METROPEKALONGAN.COM, Batang – Intensitas hujan tanpa jeda menjadikan Jalan Pantura Batang–Pemalang bak arena lomba membuat lubang tak berujung.
Kondisi ini memaksa Kementerian Pekerjaan Umum melalui Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Jawa Tengah–DIY bekerja keras berpacu dengan cuaca.
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 1.2 Pemalang–Plelen (Batang) BBPJN Jateng–DIY, Ridwan Umbara memastikan penanganan kerusakan jalan terus dilakukan secara masif.
Puluhan ton aspal disiapkan setiap harinya untuk menutup lubang yang membahayakan pengendara.
“Setiap hari kami menerjunkan tujuh tim untuk menambal lubang jalan di sepanjang Pantura dari Batang sampai Pemalang,” kata Ridwan, Minggu 1 Februari 2026.
Ridwan menjelaskan, mobilisasi tim di lapangan dilakukan secara maksimal. Setiap tim dibekali satu armada dump truck dengan muatan penuh material aspal hotmix.
“Artinya, setiap hari total aspal yang kami gelontorkan mencapai 70 ton,” katanya.
Dengan logistik tersebut, BBPJN memperkirakan mampu menutup sekitar 180 titik lubang per hari. Metode yang digunakan pun jemput bola, tidak hanya menunggu laporan warga.
“Semua lubang menjadi prioritas, karena ini jalur nasional dengan tingkat lalu lintas sangat tinggi,” tegas Ridwan. “Sistemnya sweeping, kami sisir sepanjang Pantura setiap hari,” imbuhnya.
Meski upaya perbaikan terus dikebut, tantangan cuaca ekstrem membuat lubang baru terus bermunculan.
Ridwan mengakui, jumlah lubang baru yang muncul hampir sebanding dengan kemampuan tim menutup lubang.
“Kalau bicara lahirnya lubang baru saat hujan, rata-rata di angka 160 lubang per hari,” jelasnya.
Kondisi ini membuat pekerjaan tambal sulam di Pantura Batang seolah tak pernah selesai. Lubang yang ditutup hari ini, kerap kali digantikan lubang baru di titik lain keesokan harinya.
Kendala terbesar di lapangan adalah hujan deras yang turun beruntun, yang memaksa pekerjaan teknis berhenti sementara.
“Saat hujan deras, patching kami hentikan karena tidak bisa maksimal,” katanya.
Proses penambalan, lanjutnya, memerlukan kondisi permukaan jalan yang kering agar aspal bisa merekat sempurna.
“Kami tunggu agak terang, kami keringkan, lalu kami tambal lagi,” ujarnya.
Ridwan mencontohkan, hujan tiga hari berturut-turut sempat membuat ritme kerja terganggu signifikan.
“Mau menambal hujan lagi, mau menambal hujan lagi, jadi ritmenya terganggu,” ucapnya.
Beruntung, cuaca mulai membaik sejak 28 Januari 2026 lalu. Hal ini mempercepat progres perbaikan jalan.
"Alhamdulillah cerah, tinggal 20 persen lubang jalan. Semoga cuaca cerah," harapnya.
Selain tambal sulam (patching), BBPJN Jateng–DIY juga mengerjakan solusi jangka menengah berupa pekerjaan struktural.
Langkah ini diambil untuk memperkuat pondasi jalan menghadapi beban lalu lintas berat.
Salah satunya adalah pelapisan AC Binder di sejumlah titik rawan sebagai dasar menuju betonisasi atau rigid beton.
“AC Binder kami lakukan di KM 61, KM 63, KM 67, KM 79, dan KM 85,” terang Ridwan.
Ia berharap upaya keras ini dapat meminimalisir risiko kecelakaan di jalur Pantura dan meningkatkan kenyamanan pengguna jalan meski di tengah cuaca ekstrem. (yan/ida)
Editor : Ida Nor Layla