METROPEKALONGAN.COM, Batang – Siapa sangka, ulama karismatik asal pesisir utara Kabupaten Batang, Jawa Tengah, Syekh Muhammad Anwar, mewariskan sebuah literatur yang sangat langka di dunia pesantren dan akademis global.
Karya tersebut adalah Kitab Aisyul Bahri, sebuah rujukan otoritatif yang secara khusus membedah fiqih kelautan, khususnya status kehalalan kuliner laut (seafood).
Fakta membanggakan ini diungkapkan oleh Kasubag TU Kemenag Kabupaten Batang sekaligus pemerhati sejarah lokal, Sodikin.
Menurutnya, literatur yang membahas hukum mengonsumsi hewan air secara terperinci sangat jarang ditemukan, bahkan di kalangan cendekiawan Timur Tengah.
"Kitab Aisyul Bahri adalah sebuah kitab berbahasa Arab yang sangat luar biasa karena membahas tentang status kehalalan dari biota laut atau hewan-hewan air. Ini satu-satunya kitab tentang fiqih kelautan," ungkap Sodikin.
Melampaui Literatur Klasik Timur Tengah?
Keistimewaan Kitab Aisyul Bahri terletak pada kekayaan terminologinya. Ulama-ulama klasik dari Hijaz, Madinah, Mesir, hingga Baghdad umumnya hidup di lanskap gurun atau daratan yang panas.
Konteks sosio-geografis ini membuat kajian hukum biota laut dalam kitab-kitab klasik Timur Tengah cenderung sangat umum.
"Dalam terminologi fiqih klasik, ketika menyebut ikan biasanya hanya menggunakan istilah umum 'As-Samak'. Tapi begitu Mbah Syekh Anwar yang menulis, beliau mengkategorisasikan banyak sekali jenis hewan," jelas Sodikin.
Lahir dan menetap di Batang yang notabene merupakan wilayah pesisir dengan keanekaragaman hayati laut yang melimpah, wawasan kelautan Syekh Muhammad Anwar sangat luas. Beliau membedah satu per satu status hukum hewan seperti kepiting, rajungan, hingga lele dengan sangat detail.
Meng-Arab-kan Istilah Lokal Nusantara
Menariknya, lantaran jenis-jenis hewan spesifik tersebut tidak memiliki padanan kata dalam bahasa Arab murni, Syekh Anwar menggunakan istilah lokal Nusantara yang ditulis dengan lafaz atau huruf Arab.
"Contohnya rajungan, kepiting, atau lele itu di Arab tidak ada. Itu masih ditulis dengan lafaz-lafaz yang asli apa adanya. Terminologi baru ini menambah khazanah kebahasaan dalam kajian fiqih kelautan," imbuhnya.
Kitab yang diperkirakan eksis sejak awal abad ke-20 (kisaran tahun 1920-an) ini menjadi bukti nyata tingginya sumbangsih ulama Nusantara terhadap peradaban Islam dunia.
Aisyul Bahri berhasil menjembatani kekosongan literatur hukum Islam terkait konsumsi hasil laut bagi masyarakat kepulauan dan maritim.
Kini, Sodikin berharap para fukaha (ahli fiqih) masa kini di Indonesia maupun dunia internasional mulai melirik dan mengembangkan lebih lanjut kajian fiqih bernuansa maritim dengan merujuk pada karya emas ulama kebanggaan warga Batang ini.
Kajian selama ini belum berdasar manuskrip asli. Karena kitab aslinya belum ditemukan keberadaannya. Tapi salinan kitab cetak sudah diterbitkan sejak era lama.
Salinannya ditemukan dalam dua versi, yang pertama dari salah satu muridnya di Kudus (ini yang banyak beredar sekarang), dan yang kedua ditemukan oleh mahasiswa Indonesia di sebuah perpustakaan di Tunisia.
"Ini menarik karena ternyata karya beliau sudah mendunia dan patut kita banggakan sebagai tokoh lokal Batang," tandasnya. (yan/ida)
Editor : Ida Nor Layla