juga melanda perumahan tersebut sehingga tanggul dibangun melebihi ketinggian banjir saat itu yang hampir sekitar 2 meter.

Namun, pada banjir kemarin debit air jauh lebih tinggi dari tanggul yang dibuat. Seperti diketahui, perumahan tersebut di kepung dua aliran sungai yang ada di depan dan belakangnya. 

"Harapannya tanggul dibenerin dan ditinggikan. Kalau begini terus kami was-was, tidak bisa tidur nyenyak tiap hujan turun," pungkas Feri. (yan/ida)

Editor : Ida Nor Layla
#Warungasem #banjir #perumahan #batang