Berita Kota Pekalongan Kab. Pekalongan Kab. Batang Ekonomi Bisnis Haji Hiburan Hukum dan Kriminal Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Pemerintahan Politik Pendidikan Sosial dan Budaya Teknologi Wisata

Minyak Jelantah Hasil Rekor MURI di Kabupaten Batang Raup Cuan Rp 90 Juta untuk Bioavtur

Riyan Fadli • Rabu, 15 April 2026 | 11:32 WIB
MINYAK JELANTAH : ASN Pemerintah Kabupaten Batang saat menimbang minyak jelantah di Pendopo Kabupaten Batang. (RIYAN FADLI/JAWA POS METRO PEKALONGAN)
MINYAK JELANTAH : ASN Pemerintah Kabupaten Batang saat menimbang minyak jelantah di Pendopo Kabupaten Batang. (RIYAN FADLI/JAWA POS METRO PEKALONGAN)

MEROPEKALONGAN.COM, Batang – Aksi pengumpulan minyak goreng bekas atau minyak jelantah di Kabupaten Batang tak hanya sukses memecahkan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI).

Tetapi juga meraup cuan fantastis hingga Rp 90 juta. Limbah cair ini bakal disulap menjadi Bioavtur atau bahan bakar pesawat yang ramah lingkungan.

Aksi peduli lingkungan ini dimotori langsung oleh jajaran Aparatur Sipil Negara (ASN). Staf Ahli Bidang Pemerintahan Hukum dan Politik Setda Batang, M Fathoni, memantau langsung proses pengumpulan limbah tersebut di Pendopo Kabupaten Batang, Senin 13 April 2026.

“Ini pengumpulan minyak jelantah, sesuai dengan rekor MURI kemarin. Dan ini untuk lingkungan di sekitar sekretariat daerah (Sekda). Nanti mungkin akan dikumpulkan kembali yang masih di lapangan, dihimpun di sini, sehingga tercukupi apa yang menjadi target dalam rekor MURI,” katanya.

Meski nilai ekonomisnya menggiurkan, Fathoni menegaskan mengejar angka bukanlah tujuan utama Pemkab Batang.

Fokus utamanya adalah mengedukasi masyarakat mengenai kesehatan lingkungan agar tidak merusak ekosistem.

“Pengumpulan ini secara prinsip adalah untuk memenuhi rekor daripada MURI itu. Intinya tidak dijualnya, tetapi dalam rangka perbaikan lingkungan. Pak Bupati beserta Ibu mendedikasikan ini kepada seluruh warga Kabupaten Batang untuk hemat energi dan perbaikan lingkungan sehingga lingkungan kita menjadi sehat,” jelasnya.

Ditanya mengenai tingkat kesulitan menggerakkan ASN dalam kampanye ini, Fathoni mengaku semuanya berjalan mulus dan menjadi motor penggerak perubahan.

“Tidak (sulit), karena satu komando kemudian ada kesadaran yang luar biasa. Cita-citanya berkelanjutan. Tujuan dari Pak Bupati dan Ibu adalah untuk mendedikasikan pada lingkungan yang sehat dan lingkungan hidup yang baik,” terangnya.

Lalu, ke mana muara dari belasan ribu liter minyak jelantah ini? Melalui kerja sama dengan pihak swasta, minyak kotor tersebut akan menjalani proses refinery.

Perwakilan Bagian Purchasing Gapurw Mas Letari (GML), Dhika Dwi Chandra, membeberkan, potensi jelantah dari Batang sangat luar biasa.

Dari kumpulan tim PKK Batang saja, volumenya menembus lebih dari 11.000 liter dengan nilai ekonomi menyentuh angka Rp 90 juta.

“Minyak jelantah ini kita proses menjadi bahan bakar terbarukan. Kita fokusnya ke Bioavtur. Untuk kebutuhan lokal, Pertamina sudah melakukan launching produk Bioavturnya, sementara untuk ekspor, produk turunannya kita kirim ke Eropa,” ungkapnya.

Pihak perusahaan menghargai limbah tersebut sebesar Rp 7.000 per liter. Menariknya, mereka tidak tebang pilih, baik minyak yang masih bening maupun yang sudah hitam pekat dihargai sama rata. Akses penjualannya pun sangat dipermudah.

“Satu liter pun kita ambil. Pembayaran dilakukan via transfer untuk memastikan transparansi dan keamanan,” pungkasnya.

Lewat gerakan ini, Batang sukses membuktikan, manajemen limbah rumah tangga yang tepat tak hanya menyehatkan lingkungan sekitar, tetapi juga berkontribusi besar pada industri energi global. (yan/ida)

Editor : Ida Nor Layla
#bioavtur #mimyak jelantah #rekor muri #Kabupaten Batang