METROPEKALONGAN.COM, Batang - Strategi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Batang di bawah kepemimpinan Bupati M Faiz Kurniawan dan Wakilnya Suyono dalam mengurai benang kusut masalah ketenagakerjaan mulai menampakkan hasil nyata.
Program unggulan Dapat Kerja (Daker) yang diinisiasi Bupati M Faiz Kurniawan dinilai menjadi kunci utama turunnya angka pengangguran dan kemiskinan secara signifikan sepanjang tahun 2025.
Berdasarkan data Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Batang, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada tahun 2025 terjun bebas ke angka 5,07 persen.
Angka ini melampaui target awal sebesar 5,27 persen dan jauh lebih baik dibanding tahun 2021 yang sempat menyentuh 6,59 persen.
Kepala Bapperida Batang, Bagus Pambudi mengungkapkan, keberhasilan ini tidak lepas dari efektivitas program Daker yang menghubungkan pencari kerja langsung dengan kebutuhan industri.
"Ini bukti bahwa intervensi pemerintah melalui pelatihan berbasis kebutuhan industri sangat efektif,” ujar Bagus.
Efek domino dari terserapnya tenaga kerja ini berdampak langsung pada penurunan angka kemiskinan.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Batang, Heni Djumadi, mencatat persentase penduduk miskin pada 2025 turun menjadi 7,79 persen, dari sebelumnya 8,73 persen di tahun 2024.
“Penurunan kemiskinan ini didorong oleh meningkatnya penyerapan tenaga kerja, di mana sektor formal kini mendominasi 43,39 persen lapangan kerja di Batang,” jelas Heni.
Tantangannya Lulusan Diploma dan Isu Gender
Meski tren positif terus berlanjut, Pemkab Batang masih memiliki “PR” besar. Data menunjukkan pengangguran justru didominasi lulusan pendidikan tinggi, yakni Diploma (11,28 persen) dan SMK (10,95 persen).
Selain itu, keluhan mengenai sulitnya laki-laki mendapatkan pekerjaan di kawasan industri juga mencuat.
Dalam dialog publik di Desa Candi, Kecamatan Bandar, warga mengeluhkan pabrik yang lebih memprioritaskan pekerja perempuan.
“Anak laki-laki kami tersingkir, Pak. Tiap melamar ditolak karena pabrik carinya perempuan. Kami mohon ada rekomendasi dari Pemkab agar laki-laki juga diberi kesempatan,” keluh Slamet Faizin, tokoh masyarakat setempat.
Menanggapi hal ini, Bupati Batang M Faiz Kurniawan menegaskan pihaknya tengah melakukan negosiasi keras dengan pihak industri.
Ia mengingatkan adanya Perda Investasi yang mensyaratkan 70 persen tenaga kerja harus warga lokal Batang jika perusahaan ingin mendapatkan insentif diskon pajak.
“Kita sedang negosiasikan agar ada pemerataan. Jangan sampai laki-laki sulit kerja. Target kita di masa emas akhir 2027 nanti, saat KITB beroperasi penuh, akan ada 70.000 hingga 100.000 lowongan kerja baru yang siap menampung warga Batang,” tegas Bupati Faiz.
Sementara itu, Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Kabupaten Batang menyiapkan sejumlah program strategis pada 2026.
Kepala Disnaker Batang Suprapto mengatakan, program Daker menjadi bagian dari komitmen pemerintah daerah untuk menekan angka pengangguran dan memperluas kesempatan kerja bagi masyarakat Batang.
“Program prioritas Bupati adalah Dapat Kerja. Tahun ini kami harapkan pelaksanaannya bisa lebih baik, baik dari sisi anggaran maupun jumlah aktivitas pelatihan dibandingkan tahun sebelumnya,” ucapnya .
Ia menyebutkan, tahun 2025 program Daker berhasil melatih 2.531 orang. Sebanyak 83,64 persen diantaranya langsung mendapat penempatan kerja, atau 2.117 orang.
"Sedangkan pada tahun ini, sampai 31 Maret 2026, sebanyak 266 orang sudah mengikuti pelatihan, 100 persen terserap untuk penempatan di delapan perusahaan. Sehingga total ada 2.797 orang yang telah mengikuti program Daker ini," ujarnya.
Suprapto menjelaskan, pelatihan dalam program Daker tidak hanya dilaksanakan di Balai Latihan Kerja (BLK) milik Disnaker, tetapi juga menggandeng sejumlah BLK swasta. Bahkan, sebagian pelatihan telah mulai berjalan di wilayah Subah.
“Pelatihan Daker ini tidak harus selalu di BLK Disnaker. Kami juga bekerja sama dengan BLK swasta, dan pelaksanaannya direncanakan rutin setiap bulan,” jelasnya.
Ia menambahkan, program Daker dibagi menjadi dua skema, yakni Daker formal dan Daker informal.
Daker formal ditujukan bagi pencari kerja yang akan disiapkan masuk ke perusahaan, sementara Daker informal menyasar peserta yang diarahkan untuk bekerja mandiri atau membuka usaha setelah mengikuti pelatihan.
“Untuk target pelaksanaan, Disnaker Batang menargetkan sedikitnya 2.000 peserta dalam program Daker sepanjang 2026. Namun, berdasarkan kebutuhan industri, jumlah tersebut berpotensi meningkat hingga 4.500 peserta, khususnya untuk lulusan SLTA dan SMK,” ucapnya.
Sedangkan kebutuhan tenaga kerja secara keseluruhan, termasuk lulusan sarjana, mencapai sekitar 6.200 orang.
Selain mengandalkan anggaran dari APBD, Disnaker Batang juga membuka peluang kerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk perusahaan dan pemerintah pusat, untuk mendukung pembiayaan dan penyelenggaraan pelatihan.
“Biaya pelatihan tidak harus dari APBD. Kami mengajak stakeholder yang membutuhkan tenaga kerja untuk bersama-sama menyiapkan pelatihan. Perusahaan juga bisa mengadakan pelatihan sendiri dan dititipkan melalui Disnaker,” terangnya. (yan/ida)
Editor : Ida Nor Layla