Berita Kota Pekalongan Kab. Pekalongan Kab. Batang Ekonomi Bisnis Haji Hiburan Hukum dan Kriminal Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Pemerintahan Politik Pendidikan Sosial dan Budaya Teknologi Wisata

Gen Z Kabupaten Batang Ciptakan Motif Batik Lewat Sentuhan Digital

Riyan Fadli • Sabtu, 25 April 2026 | 12:57 WIB
EDUKASI SISWA : Para siswa saat belajar membatik di SMKN 1 Warungasem, Kabupaten Batang. (RIYAN FADLI/JAWA POS METRO PEKALONGAN)
EDUKASI SISWA : Para siswa saat belajar membatik di SMKN 1 Warungasem, Kabupaten Batang. (RIYAN FADLI/JAWA POS METRO PEKALONGAN)

METROPEKALONGAN.COM, Batang – Di tengah gempuran tren fashion modern dan minimnya minat anak muda terhadap budaya tradisional, pemandangan berbeda justru tersaji di SMKN 1 Warungasem, Kabupaten Batang.

Di sekolah ini, siswa-siswi Generasi Z tidak hanya belajar menjahit pakaian kekinian, tetapi juga didorong menjadi kreator motif batik baru yang mengangkat kearifan lokal.

Meski berfokus pada Jurusan Fashion Technology (Tata Busana), namun membatik masuk sebagai mata pelajaran pilihan. Keputusan ini bukan tanpa alasan.

Salah satu siswa Refa Purwata Aini, seorang remaja berusia 17 tahun memilih terjun langsung mempelajari seni membatik.

Siswi yang kini duduk di bangku kelas 2 SMA ini mengaku sudah menekuni dunia batik selama kurang lebih satu tahun terakhir.

Meski awalnya sempat diliputi rasa ragu, Refa kini justru semakin mahir menggoreskan canting di atas kain.

Mengingat masa awal belajarnya, Refa menceritakan, membatik bukanlah perkara mudah. Ia sempat merasa was-was tidak bisa mengikuti pola gambar dengan presisi.

"Awalnya masih ragu-ragu, takut malamnya netes, takut nggak bisa pas sama gambarnya," kenang Refa saat diwawancarai.

Namun, berkat ketekunannya selama setahun, ketakutan itu kini sirna. Refa sudah lihai mengendalikan tetesan malam dan menghindari kesalahan teknis seperti "tompel" atau noda malam yang tidak diinginkan pada kain. Kini, proses membatiknya jauh lebih lancar dibandingkan saat pertama kali mencoba.

Selama belajar, Refa telah berhasil menguasai berbagai macam motif tradisional maupun kontemporer.

Tak puas hanya mengikuti pola yang ada, jiwa kreatif Refa juga mendorongnya untuk menciptakan motif sendiri.

Ia pernah mencoba menggambar motif binatang, seperti bebek, serta berbagai hiasan unik lainnya. Baginya, ada keinginan besar untuk terus mendalami filosofi dan teknik batik lebih jauh lagi.

Melihat perkembangan zaman, Refa optimistis bahwa batik memiliki prospek yang sangat menguntungkan di dunia fashion.

Menurutnya, batik yang dulunya dianggap kuno kini bisa berkembang kembali dan menarik minat masyarakat luas jika dikemas dengan baik.

Ia pun memberikan pesan penyemangat bagi generasi muda lainnya agar tidak ragu untuk mengenal budaya sendiri.

Daripada hanya melirik tren luar negeri, mencoba membatik bisa memberikan kepuasan tersendiri.

"Coba dulu, pasti bakal kagum sama motif-motif yang berbagai macam keunikan dan keberagamannya," pungkas Refa dengan penuh semangat.

Kepala SMKN 1 Warungasem, Suyanta mengungkapkan keprihatinannya terhadap eksistensi pembatik lokal yang kian menyusut.

Kabupaten Batang dan sekitarnya memiliki akar sejarah batik yang kuat, namun para perajinnya kini didominasi kalangan lansia.

"Kami tergugah memunculkan kebijakan agar batik ini tumbuh kembali dan dipelajari anak-anak SMK. Harapan kami, mereka bisa menjadi generasi penerus. Jangan sampai ada missing link (mata rantai yang terputus) karena batik sudah menjadi ikon Batang," tegas Suyanta.

Mengenalkan batik kepada anak muda tentu butuh strategi khusus. Di sinilah peran krusial para guru.

Ghoswatun Nisa, Guru Tata Busana SMKN 1 Warungasem, punya cara jitu agar siswanya antusias.

Alih-alih langsung berkutat dengan malam dan canting yang kaku, Nisa mengajak siswanya memanfaatkan teknologi yang paling dekat dengan mereka smartphone.

"Awalnya disesuaikan dengan pembelajaran desain motif. Anak-anak membuat desain batik menggunakan aplikasi digital Ibis Paint di HP mereka. Jadi sebelum diproduksi, mereka sudah bisa melihat simulasi hasil jadinya, 'Oh nanti kalau warnanya ini, motifnya ini, jatuhnya di baju seperti apa'," jelas Nisa antusias.

Pendekatan digital ini sukses memicu daya imajinasi siswa. Mereka saling berlomba menciptakan motif-motif baru yang terinspirasi dari hasil bumi kebanggaan Kabupaten Batang.

Jika zaman dulu batik identik dengan warna cokelat atau hitam yang terkesan tua, para siswa ini mendesain batik bernuansa cerah ala pesisiran.

"Ada anak yang bilang, 'Bu, saya pengin motifnya ada duriannya', ada juga yang mengangkat tema kopi, cengkeh, teh dari Pagilaran, hingga buah asem yang menjadi ciri khas Warungasem," tambah Nisa. 

Selain menciptakan motif baru, siswa juga diajak melestarikan pakem klasik. Mereka memadukan karya kontemporer tersebut dengan motif isen-isen lawas seperti Gringsing, Pisan Bali, hingga teknik khas Batangan seperti Tombak Abirawa dan kain Remekan (tulang retak).

Karya kain batik kreasi siswa yang dibanderol di kisaran harga Rp 350 ribu hingga Rp 400 ribu ini telah dilirik dan dikenakan oleh berbagai kalangan.

Termasuk jajaran direksi hotel berbintang di kawasan Batang dan Pekalongan. (yan/ida)

Editor : Ida Nor Layla
#SMKN I Warungasem #Gen Z ciptakan motif batik #generasi z #Kabupaten Batang