Berita Kota Pekalongan Kab. Pekalongan Kab. Batang Ekonomi Bisnis Haji Hiburan Hukum dan Kriminal Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Pemerintahan Politik Pendidikan Sosial dan Budaya Teknologi Wisata

Misteri Dua Makam Syekh Muhammad Anwar Batang: Antara Roban dan Pelampitan Kauman

Riyan Fadli • Jumat, 20 Februari 2026 | 13:41 WIB
Kasubag TU Kemenag Kabupaten Batang sekaligus pemerhati sejarah lokal, Sodikin.
Kasubag TU Kemenag Kabupaten Batang sekaligus pemerhati sejarah lokal, Sodikin.

METROPEKALONGAN.COM, Batang – Nama Syekh Muhammad Anwar, ulama besar asal Kabupaten Batang sekaligus pengarang kitab rujukan fiqih kelautan Aisyul Bahri, hingga kini masih diselimuti teka-teki, terutama terkait lokasi peristirahatan terakhirnya.

Saat ini, berkembang dua versi lokasi makam sang ulama karismatik tersebut, yakni di kawasan Desa Sengon, Kecamatan Subah dan Pelampitan, Kelurahan Kauman, Kecamatan Batang.

Kasubag TU Kemenag Kabupaten Batang sekaligus pemerhati sejarah lokal, Sodikin, mengungkapkan bahwa penelusuran sejarah makam tokoh yang diperkirakan wafat pada awal 1900-an ini masih membutuhkan kajian akademis yang mendalam.

"Usia makam sebetulnya belum terlalu lama, beliau diperkirakan meninggal sekitar 1920-an atau 1930-an, sehingga dua versi makam ini sangat perlu diteliti lebih lanjut secara historis," terangnya.

 

Kondisi makam di Desa Sengon, Kecamatan Subah.
Kondisi makam di Desa Sengon, Kecamatan Subah.

Jejak Pertama: Kawasan Sengon

Lokasi pertama yang sempat mencuat ke publik berada di kawasan Desa Sengon. Keberadaan petilasan ini pertama kali diungkapkan oleh ulama besar asal Kaliwungu, KH. Dimyati Rois.

Meski demikian, Sodikin menyebut lokasi ini masih menjadi perdebatan. "Ada sebagian masyarakat yang meyakini itu bukan makam Mbah Anwar, melainkan makam Raden Jagiman, keturunan Jayengrono III yang merupakan mantan Bupati Batang," jelas Sodikin.

Selain itu, tutur Sodikin, wilayah Roban juga memiliki cerita rakyat tentang keberadaan Pesantren 'Santri Godek' di masa lampau yang konon dihuni oleh keturunan Maroko.

Namun, korelasi antara pesantren tersebut dengan sosok Kiai Muhammad Anwar masih belum memiliki landasan sejarah yang kuat.

 

Kondisi makam di Kelurahan Kauman, Kecamatan Batang.
Kondisi makam di Kelurahan Kauman, Kecamatan Batang.

Jejak Kedua: Pelampitan Makam Grogol Kauman

Versi kedua menyebutkan bahwa makam sang ulama sesungguhnya berada di Pelampitan, Makam Grogol Kauman, wilayah Batang kota. Indikasi ini diperkuat oleh rekam jejak tertulis dari sang Ulama itu sendiri.

Dalam kitabnya, beliau menuliskan namanya secara gamblang sebagai Syekh Muhammad Anwar Al-Batanji Al-Qoumani.

"Teks Al-Qoumani itu berarti beliau adalah penduduk Kauman. Ini memunculkan dugaan kuat, apakah benar beliau dimakamkan di Kauman atau di wilayah Pelampitan," urai Sodikin.

Di kompleks Pelampitan sendiri, terdapat dua makam tua yang kerap dikaitkan dengan Mbah Anwar. Meskipun ada beberapa warga setempat yang mengaku sebagai keturunan beliau, hingga saat ini belum ditemukan bukti otentik seperti manuskrip tulisan tangan asli peninggalan sang ulama di tangan keluarga.

 

Menanti Bukti Manuskrip Autentik

Sodikin menegaskan, penemuan naskah atau manuskrip asli kitab Aisyul Bahri dari pihak keturunan akan menjadi kunci pemecah misteri sejarah ini.

"Kalau manuskrip master-nya ketemu, itu akan menjadi petunjuk definitif bahwa Syekh Muhammad Anwar memang disemayamkan di Pelampitan Makam Grogol," tegasnya.

Keberadaan Syekh Muhammad Anwar bukan sekadar kebanggaan masyarakat Batang, melainkan aset sejarah dunia Islam.

Karya monumentalnya menjadi rujukan langka yang membahas fiqih kelautan secara terperinci. Kini, peran sejarawan dan akademisi sangat dinantikan untuk merangkai kembali serpihan sejarah ulama besar Nusantara ini.

Yang paling menarik dalam kisah Ulama besar adalah cerita di masyarakat bahwa beliau pernah mengadakan pertemuan tokoh pada awal 1900-an di kediamannya di Batang.

Pertemuan itu dihadiri oleh Mbah Muhammad Anwar, Syekh Kholil Bangkalan, dan Syekh Nawawi Banten.

"Ketiga tokoh besar yang pernah nyantri di Makkah ini berdiskusi dan mengimpikan adanya negeri muslim yang merdeka dari jajahan. Ini luar biasa, embrio kemerdekaan Indonesia sudah dibicarakan di Batang," tandasnya. (yan/ida)

Editor : Ida Nor Layla
#makam #ulama #kiai #Aisyul Bahri #Anwar #batang