Berita Kota Pekalongan Kab. Pekalongan Kab. Batang Jawa Tengah Nasional Ekonomi Bisnis Haji Hiburan Hukum dan Kriminal Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Pemerintahan Politik Pendidikan Sosial dan Budaya Teknologi Wisata

Bunda Forum Anak Batang Soroti "Anxious Generation" dan Dukung Pembatasan Medsos

Riyan Fadli • Selasa, 3 Maret 2026 | 13:04 WIB

ANAK: Suasana Musrenbang Anak di aula Kantor Bupati Batang.
ANAK: Suasana Musrenbang Anak di aula Kantor Bupati Batang.

METROPEKALONGAN.COM, Batang – Setelah sempat vakum pada tahun 2024 dan 2025, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Batang kembali mengaktifkan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Anak di tahun 2026.

Agenda ini menjadi wadah krusial bagi anak-anak di Kabupaten Batang untuk menyuarakan hak dan aspirasi mereka langsung kepada pembuat kebijakan.

Kepala DP3AP2KB Kabupaten Batang, Joko Prasetijo menyatakan, kembalinya Musrenbang Anak ini merupakan bentuk tekad pemerintah daerah dalam memenuhi seluruh hak anak.

"Harapannya, kita bisa mendapatkan apa yang sebenarnya disuarakan oleh anak-anak terkait hak-hak mereka," tegasnya di sela acara.

Teknis pelaksanaan Musrenbang tahun ini dirancang lebih mendalam dengan membagi peserta ke dalam lima klaster diskusi.

Peserta merupakan perwakilan dari 15 kecamatan se-Kabupaten Batang, dengan rentang usia SMP hingga SMA.

Ada yang istimewa dalam gelaran kali ini, yakni keterlibatan aktif anak-anak dari kalangan pondok pesantren.

Hal ini dilakukan agar draf perencanaan pembangunan daerah benar-benar mencakup perspektif anak dari berbagai latar belakang pendidikan.

Dalam forum tersebut, Bunda Forum Anak Kabupaten Batang, Faelasufa Faiz, memberikan catatan tebal mengenai kesehatan mental generasi muda yang mulai tergerus arus digital.

Ia merujuk pada fenomena "Anxious Generation" atau generasi cemas yang dipicu oleh algoritma internet dan media sosial.

"Sejak kehadiran smartphone yang masif, terjadi lonjakan depresi hingga stres pada anak-anak karena mereka terus-menerus membandingkan diri di media sosial," ungkap Faelasufa.

Ia pun secara berani menyuarakan dukungan terhadap pembatasan akses media sosial, seperti mendukung pelarangan penggunaan platform seperti Facebook, Instagram, dan YouTube bagi anak di bawah usia 12 hingga 15 tahun.

Mendorong adanya masukan daerah kepada Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) untuk merestriksi social networking bagi anak-anak.

Ia juga menilai algoritma saat ini didesain sedemikian rupa sehingga rentan mengganggu psikologis anak.

Selain faktor teknologi, Faelasufa menyoroti hilangnya "kohesi sosial" di tengah masyarakat modern.

Dibandingkan era 70-an dan 80-an, masyarakat saat ini dinilai lebih individualis sehingga kurang peka terhadap lingkungan sekitar.

"Dulu, tetangga bisa sangat peduli dan membantu. Sekarang, karena kesibukan dan tekanan ekonomi, orang cenderung hidup sendiri-sendiri. Inilah yang membuat kasus seperti perundungan (bullying) sering tidak terdeteksi sejak dini," tambahnya.

Bunda Forum Anak Batang pun menekankan bahwa parenting tetap menjadi benteng terdepan sembari menunggu regulasi nasional yang lebih kuat.

Ia berharap anak-anak Batang tidak lagi "mlempem" dan berani bersaing dengan anak-anak dari kota besar melalui kebiasaan berpikir kritis yang dipupuk sejak dini. (yan/ida)

Editor : Ida Nor Layla
#Forum anak #batang #anak