METROPEKALONGAN.COM, Batang – Cuaca ekstrem berupa hujan lebat dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah Kabupaten Batang sejak Jumat 23 Januari 2026 pagi hingga petang, memicu bencana tanah longsor di Kecamatan Bawang.
Tebing tanah di Dukuh Rejosari, Desa Pranten, RT 04 RW 02, Kecamatan Bawang, longsor pada Jumat petang sekitar pukul 17.30 WIB.
Akibatnya, dua rumah warga dilaporkan tertimbun material tanah dan belasan lainnya mengalami kerusakan.
Berdasarkan data yang dihimpun, dua rumah yang mengalami kerusakan paling parah adalah milik Mahno, 53, yang rusak berat hingga tertimbun longsor, serta rumah milik Turahman, 55, yang sebagian bangunannya habis disapu material tanah. Keduanya merupakan petani setempat.
Selain menimbun dua rumah, material longsor juga mengakibatkan 12 rumah lainnya mengalami kerusakan.
Tak hanya itu, akses jalan utama di Dukuh Rejosari, Kecamatan Bawang, lumpuh total karena tertutup material tanah, sehingga tidak bisa dilalui kendaraan.
"Longsor di Dukuh Rejosari Desa Pranten mengakibatkan 2 rumah milik warga tertimbun longsor dan 12 rumah mengalami kerusakan, serta jalan Dukuh Rejosari tertutup longsor," ujar Camat Bawang, Suratno, Minggu 25 Januari 2026.
Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa mengerikan tersebut. Namun, sebanyak 14 kepala keluarga yang rumahnya terdampak terpaksa harus mengungsi ke lokasi yang lebih aman di sekitar Dukuh Rejosari.
Proses evakuasi material longsor belum dapat dilakukan secara maksimal pada malam kejadian. Kendala cuaca buruk, hujan yang masih turun, serta kabut tebal yang menyelimuti wilayah pegunungan tersebut membuat proses pembersihan berisiko.
"Evakuasi membutuhkan alat berat karena volume longsoran cukup besar. Kami menunggu cuaca membaik untuk keselamatan tim di lapangan," ungkap petugas di lokasi.
Merespons kejadian tersebut, Wakil Bupati Batang Suyono bersama jajarannya langsung turun ke lokasi pada Sabtu 24 Januari 2026 siang pukul 11.30 WIB.
Rombongan yang terdiri dari Kalak BPBD Batang, Muspika Kecamatan Bawang, TNI/Polri, serta tim SAR gabungan dari BPBD Wonosobo melakukan pengecekan langsung dan memantau kondisi warga yang mengungsi.
Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Kabupaten Batang, Wawan Nurdiansyah, memastikan akses menuju lokasi bencana sudah bisa ditembus kendaraan. Hal ini dipastikan setelah rombongan Wakil Bupati Batang dan Kapolres Batang berhasil meninjau langsung lokasi kejadian pada Sabtu pagi.
"Alhamdulillah, akses sudah tidak terisolir, kami sudah bisa masuk sampai ke sana bersama Pak Wabup dan jajarannya. Meski demikian, untuk jalan-jalan desa yang kecil masih terkendala lumpur sehingga alat berat besar belum bisa masuk ke titik-titik sempit," ujar Wawan Nurdiansyah.
Untuk mempercepat pembersihan material longsor, BPBD telah berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (DPUPR). Alat berat yang sebelumnya disiagakan di Desa Deles digeser ke Pranten.
"Alat berat PU yang kemarin hampir satu minggu di Deles, didorong naik ke Pranten," tambahnya.
Ia menambahkan, tidak ada pendirian tenda pengungsian terpusat di lokasi. Menurut Wawan, kondisi medan yang sulit untuk mendirikan tenda dan preferensi warga menjadi alasannya. Mayoritas warga terdampak lebih memilih mengungsi ke rumah kerabat mereka yang lebih aman.
"Warga tidak meminta pengungsian satu titik. Sebagian besar mengungsi ke tempat saudaranya, ada yang di Dieng, ada juga yang ke wilayah Wonosobo, serta ke titik aman di Dukuh Rejosari. Mereka lebih memilih keluar sementara dari lokasi rawan," jelas Wawan.
Meski para ibu dan anak-anak mengungsi, sebagian kaum bapak masih bertahan di lokasi untuk menjaga rumah dan bergotong royong membersihkan material.
Wawan menyebut pihaknya telah berkomunikasi dengan Dinas Sosial (Dinsos) untuk segera mengirimkan logistik berupa bahan makanan mentah.
"Pemerintah Desa meminta suplai logistik mentah karena bapak-bapak dan relawan masih stay di sana. Hari ini segera kami kirim," tegasnya.
Dalam penanganan bencana ini, Wawan juga memberikan apresiasi khusus atas solidaritas lintas wilayah. Mengingat lokasi Pranten yang berbatasan langsung dengan kabupaten tetangga, bantuan personel datang dari berbagai pihak, termasuk BPBD Kabupaten Wonosobo. Begitu juga tim relawan dari berbagai unsur organisasi.
Sekretaris Desa Pranten, Ela Nurlaila menjelaskan bahwa kondisi terkini di wilayah tersebut aliran listrik terputus, kekurangan air minum karena instalasi Pamsimas terkena longsor, hingga sinyal yang sangat sulit.
Akses menuju Pranten dan Sigemplong masih terisolir karena masih dilakukan pembersihan material. Berkaitan dengan keselamatan warga, saat ini ada 300-an orang yang mengungsi. Mereka dihantui bencana tanah longsor, sehingga memilih mengungsi di rumah-rumah kerabat.
"Ada 356 pengungsi. Ada yg ke Dieng, Pawuhan, Wonosobo sama ada di RT 1 RW 2 Rejosari," ujarnya.
Sementara itu, Kepala DPUPR Batang, Endro Suryono menjelaskan bahwa pihaknya telah menerjunkan dua alat berat untuk membersihkan material longsoran. Baik yang menutup akses jalan, maupun yang menimbun rumah warga.
Ia menjelaskan, penanganan longsor di Dukuh Rejosari dengan luas longsor sekitar 100 meter persegi serta akess jalan kabupaten dan desa memerlukan penanganan skitar 7 hari. Penangan dimulai dari tanggal 26 januari 2025.
"Kami bekerja keras, bekerja cepat, dan bertindak tepat dengan melakukan sinergi bersama dengan BPBD, Pihak kecamatan, polsek, koramil dan desa, dalam penagulan bencana alam tanah longsor," ucapnya. (yan/ida)
Editor : Ida Nor Layla