METROPEKALONGAN.COM, Batang – Hamparan sawah di Kecamatan Kandeman, Kabupaten Batang, yang seharusnya mulai menguning dan membawa berkah, kini justru menjadi ladang duka.
Ratusan hektare tanaman padi di wilayah Ujungnegoro, Depok, hingga Tegalsari terancam gagal panen total.
Musuh para petani kali ini bukan sekadar cuaca tak menentu, melainkan serangan koloni burung emprit yang tak terbendung serta ancaman banjir tahunan akibat luapan sungai.
Bagi Tasno, petani di Desa Ujungnegoro, musim tanam awal tahun 2026 ini bak mimpi buruk. Lahan seluas 10 hektare miliknya terpaksa dinyatakan puso.
Harapan panen sirna seketika saat bulir padi yang tengah mratak atau mulai berisi ludes diserbu hama burung.
Segala metode pengusiran konvensional telah dikerahkan, mulai dari pemasangan jaring hingga alat bebunyian, namun hasilnya nihil.
“Sudah dijaring dan ditakut-takuti dengan bunyi-bunyian, tapi tidak takut burungnya,” keluh Tasno, Selasa 27 Januari 2026.
Keresahan serupa dirasakan Taryadi, Ketua Kelompok Tani Sregep Mantep 3 Desa Tegalsari. Para petani di perbatasan Depok dan Ujungnegoro menilai teknologi konvensional sudah tak mumpuni menghadapi serangan yang kian masif.
“Ora iso mengatasi, dipangani (dimakan terus). Parah! Mungkin ada teknologi lain lah ya untuk bisa mengusir burung,” ujarnya.
Tak hanya hama, masalah infrastruktur air menjadi duri dalam daging. Kali Sono, sungai yang membelah perbatasan Ujungnegoro dan Depok, dituding sebagai penyebab utama banjir yang kerap merendam sawah dalam durasi lama.
Kondisi sungai yang berkelok-kelok tajam membuat aliran air tersendat saat debit meningkat. Warga setempat mengibaratkan bentuk sungai tersebut seperti ular yang menghambat laju air menuju hilir.
“Sungainya itu menyerupai ular jalan. Jadi tidak bisa lurus. Harapannya kedepan banjirnya setiap tahun bisa cepat surut,” imbuhnya. (yan/ida)
Editor : Ida Nor Layla