Berita Kota Pekalongan Kab. Pekalongan Kab. Batang Ekonomi Bisnis Haji Hiburan Hukum dan Kriminal Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Pemerintahan Politik Pendidikan Sosial dan Budaya Teknologi Wisata

Tradisi Lomba Dayung Sungai Sambong Sedot Ribuan Pengunjung saat Lebaran

Riyan Fadli • Senin, 23 Maret 2026 | 09:31 WIB

LOMBAN: Para peserta Lomba Dayung saat beradu kecepatan di sungai Sambong.
LOMBAN: Para peserta Lomba Dayung saat beradu kecepatan di sungai Sambong.

METROPEKALONGAN.COM, Batang – Momen libur Lebaran di Kabupaten Batang tak hanya identik dengan tradisi silaturahmi dan hidangan ketupat.

Sehari usai Idulfitri, ribuan warga tumpah ruah memadati bantaran Sungai Sambong, Desa Klidang Lor.

Mereka antusias menyaksikan tradisi tahunan Lomba Dayung Tradisional yang digelar semarak hingga sepekan ke depan.

Tak sekadar menjadi tontonan, event ini telah menjelma menjadi magnet wisata edukasi dan ajang pelestarian budaya lokal yang terus diwariskan lintas generasi.

Pengunjung rela berdesakan di tepian sungai demi melihat langsung adu cepat perahu kayu sejauh 275 meter.

Sorak-sorai penonton pun pecah, berpadu dengan semangat juang para pendayung, menciptakan atmosfer khas Syawalan di Batang.

Pesona Lomba Dayung Sungai Sambong rupanya terdengar hingga ke luar. Salah satunya Imam Muhammad, warga Jombang, Jawa Timur, yang kini bertugas di Batang.

Ia sengaja datang memboyong keluarganya untuk mengenalkan kekayaan tradisi lokal kepada sang anak.

“Biasanya liburan ke pantai atau tempat wisata lain, tapi kali ini saya ingin anak saya mengenal budaya asli Batang, seperti apa suasana Lebaran di sini,” ujarnya.

Skala perlombaan dayung di Klidang Lor ini terbilang masif.

Ketua Panitia Lomba, Edi Priantono, membeberkan bahwa kejuaraan ini diikuti oleh 236 tim dengan total menyentuh 512 pertandingan.

Setiap tim diisi oleh 13 orang, termasuk juru kemudi, yang beradu cepat menggunakan 12 perahu fasilitas dari panitia.

“Total hadiah yang diperebutkan mencapai Rp 90 juta, dan perlombaan berlangsung selama sepekan hingga babak final,” jelasnya.

Ajang bergengsi ini turut menarik minat peserta dari luar daerah. Tim Lokal Jaya asal Purwakarta, Jawa Barat, ikut ambil bagian.

Koordinator tim, Asnawir, menilai kompetisi ini berjalan sangat ketat karena kekuatan peserta yang merata, sehingga cocok untuk wadah pembinaan mental bertanding.

“Kami membawa 18 orang, termasuk atlet dan pelatih. Ini bagian dari latihan dan pengalaman bertanding. Harapannya bisa mendapat hasil terbaik,” ungkap Asnawir.

Tingginya animo masyarakat terhadap tradisi Lomba Dayung Sambong ini mendapat apresiasi khusus dari Bupati Batang, M Faiz Kurniawan.

Ia melihat event ini memiliki potensi luar biasa sebagai tonggak wisata sekaligus olahraga unggulan daerah.

“Tanpa intervensi besar dari pemerintah saja, event ini sudah mampu menarik perhatian luar biasa dari masyarakat apalagi pemerintah hadir tentu alan terjadi peningkatan yang cukup luar biasa,” katanya.

Ke depan, Pemkab Batang berkomitmen untuk memoles infrastruktur penonton agar lebih nyaman.

Selain itu, kolaborasi dengan KONI akan diperkuat guna menjaring bibit atlet dayung potensial.

“Harapannya nanti ada event yang lebih besar dan atlet Batang bisa berprestasi di tingkat nasional yang dimulai dari lomba dayung di Sungai Sambong ini,” tambahnya. 

Di luar urusan olahraga dan pelestarian budaya, kemeriahan lomba dayung ini sukses membawa berkah ekonomi.

Kehadiran ribuan pengunjung menjadi ladang rezeki bagi pedagang kaki lima (PKL), pelaku UMKM, hingga penyedia jasa parkir di sekitar lokasi.

Sebuah perpaduan sempurna antara budaya, olahraga, dan penggerak ekonomi lokal di momen Syawalan.

Selain itu, tahun ini terdapat penambahan dua perahu baru dari Pemerintah Kabupaten Batang sebagai bentuk pembaruan fasilitas.

Sementara itu, Bupati Batang M. Faiz Kurniawan menjelaskan, bantuan dua perahu tersebut merupakan realisasi dari janji yang disampaikan pada penyelenggaraan tahun sebelumnya.

“Alhamdulillah, dua perahu yang kami janjikan sudah bisa dimanfaatkan pada lomba hari ini,” tuturnya. 

Ia berharap, dukungan tersebut dapat semakin meningkatkan kualitas penyelenggaraan serta menarik minat masyarakat lebih luas.

Menurutnya, Lomba Dayung Tradisional Klidang Lor memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi event berskala nasional.

Namun, masih diperlukan berbagai pembenahan, baik dari sisi infrastruktur maupun peningkatan publikasi.

“Kami punya komitmen untuk menjadikan event ini sebagai agenda nasional yang mampu menarik lebih banyak peserta dan pengunjung,” harapnya.

Selain itu, pemerintah daerah juga berencana menambah armada pengerukan sungai guna menjaga kondisi Sungai Sambong, terutama saat musim hujan.

Faiz juga menegaskan, lomba dayung tradisional bukan sekadar ajang hiburan, tetapi merupakan bagian dari warisan budaya yang harus terus dijaga dan dilestarikan.

“Ini adalah akar budaya masyarakat Klidang Lor yang harus tetap hidup dan bisa dinikmati hingga generasi mendatang,” pungkasnya. (yan/ida)

Editor : Ida Nor Layla
#lebaran #lomban #dayung tradisional batang #batang