METROPEKALONGAN.COM, Batang - Asap tipis mengepul pelan di sudut gang kecil di Dukuh Wuni, Desa Tengulangharjo, Kecamatan Subah, Kabupaten Batang.
Asap itu berasal dari warung sederhana yang ada di ujung gang. Aroma khas daging bakar yang berpadu dengan bumbu rempah ikut menyertainya.
Warung sederhana ini benar-benar tersembunyi di balik pemukiman Jalur Pantura Alas Roban.
Di balik kepulan asap pekat itu, tampak tangan cekatan Darsonah, 57. Karyawan di warung sate milik pasangan Nardi dan Kastimah ini tak henti-hentinya membolak-balik puluhan tusuk sate.
Bagi Darsonah, tempat ini adalah saksi bisu perjalanan panjang hidupnya selama lebih dari dua dekade mengabdi, jauh sebelum nama warung ini melegenda seperti sekarang.
“Saya ikut kerja di sini dari tahun 1998 sampai sekarang,” tutur Darsonah.
Darsonah berkisah, warung sate legendaris di Batang ini tidak serta-merta berdiri menetap dan dikenal luas.
Semuanya dirintis dari nol. Berawal dari langkah kaki yang tak kenal lelah memikul dagangan, berkeliling dari satu kampung ke kampung lain.
Menariknya, sejak awal, menu andalan mereka bukanlah kambing, melainkan sajian yang tak lazim, sate biawak. “Awalnya ya dipikul, keliling jual sate biawak,” kenangnya.
Di tengah himpitan ekonomi, terlebih saat harus membesarkan anak-anaknya yang masih kecil, Darsonah bersama pemilik warung terus bertahan menjajakan dagangan.
Ketekunan itu akhirnya berbuah manis. Usaha ini perlahan naik kelas, dari berjualan keliling, bergeser membuka lapak kecil di dekat tempat cucian mobil, hingga akhirnya menetap di lokasi yang sekarang.
Kini, kepak sayap bisnis Sate Nardi dan Kastimah makin lebar. Mereka bahkan telah sukses membuka cabang di kawasan jalur Pantura, tepatnya di Banyupandansari.
Di balik keunikan kuliner unik Pantura ini, tersimpan proses pengolahan panjang yang tak semua orang sanggup menanganinya. Daging biawak dikenal butuh perlakuan khusus agar empuk dan tidak amis.
“Disikat dulu pakai sabun, persis kayak nyuci baju. Terus dibersihkan kulitnya, direbus, lalu dicuci lagi,” jelas Darsonah.
Proses tersebut jelas membutuhkan ketelatenan dan keberanian ekstra. Tak heran jika tak banyak pesaing yang berani menekuni usaha serupa.
Namun bagi Darsonah, membersihkan reptil tersebut sudah menjadi rutinitas harian yang mendarah daging selama puluhan tahun.
Seiring ramainya permintaan, menu di warung ini pun makin variatif. Selain sate biawak, pengunjung kini bisa menikmati sate kambing, sate kelinci, hingga olahan rica-rica dan gulai yang tak kalah menggugah selera.
Meski demikian, jejak sejarah sebagai pelopor sate biawak tetap menjadi identitas utama yang tak tergantikan.
Ditelan zaman, harga tentu mengalami penyesuaian. Darsonah mengingat betul, dulu seporsi sate biawak hanya dibanderol Rp 10.000 untuk 10 tusuk. Kini, harga telah menyesuaikan kondisi pasar.
Seporsi sate kambing dibanderol Rp 60.000, sate kelinci Rp 50.000, dan sate biawak dihargai Rp 40.000.
Meski harga naik, magnet warung ini justru makin kuat. Pelanggannya tak hanya warga lokal, tapi merambah ke berbagai kota lintas provinsi.
“Banyak pelanggan yang datang dari Semarang, Tegal, bahkan sampai Bogor sengaja ke sini,” bebernya.
Dalam sehari, warung ini bisa menjual lebih dari 100 porsi sate. Untuk sate kelinci saja, puluhan ekor bisa ludes setiap harinya.
Sementara ketersediaan sate biawak sangat bergantung pada tangkapan dan ukuran hewan dari para pemasok.
Meski telah puluhan tahun menjadi tulang punggung di dapur pengasapan, Darsonah tetap membumi.
Ia menyadari posisinya bukanlah sang pemilik usaha, melainkan sosok di balik layar yang bertugas menjaga konsistensi rasa agar pelanggan tak kecewa. (yan/ida)
Editor : Ida Nor Layla